PENINGKATAN PENGHASILAN PETANI KOPI TORAJA

PENINGKATAN NILAI RANTAI DAN PENGHASILAN PETANI KOPI TORAJA

 

Toraja, 14 Oktober 2019

Aliansi Petani Indonesia (API) di dalam MTCP-AFOSP Berkerjasama Dengan RIKOLTO telah memperkuat Perkumpulan Petani Kopi Toraja (PPKT) di dalam Manajemen Koperasi, Sekolah Lapangan Budidaya Tanaman Kopi dan Pengembangan Jaringan Pemasaran Kopi Toraja “SALECCO” untuk meningkatkan rantai Nilai Kopi dan Pendapatan Petani di Toraja.

 

Tana Toraja berada di Sulawesi Slatan, sekitar 8 jam perjalanan dari Makasar, Ibu Kota Propensi, dengan transportasi darat. Tana-Toraja berada di ketinggian 350-2800 mdpl. Toraja adalah wilayah yang sangat subur, sehingga banyak tanaman kopi yang tumbuh di diwilayah ini. Toraja adalah salah satu wilayah produsen kopi sepesial yang terkenal di Indonesia.

Salah produsen kopi adalah Perkumpulan Petani Kopi Toraja (PPKT). PPKT adalah organisasi petani yang mengorganisir kelompok-kelompok tani produses kopi di Toraja. Jumlah kelompok tani yang bergabung dalam PPKT adalah 89 kelompok tani dengan total anggota 1.736 anggota, total luas lahan 1,836,8 Hectar, potensi produksi 889 ton/musim.

PPKT termotivasi bahwa kopi toraja sangat terkenal di Indonesia dan pasar luar negeri, namun harga ditingkat petani sangat rendah dibanding dengan harga kopi di pasar.  Hal ini disebabkan oleh posisi tawar petani sangat rendah karena kualitas biji kopi yang rendah, produktifitas rendah, belum terorganisirnya pemasaran.

Oleh karena itu PPKT dengan didukung oleh Aliansi Petani Indonesia (API) sebagai Induk organisasi PPKT dan RIKOLTO berusaha untuk Penguatan kelembagaan dengan pembenahan manajemen bisnis dan keuangan koperasi, pemberdayaan anggota melalaui sekolah lapangan dan pelatihan untuk meningkatkan produksi dan peningkatan kualitas kopi Toraja, peningkatan kemampuan SDM di dalam pengolahan pasca panen. Membangun Fasilitas pengolahan, berusaha untuk mengakses modal kepada lembaga keuangan.

 

Penguatan Kelembagaan Ekonomi

Sebagian besar Petani Toraja, khususnya anggota dari Perkumpulan Petani Kopi Toraja (PPKT) adalah produsen kopi dan mengantungkan hidupnya dari budidaya Kopi. Jumlah Anggota PPKT saat ini 1.736 Petani dengan rata-rata luas kebun 1.06 hektar/petani. Perhinpunan Petani Kopi Toraja menjadi aktor penting dalam Rantai Komoditas Kopi di Toraja. Dalam Pemsaran Kopi, peran PPKT sangat strategis dan sangat diperhitungkan oleh berbagai Mitra. Anggota PPKT menjual Kopi mereka melalui Koperasi kemudian di jual langsung kepada Buyer dan kafe-kafe yang diorganisir oleh Aliansi Petani Indonesia sebagai Induk Organisasi PPKT. Hal ini sangat Menguntungkan bagi anggota karena rantai pemasaran menjadi sangat pendek.

 

Saat ini PPKT mampu menyediakan pelayanan kepada 33 kelompok dari 89 kelompok yang diorgnisir. Jumlah petani yang terlibat sebanyak 671 petani. Peran perempuan sangat penting dalam membangun sistem layanan koperasi, pengolahan dan pemasaran Kopi Toraja. Dari keseluruhan anggota,  PPKT mampu memberikan pelayanan hanya menjangkau 37% dari keseluruhan anggota. Hal ini karena keterbatasan Sumberdaya yanng dimiliki oleh PPKT seperti fasilitas pengolahan, Gudang, modal kerja. Disamping itu kemampuan sumdaya Manusia untuk mendampingi kelompok-kelompok tani sangat terbatas. Hal ini akan menjadi konsen dari API dan Mitra Kerja untuk memperluas jangkauan layanan kepada seluruh anggota.

Meskipun belum mampu keseluruhan anggota di dalam pelayanan, akan tetapi PPKT telah membuktikan bahwa melalui penguatan organisasi, pendikan & pelatihan, pemasaran bersama dapat meningkatkan akses pasar yang lebih baik dan meningkatkan pendapatan petani kopi di Toraja. Oleh karena itu PPKT mendapatkan penghargaan dari Gubernur Sulawesi Selatan sebagai Koperasi Pelopor karena PPKT gerakan koperasi bagi petani yang mampu meningkatkan pendapatan petani kopi Toraja.

Penguatan Sistem Budidaya Tanaman

Tanaman kopi merupakan komoditas utama sebagian Petani di Toraja, Selaian kegiatan pariwisata kopi menjadi daya tarik ketika datang ke Toraja. Rasa dan aroma kopi Toraja sangat khas. Kopi Toraja termasuk kopi Kopi Sepesial (Specialty Coffee) dari Indonesia.

Perkebunan Kopi yang ada di Toraja sebagian besar dikelola oleh petani. 70% produksi kopi yang berkualitas dihasilkan dari perkebunan kopi petani dari Toraja Utara, 25% berasal dari Wilayah Selatan, sekitar Getengan dan Buntu,  5% dihasilkan dari wilayah bagian barat, sekitar Bittuang. Masa panen kopi di Toraja berkisar antara Bulan Mei hingga Agustus.

 

PPKT berupaya untuk meningkatkan produktifitas dan mempertahankan kualitas biji kopi toraja khususnya produksi dari anggota. Dalam Rangka membantu PPKT, Aliansi Petani Indonesia Sebagai Induk Organisasi PPKT dan RIKOLTO sebagai partner dari API dan PPKT mendukung kegiatan sekolah lapangan budidaya tanaman Kopi dan pengedalian hama, pelatihan pengolahan pasca panen, dan pelatihan pembuatan pupuk nutrisi tanaman kopi. Selain itu API berusaha melakukan advokasi kebijakan kepada pemerintah di tingkat provinsi dan Pusat untuk mendukung PPKT dalam hal fasilitas pengolahan pasca panen.

Jenis Kopi yang dibudidayakan di Toraja adalah Kopi Robusta di wilayah yang lebih rendah, dan kopi Arabika yang tumbuh di 1200 hingga 2000 mdpl. Lahan-lahan di Toraja mengadung kadar mineral dan besi yang tinggi sehingga mempengaruhi cita rasa kopi yang khas, wilayah perkebunan kopi di Toraja disekitar Hutan dengan pemandangan yang indah. Karena itu Kopi Toraja banyak diminati konsumen dunia terutama Jepang dan Amerika Serikat.

Sebagian besar Kopi Toraja dibudidayakan dengan Sistem pertanian alami (organik), atau dibudidayakan dengan penggunaan pupuk kimia yang serendah-rendahnya. Petani melakukan perawatan tanaman seperti pemaksan secara rutin terhadap cabang-cabang yang tidak produktif, melakukan pemupukan dengan Kompos atau Nutrisi pupuk Cair Alami. PPKT juga membuat Kebun pembibitan dan  percontohan sebagai kebun pembelajaran bagi anggota dari PPKT. Kebun pembibitan selain sebagai tempat pembelajaran juga dijual kepada anggota sebagai bibit yang berkualitas baik.

 

Penguatan Kemitraan dan Akses Pasar

Aliansi Petani Indonesia bersama RIKOLTO telah mendukung PPKT di dalam Penguatan kelembagaan Ekonomi, Penguatan Budidaya Tanaman Kopi, Pengolahan Pasca Panen, Pengembangan Jaringan Pemasaran. Dukungan API dan RIKOLTO sangat penting dalam sehingga memperkuat kelembagaan Organisasi Petani & Koperasi PPKT dalam hal Pelayanan kepada anggota, peningkatan produksi dan mutu Kopi serta memperluas jaringan pemasaran.

Sejak tahun 2016 hingga tahun 2018, API telah memberikan pelatihan manajemen keuangan koperasi, sekolah lapangan budidaya tanaman Kopi, mendukung pembuatan membuat kebun percontohan, Sekolah lapangan pembuatan pupuk Nutrisi tanaman, membangun kerjasama dan jaringa kedai Kopi untuk maningkatkan akses pemasaran. Saat ini kebutuhan kopi Toraja kedai-kedai kopi di Malang, Surabaya, Jogjakarta, Jakrata menjacapai 70 ton/musim, dan baru dapat dipenuhi 20 ton oleh PPKT.

Semetara itu, RIKOLTO berperan membangun rantai pemasaran kopi untuk fokus pada pasar Expor. ROKOLTO juga menbdukung kegiatan pameran-pameran kopi baik ditingkat nasional maupun Internasional.

Kopi yang diproduksi oleh anggota PPKT dipasarkan melalui Jaringan Kedai yang diorganisir oleh Aliansi Petani Indonesia, melalui MTC, PT. Tuarco Jaya, PT. Sulatco, PT. Indocom. PT. Megah Putra Sejahtera.

Dampak dan Perubahan

Dampak dari dukungan penguatan kelembagaan ekonomi/Koperasi PPKT, pemberdayaan petani dalam sistem budidaya tanaman dan pengolahan Pasca panen, dan penguatan kemitraan dan akses pasar kopi yang diberikan oleh Aliansi Petani Indonesia dan ROKOLTO antara lain:

Dampak Ekonomi, antai komoditas kopi toraja khususnya yang diproduksi oleh anggota PPKT dapat diperpendek. Hal ini dapat meningkatkan posisi tawar petani dan harga biji kopi ditingkat petani dari Rp. 35,000/kg menjadi 75.000. dengan peningkatan harga dan produktiftas tanaman kopi maka penghasilan bersih petani ditingkatkan hampir 4 kali lipat (390,46%) dari Rp 19.400,000/hektar menjadi Rp 95,150,000 hektar.

Selain peningkatan penghasilan ditingkat petani, dengan diperkuatnya PPKT maka nilai tambah kopi toraja meningkat dari Rp 75.000 menjadi Rp 120.000 ditingkat koperasi, karena pengolahan pasca panen yang lebih baik yang dilakukan oleh koperasi. Sementara total biaya pengakutan dan processing Rp 35.000/kg.

Dampak sosial, dengan diperkuatnya PPKT di dalam kelembagaan, produksi dan pemasaran berkontribusi terhadap penyediaan lapangan kerja baru bagi 40 perempuan pedesaan, untuk melakukan sortasi, grading dan packaging kopi toraja.

#Rifai

 

Read More

“Nilai Tambah Kopi Robusta Asosiasi Petani SRIDONORETNO”  

Peningkatan Nilai Tambah Kopi Robusta Asosiasi Petani “SRIDONORETNO”

 

 

Peningkatan Produktifitas, Pengolahan Pasca Panen dan Akses Pemasaran Kopi Robusta Asosiasi Petani “SRIDONORETNO” dan Koperasi SDR Makmur Bersama di Desa Srimulyo, Sukodono dan Baturetno meningkatkan Pendapatan Petani dari Rp 27.800.000/hektar menjadi Rp 42.750.000/hektar

 

Asosiasi Petani Sridonoretno bergabung dengan Aliansi Petani Indonesia sejak tahun 2014. “Sridonoretno” adalah Singkatan (Accronim) dari nama tiga desa, Srimulyo, Sukodono, Batu Retno. Kawasan perkebunan petani dari tiga desa tersebut terletak di kawasan gunung Semeru dengan ketinggian 400 – 1000 MDPL. Potensi produk di tiga desa ini adalah kopi robusta. Selain itu petani juga menanam pisang di sela-sela tanaman kopi dan menanam salak.

 

Pengambangan tanaman kopi Sridonoretno sudah ada sejak kolonial Belanda. Belanda membuka perkebunan kopi di tiga desa tersebut, karena daerah ini sangat subur dan cocok untuk tanaman kopi. Sejak indonesia merdeka tahun 17 Agustus 1945, perkebunan tersebut dikelola oleh petani dan sebagian sudah jadi Desa.

 

Tantangan yang dihadapi oleh petani di tiga desa “Sridonoretno” adalah produktifitas tanaman kopi sangat rendah, karena kontur tanah yang tinggi, maka petani kesulitas mengankut pupuk seperti Urea atau ponska. Sehingga tanaman kopi kurang perawatan.

 

Selain itu, harga kopi ditingkat petani sangat rendah Rp 19.000 – 22.000. hal ini disebabkan oleh rendahnya pengetahuan dalam pengolahan pasca panen sehingga biji kopi yang dihasilkan mutunya sangat rendah. Minimnya informasi mengenai pasar dan ketergantungan terhadap tengkulak membuat petani tidak banyak pilihan untuk menjual kepada pasar yang lebih baik. Belum adanya kelembagaan ekonomi (koperasi) petani hanya menjual panen dalam bentuk kopi curah/asalan. Permintaan kopi spesial/fine di kalangan kelas menengah sangat tinggi melalui kafe-kafe

 

Untuk menghadapi tantangan-tantangan diatas, melalui program MTCP-AFOSP,  Strategi yang dilakukan oleh Aliansi Petani Indonesia dan Asosiasi Petani Sridonoretno yaitu Penguatan kelembagaan organisasi petani, Peningkatan produktifitas dan memperbaiki sistem budidaya tanaman kopi, Memperbaiki pengolahan pasca panen untuk memperbaiki Kualitas biji kopi, membangun kerjasama dengan berbagai pihak untuk meningkatkan akses pasar biji kopi yang berkualitas.

 

Penguatan Kelembagaan Petani

 

Langkah pertama yang dilakukan oleh Aliansi Petani Indonesia (API) dan Asosiasi Sridonoretno adalah melakukan Musyawarah Anggotas dan konsolidasi tiap kelompok. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memastikan meningkatkan harga kopi robustas yang lebih baik, maka kelompok-kelompok tani  harus melakukan pengolahan pasca panen yang tepat di tiap-tiap Unit pengolahan hasil. Kelompok Tani harus membangun sistem penjaminan mutu di tiap-tiap kelompok tani serta pentingnya pemasaran melalui koperasi.

 

Proses Pengembangan Potensi usaha yang akan dikembangkan oleh Asosiasi Sridonoretno dan Koperasi  SDR Makmur Bersama adalah pengolahan biji kopi dari mulai petik merah (red cherry), diproses dengan quality control yang sesuai dengan standar. Kopi yang akan diproduksi oleh Koperasi SDR Makmur Bersama akan dipasarkan dalam bentuk Green Bean, roasted beans (biji sangrai) dan bubuk kopi yang dikemas siap konsumsi.

 

Saat ini Asosiasi Petani “Sridonoretno” dan Koperasi “SDR” melayani 500 rumah tangga petani kopi sebagai produsen kopi, diorganisir dalam 18 kelompok tani dengan potensi panen mencapai sebanyak 600 ton/tahun. Dari jumlah tersebut, baru sebanyak 250-an keluarga petani kopi yang sudah menjalankan sistem petik merah. Hasilnya mencapai 10-25 ton/tahun. Sementara, permintaan dari jaringan kedai kopi mencapai sebesar 50 ton/tahun.

 

Peningkatan produksifitas

 

Peningkatan produktifitas dan memperbaiki sistem budidaya tanaman kopi sangat dibutuhkan oleh petani kopi sebagai anggota dari Asosiasi Petani Sridonoretno. Aliansi Petani Indonesia dan Asosiasi Petani Sridonoretno mengorganisir sekolah lapangan budidaya tanaman kopi dan pengendalaian hama terpadu untuk meningkatkan produktifitas tersebut. Topik pembelajaran yang diperkenalkan dalam sekolah lapangan itu adalah tehnik peremajaan tanaman kopi dengan sambung samping (side grafting), Pemankasan, tumpang sari, pembuatan nutrisi pupuk cair dan penerapannya dalam tanaman kopi.

 

API dan Asosiasi Petani Sridonoretno melakukan Sekolah lapang dimulai pada tahun 2016 samapi dengan tahun 2017. Sampai sekarang ada 18 kelompok tani, 500 petani mendapatkan pembelajaran dari sekolah lapangan. Dengan sekolah lapangan ini,  Asosiasi Petani Sridonoretno (SDR) dapat memperbaiki sistem budi daya tanaman kopi sehingga produktifitasnya meningkat. Penghasilan petani meningkat 53.78% dari Rp 27.800.000 per hectar per tahun menjadi Rp 42.750.000.

 

Peningkatan Kualitas Biji Kopi

 

Buah kopi (kopi cerry) harus segera diolah dengan proses tepat untuk menjaga kulitas sehingga aman untuk disimpan dalam jangka waktu tertentu. Kriteria mutu biji kopi yang meliputi aspek fisik, kadar air, kebersihan, keseragaman sehingga menghasilkan citarasa kopi yang nikmat untuk konsumen. Kebersihan, keseragaman dan konsistensi dalam proses pengolahan sangat ditentukan oleh perlakuan pada setiap tahapan proses produksinya. Oleh karena itu, tahapan proses dan spesifikasi peralatan pengolahan kopi akan menjamin kepastian mutu dari kopi yang dihasilkan.

 

Pada tahun 2017, Aliansi Petani Indonesia dan Asosiasi Petani Sridonoretno telah mengorganisir pelatihan 18 kelompok tani dan 8 UPH mengenai proses pengolahan kopi yang berkualitas. Kegiatan ini ditujukan untuk meningkan mutu biji kopi yang diproduksi oleh anggota Asosiasi Petani Sridonoretno dan Koperasi SDR Makmur Bersama. Ada 9 tahapan proses untuk mengolah biji kopi merah menjadi kopi robusta fine

 

Asoasiasi Petani Sridonoretno dan Koperasi berusaha menyediakan biji yang bermutu tinggi. Saat ini koperasi sudah mengorganisir 8 Unit Pengelolahan Hasil (UPH) yang berperan melakukan pemrosesan/pengolahan kopi dan melakukan kontrol kualitas. Dengan pengolahan pasca panen dan peningkatan mutu biji kopi, maka hara biji kopi ditingkat petani meningkat 77.27% dari Rp. 22.000/kg menjadi 39.000/kg. Sementara harga jual biji kopi di tingkat koperasi Rp 43.000/kg

 

Membangun Kemitraan dengan Kedai Kopi dan Pemerintah

 

Proses membangun kemitraan dalam rangka meningkatkan akses pasar Aliansi Petani, Asosiasi Petani Sridonoretno dan Koperasi SDR makmur Bersama melakukan mapping kebutuhan kedai, dan membangun multistake holders platform untuk mempromosikan kopi yang diproduksi oleh Asosiasi Petani Sridonoretno dan Diproses oleh Koperasi SDR Makmur Bersama dengan Brain Kopi SDR. API juga menfasilitasi Koperasi mempromosikan kopi SDR melalui kegiatan pameran, seminar dan pertemuan-pertemuan petani dengan pelaku pasar di berbagai kegiatan yang diikuti oleh API, regional, nasional maupun internasional, seperti Indonesia produk exebition dan indonesia coffee week.

 

Sampai Saat ini Koperasi SDR mensupply 280 kedai kopi di Malang Raya dan Surabaya, juga sebagian didistribusikan di kedai-kedai kopi di Jakarta dan Jogja. Jumlah permintaan biji kopi robustas SDR mencapai 50 ton/tahun. sementara yang dapat dipenuhi oleh Koperasi SDR hanya 25 ton/th. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan fasilitas pengolahan kopi terutama adalah rumah jemur dan gudang penyimpanan.

 

Koperasi SDR harus meningkatkan kapasitas pengolahan biji kopi merah dan memenui permintaan dan pangsa pasar yang ada. Oleh karena itu API menfasilitasi kerjasama dengan BUM-Desa Raharja (Badan Usaha Milik Desa Raharja) Desa Sukodono melalui program PIID PEL (Pilot Inkubasi Inovasi Desa Pengembangan Ekonomi Lokal) Kementerian Desa.

 

Dengan kerjasama antara Koperasi dan BUM-Desa Raharja, Kementerian Desa mendukung Rp 1.500.000.000 kepada BUM-Desa Raharja sebagai asset BUM-Desa untuk pengadaan fasilitas pengolahan seperti  rumah jemur, Gudang, modal Kerja dan Inkubasi sperti pelatihan dan pendampingan dimana koperai dapat menggunakan fasilitas tersebut. Dalam program ini API berperan sebagai Inkubator dan menyediakan peningkatan kapasitas SDM Koperasi dan BUM-Desa Raharja.

 

Dampak Sosial, Ekonomi

 

Dampat ekonomi yang dihasilkan dari Peningkatan Nilai Tambah Kopi Robusta Asosiasi Petani “SRIDONORETNO” selama 2015 hingga 2019 adalah peningkatan produksi kopi yang berkulaitas dari 0 menjadi 50 ton/tahun. Peningkatan pendapatan petani dari Rp 27.800.000 per hektar/pertahun  menjadi Rp 42.750.000 per hektar/pertahun. Peningkatan total omset penjualan Rp 1.100.000.000/ pertahun menjadi Rp 2.150.000.000/tahun dari efek peningkatan nilai tambah karena mutu biji kopi yang lebih baik

 

Dampak sosial yang dihasilkan dari layanan Aliansi Petani Indonesia dan dukungan daeri berbagai pihak termasuk pemerintah adalah menyediakan 1300 harian orang kerja per tahun, melibatkan 20 perempuan dalam proses pengolahan pasca panen per musim, jumlah petani yang profesional meningkat dari 125 orang menjadi 425 petani karena efek dari pengetahuan petani yang meningkat.

 

Read More

MELATIH KEWIRAUSAHAAN UNTUK PETANI MUDA

Doc: Taufik Hidayat

 

 

 

MTCP II – AFOSP INDONESIA

MELATIH KEWIRAUSAHAAN UNTUK PETANI MUDA

 

 

Payakumbuh 24 Oktober 2019

 

Membangun kepeloporan Petani Muda (Laki-laki/Perempuan) di dalam kewirausahaan untuk  koperasi yang dipimpin oleh Petani di Pedesaan

 

Aliansi Petani Indonesia (API) dan Organisasi Petani, Serikat Petani Indonesia (SPI), Serikat Nelayan Indonesia (SNI), WMTI dan IPPHTI yang berkolaborasi dalam Platform MTCP-AFOSP menyediakan pelatihan kewirausahaan bagi petani muda yang tinggal di daerah pedesaan. Melalui pelatihan ini, para petani muda diharapkan mengenali potensi sumber daya pertanian yang tersedia di sekitar mereka, selanjutnya mereka bersama-sama organisasi petani mengembangkan layanan koperasi yang profesional, menguntungkan dan berkelanjutan

 

Kegiatan pertanian yang dilakukan oleh sebagian besar petani di daerah pedesaan hanya mengandalkan budidaya (on-farm). Banyak petani kecil yang bekerja di pertanian hanya fokus pada budidaya. Mereka memiliki akses ke tanah yang sangat terbatas. Oleh karena itu, bagian penting dari proses kegiatan pertanian harus meningkat atau setidaknya menambah nilai bagi pendapatan petani yang dimanfaatkan oleh pihak lain, seperti layanan pasokan input, pengolahan pasca panen dan pemasaran.

 

Banyak nilai manfaat ekonomi dalam proses kegiatan pertanian dapat dimanfaatkan oleh organisasi petani atau koperasi pertanian. Ini akan meningkatkan nilai tambah dan rantai nilai komoditas yang dibudidayakan oleh petani kecil di daerah pedesaan. Menyediakan layanan pasokan input produksi seperti pupuk, nutrisi tanaman adalah komponen yang memiliki proporsi 30% dari total biaya kegiatan pertanian.

 

Sementara dalam pengolahan pasca panen dan pemasaran memainkan peran penting dalam kegiatan produksi pertanian. Sektornya ini memberikan manfaat ekonomi 50% dari semua kegiatan pertanian. Dalam arti, sektor budidaya hanya menyediakan 20% dari semua nilai ekonomi dari kegiatan pertanian. Namun, sebagian besar petani kecil hanya memperhatikan kegiatan budidaya. Oleh karena itu, manfaat ekonomi di luar pertanian adalah lebih dimanfaatkan oleh pihak lain seperti tengkulak/perantara, pedagang, dan perusahaan pengolahan.

 

Namun, penggunaan nilai ekonomi di sektor pertanian didasarkan pada kemampuan kerja sama antara petani yang lebih kuat dan terarah. Pengembangan sistem kewirausahaan pertanian memiliki kegunaan yang lebih tinggi dan memiliki dampak positif pada peningkatan kesejahteraan petani dan pelaku usaha pertanian di daerah pedesaan. Produksi produk pertanian yang sangat kompetitif akan memiliki manfaat ekonomi bagi petani yang dilihat sebagai interaksi sinergis yang dibangun dalam ekonomi pertanian. Dalam posisi ini keberadaan petani muda dalam koperasi pertanian / kewirausahaan sangat penting.

 

Doc: Taufik Hidayat

 

 

Struktur organisasi ekonomi masyarakat pedesaan selama ini adalah sangat rapuh. Ini tercermin dalam posisi pelaku ekonomi pedesaan yang tidak “memiliki” kekuatan yang cukup untuk melakukan posisi tawar dengan pelaku ekonomi di luar desa. Lemahnya posisi tawar tersebut disebabkan oleh banyak faktor, termasuk kelemahan dalam pengorganisasian kelompok tani, penguasaan modal usaha, saling ketergantungan yang sangat timpang antara pelaku ekonomi pedesaan dan dari luar.

 

Peningkatan produktivitas budidaya pertanian tidak lagi menjadi jaminan bahwa hal itu akan memberikan keuntungan bagi petani tanpa kesetaraan pendapatan antara petani yang terlibat dalam sub-sektor buidaya pertanian dengan sub-sektor hulu dan hilir. Petani pemilik perkebunan kecil akan kesulitan menjual hasil panen mereka karena mereka tidak memiliki kekuatan dalam sistem pemasaran. Petani kecil biasanya menggunakan sistem penjualan hasil panen. Dengan sistem ini sebanyak 40% dari penjualan hasil panen petani menjadi milik tengkulak. Dampaknya pertumbuhan ekonomi pedesaan hanya bergantung pada hasil budidaya. Sementara itu, upaya untuk meningkatkan nilai tambah belum mendapat perhatian petani..

 

Peningkatan posisi tawar petani akan meningkatkan akses masyarakat pedesaan dalam kegiatan ekonomi yang adil, sehingga bentuk kesenjangan dan kerugian yang dialami oleh para petani dapat dihindarkan. Problem mendasarnya adalah lemahnya posisi tawar (market power) petani sehingga lemah dalam negosiasi harga hasil produksinya. Lemahnya  posisi tawar petani  disebabka oleh  kelembagaan ekonomi yang belum kuat, keberlanjutan dalam pasokan dan kualitas, informasi dan akses pasar, serta akses permodalan.

 

Kesetaraan pendapatan akan dicapai dengan meningkatkan posisi tawar petani. Hal ini dapat dilakukan jika petani terorganisir dengan baik dalam suatu lembaga ekonomi/Koperasi yang  betul-betul dibangun sesuai dengan kebutuhan dan rencana usaha yang terukur. Penguatan petani harus lebih tertuju pada upaya membangun kelembagaan ekonomi yang kuat dan inklusif serta didukung dengan sumberdaya yang profesional.

 

Beberapa faktor penting yang harus diperhatikan dalam membangun kelembagaan Ekonomi (Koperasi) yang dipimpin oleh petani adalah Mengenali Potensi dan kebutuhan petani, Sumberdaya profesional, rencana usaha, Partner, akses pasar dan permodalan. Tidak kalah penting adalah pendidikan untuk anggota, pemuda tani dan perempuan. Kunci keberhasilan dalam kelembagaan Usaha (koperasi) yang dipimpin oleh petani tidak hanya pada beberapa faktor tersebut. Namun, perubahan mainset dari petani dan pemuda petani dalam memandang potensi dan memanfaatkan peluang yang ada.

 

Kepeloporan (Pioneering) dari  petani muda dari lima organisasi Petani dilatih untuk mendapatkan pengetahuan tentang Kewirausahaan di dalam koperasi yang dipimpin petani harus berfungsi. Mereka akan termotivasi untuk menjadi bagian dari tantangan baru untuk menjadi organisasi petani pertama di Indonesia dalam mendirikan koperasi yang dipimpin petani yang dikelola secara profesional.

 

Selama Pelatihan, para petani muda dilatih mengenai (1) Pengembangan  inisiatif organisasi/koperasi mengelola nilai guna ekonomi berbasis pertanian, (2) mengembangkan Ide-ide Bisnis Koperasi petanian, (3) mengenali kekuatan Pasar (market Power) Berdasarkan Potensi usaha pertanian, (4) Mata rantai pertanian (value chain) dan biaya tiap rantai (cost of benefit), (5) Mengembangkan peluang pasar dan kerjasama antar kelompok Tani/Organisasi (horizontal clustering), (6) Mengembangkan Kanvas Bisnis Model untuk mengembangankan rencana Bisnis.

#Rifai

Read More

Peringatan Hari Tani Nasional (HTN) 2019

Siaran Pers Komite Nasional Pembaruan Agraria (KNPA)

Tentang

Peringatan Hari Tani Nasional (HTN) 2019

Jakarta, 22 September 2019
Hingga akhir periode pemerintahan 2014-2019, realisasi Reforma Agraria tidak berhasil dijalankan. Hak-hak
petani atas tanah masih diabaikan. Janji redistribusi tanah 9 juta hektar, penyelesaian konflik agraria dan
perbaikan ekonomi serta produksi petani dalam kerangka RA tak kunjung diterima petani. Bahkan yang paling
mengecewakan, agenda RA yang diperjuangkan 59 tahun oleh petani dan gerakan reforma agraria telah
diselewengkan oleh pemerintah. Meski masukan dan kritik telah berulangkali disampaikan dan diingatkan dalam
5 tahun terakhir ini, Pemerintah tetap mempertontonkan kekeliruan RA tersebut kepada masyarakat luas. Lima
tahun membiarkan krisis agraria yang dialami kaum tani Indonesia tidak diatasi secara serius.
Di banyak tempat tanah-tanah petani, wilayah adat adat, kampung nelayan, tanah garapan buruh tani, dan rakyat
miskin lainnya diambil alih secara paksa, secara sepihak oleh pemerintah, dan oleh perusahaan yang juga
dilegitimasi oleh keputusan pemerintah. Bahkan tetap menggunakan cara-cara lama, melibatkan tentara dan
polisi untuk merepresi dan menggusur tanah masyarakat dengan mengatasnamakan pembangunan dan/atau
proyek strategis nasional.

Di tengah situasi krisis agraria saat ini Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) mempertontonan “kejar
setoran” untuk mengesahkan sejumlah undang-undang (UU) yang anti-rakyat. Seolah belum genap penderitaan
petani dan rakyat kecil, masih harus ditambah dengan pembahasan Rancangan Undang-Undang (RUU)
Pertanahan. Berbulan-bulan kami bersama serikat-serikat petani dan organisasi masyarakat adat telah
menyampaikan masukan dan usulan pembatalan rencana pengesahan RUU Pertanahan. Bukan RUU yang
memastikan RA berjalan sesuai harapan rakyat sehingga pemenuhan hak rakyat atas tanah dapat terwujud.
Justru RUU Pertanahan mengatur cara Negara mengamputasi hak konstitusi agraria petani dan setiap warga
negara Indonesia.

Tontonan kejar target RUU dan atau revisi UU yang anti rakyat juga dilakukan melalui UU MD3, UU KPK, UU SDA.
Beberapa hari ke depan DPR akan mengesahkan RUU KUHP, RUU Perkoperasian, RUU Sistem Budidaya
Pertanian Berkelanjutan dan revisi UU Ketenagakerjaan dimana RUU dan revisi UU tersebut sama sekali tidak
memberikan keadilan untuk rakyat.

Dalam momentum Peringatan Hari Tani Nasional 2019 (HTN 2019), yang akan jatuh pada Hari Selasa, 24
September 2019, kami dari 76 organisasi masyarakat masyarakat sipil yang tergabung dalam Komite Nasional
Pembaruan Agraria (KNPA), terdiri dari organisasi petani, organisasi masyarakat adat, organisasi nelayan,
organisasi buruh, organisasi perempuan, dan NGO mengajak kepada masyarakat Indonesia agar turut bergabung
dalam Peringatan HTN 2019 yang akan dipusatkan di Jakarta dan di berbagai provinsi serta kabupaten.
Ribuan massa petani dari Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, dan perwakilan petani dari Bali, Jambi, Sumatera
Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Selatan akan melakukan aksi peringatan HTN 2019 di Jakarta. Petani akan
menyampaikan aspirasinya, sekaligus menagih janji pemerintah di dua titik, yakni Istana Negara dan Gedung
MPR-DPR RI.

Selain puncak peringatan HTN di Jakarta, puluhan ribu petani bersama organisasi taninya dan jaringan
masyarakat sipil lainnya juga akan memperingati HTN pada 23-24 September 2019. KNPA akan melakukan
peringatan HTN 2019 di sejumlah daerah, yaitu Aceh, Sumatera Barat, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bengkulu,
Jawa barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Sulawesi Selatan, Sulawaesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Nusa
Tenggara Barat, Kalimantan Tengah.

Setidaknya ada 5 masalah pokok petani hari ini, yang akan disampaikan dan digugat kepada Pemerintah (dalam
hal ini Presiden RI) dan DPR RI (dalam hal ini Ketua MPR dan DPR RI): (1) Macetnya pelaksanaan reforma agraria
yang telah dimandatkan Konstitusi, TAP MPR No. IX/2001, UUPA 1960, termasuk Evaluasi Satu Tahun Perpres
Reforma Agraria; (2) Pengabaikan penyelesaikan konflik agraria struktural di semua sektor; (3) Perampasan
tanah, penggusuran serta kriminalisasi yang masih dialami petani; (4) RUU Pertanahan yang berwatak liberal,
sehingga tidak berpihak kepada petani, bahkan membahayakan petani dan rakyat kecil lainnya, termasuk
masalah RUU dan revisi UU lainnya yang anti rakyat; (5) Kebijakan ekonomi, pertanian dan peraturan hukum
yang pro-korporasi dan menyengsarakan rakyat.

Demikian Siaran Pers HTN 2019 ini kami sampaikan. Kami mengundang rekan-rekan jurnalis dan media masa
untuk bergabung dan meliput Peringatan HTN tahun ini. Selain itu juga mengajak kepada gerakan sosial lainnya,
organisasi masyarakat sipil, masyarakat luas, dan kawan-kawan semua yang mendukung perjuangan petani
untuk bergabung pada peringatan HTN 2019. Mari kita ingatkan janji reforma agraria dan memastikan
pembatalan pengesahan RUU Pertanahan karena akan merugikan petani, masyarakat adat, perempuan, dan
seluruh masyarakat Indonesia.

Hormat kami

Komite Nasional Pembaruan Agraria
Dewi Kartika
Koordinator Umum HTN 2019

Read More