Bendung Gerak Sembayat Senilai Rp 800 Miliar Segera Dibangun

Selasa, 30 Maret 2010 | 18:03 WIB

TEMPO Interaktif, Lamongan – Pemerintah akan membangun Bendung Gerak Sembayat atau New Sembayat Barrage besar anggaran sekitar Rp 800 miliar. Kepastian pembangunan waduk di aliran Bengawan Solo, antara Lamongan dan Gresik ini, dikatakan Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto.

“Sudah disetujui pembangunannya,” tegas Djoko saat meninjau Bendung Babat, di Kecamatan Babat, Lamongan, Selasa (30/3) siang.

Hasil kajian Departemen Pekerjaan Umum menyebutkan bendungan ini dianggap penting untuk cepat dibangun untuk mengantisipasi pengaturan air jika banjir datang. Program Bendung Sembayat ini sudah dirancang Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. Selanjutnya, Pemerintah berupaya mencarikan anggaran ke Luar Negeri.

Kedatangan Djoko Kirmanto, selain mengunjungi Bendung Babat, juga melihat kondisi flood way Pelangwot di Kecamatan Laren, Lamongan. Dalam kunjungannya, Djoko disampingi Dirjen Penataan Ruang Departemen Pekerjaan Umum Imam S Ernawi dan Kepala Balai Besar Wilyah Sungai Bengawan Solo Graita Sutadi, juga Bupati Lamongan Masfuk.

Menurut Djoko, setelah Babat Barrage selesai dibangun 2004 lalu, intrusi laut bisa dicegah di wilayah up stream seperti Bojonegoro. Sementara solusi untuk mencegah intrusi di wilayah down stream seperti Lamongan nantinya bisa teratasi dengan New Sembayat Barrage. Jalur Bengawan Solo, akan ditata lewat sejumlah bendungan.

Sedangkan untuk proyek pengerukan lumpur di flood way Pelangwot dan pembangunan Rawa Jabung Ring Daek. Dari pengerukan, sudah terangkat sekitar 1,4 juta meter kubik. Pengerukan ini, mampu mengurangi potensi banjir. Setidaknya banjir yang terjadi di Bojonegoro tahun 2010 ini tidak berlangsung lama karena air Sungai Bengawan Solo cepat dibuang ke laut melalui sudetan Pelangwot.

Djoko mengatakan, sejumlah proyek di sepanjang Sungai Bengawan Solo mulai dikerjakan. Seperti pembangunan Bojonegoro Barrage di Kecamatan Trucuk, dan pembangunan Rawa Jabung Ring Daek yang segera dimulai, serta pembangunan tanggul Kanor, Bojonegoro.

Pemerintah Lamongan sendiri telah menyelesaikan proses pembebasan lahan untuk proyek Rawa Jabung sekitar 30 hektare.

Bupati Lamongan Masfuk menyatakan jatah Lamongan untuk membebaskan lahan seluas 10 hektare guna pembangunan New Sembayat Barrage sudah dimulai. Sedangkan sisanya sekitar 64 hektere menjadi jatah Pemerintah Kabupaten Gresik untuk dibebaskan. “Jika New Sembayat Barrage ini terealisasi akan tersedia tandon air sepanjang sekitar 67 kilometer,” ujarnya.

Dengan demikian, petani Lamongan yang produksi padinya masuk andalan Jawa Timur bisa panen hinga tiga kali setahun. Selain itu, kebutuhan air untuk industri baik di Gresik maupun Lamongan akan tercukupi dari tandon air Sungai Bengawan Solo.

SUJATMIKO

Read More

Proyek Waduk Kresek, Warga Tuntut Rp 1,5 Juta

Warga menuntut harga lebih tinggi dari harga pasaran meski untuk proyek kepentingan umum

Kamis, 3 Desember 2009, 09:02 WIB
Jufri

SURABAYA POST – Warga terdampak pembangunan Waduk Kresek sudah mematok ganti rugi atas pemanfaatan tanah sebesar Rp 1,5 juta per meter persegi. Besarnya nilai ganti rugi sebesar itu belum termasuk biaya boyongan rumah ke lahan relokasi dan ganti rugi tanaman di lahan pertanian maupun di pekarangan.

Sejumlah warga menyebutkan sepakat mengajukan ganti rugi tiga kali lipat dari harga pasaran di wilayah itu. “ Di sini harga pasaran Rp 500 ribu, dan kami sepakat meminta ganti rugi tiga kali lipat, yakni Rp 1,5 juta per meter,” kata Juwari, warga RT 19 Desa Kresek.

Tuntutan ganti rugi itu dianggap sepadan. Karena dengan adanya pembangunan waduk itu, meraka merasa menjadi korban, karena dengan dibelinya lahan pertanian mereka akan memupuskan mata pencaharian sehari-hari.

Kabag Humas Pemkab Madiun, Drs Mardi’i MP, tak mau gegabah menanggapi tuntutan warga itu. “Saya belum bisa berkomentar, karena sekarang masih dalam tahap studi awal meliputi studi dampak sosial dan dampak lingkungan atau Amdal. Sehingga belum sampai membahas soal berapa besarnya ganti rugi,” terang Mardi’i.

Waduk Kresek yang akan dibangun itu memiliki kapasitas dan Daerah Irigasi (DI) jauh lebih besar dibandingkan Waduk Kedungbrubus di Desa Bulu, Kec. Pilangkenceng, yang proses relokasinya sempat ruwet, dan hingga kini sertifikat tanah relokasi belum tuntas.

Waduk Kresek di lereng Gunung Wilis itu diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan air irigasi seluas 7.736 ha. Selain itu juga mencukupi kebutuhan air untuk 3 industri (3 Pabrik Gula), menambah debit PDAM, pengendali banjir, pariwisata dan untuk meningkatkan kebutuhan operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Giringan dan Golang.

Laporan : Siswowidodo
• VIVAnews

Read More