Pelatihan Pemuliaan Tanaman Jagung dan Pembuatan Pakan Ternak


Bertempat di salah satu rumah anggota Kelompok Tani Maju Pamongan, Desa Pamongan, Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri diselenggarakan serangkaian acara pendidikan pemuliaan tanaman jagung dan pembuatan pakan ternak serta ditutup dengan Rapat Pimpinan Dewatn Tani API wilayah Jawa Timur pada tanggal 20-23 Desember 2008.

Desa Pamongan merupakan kawasan desa hutan dimana pola wana tani yang dikembangkan oleh petani dengan sistem hutan sosial. Disamping tegakan pohon, budidaya pertanian kawasan hutan ditanami tanaman pangan seperti padi darat (gogoh ranca) tanaman jagung lokal dan hibrida serta pemeliharaan hewan ternak potong besar seperti sapi jenis peranakan ongole (PO) dan kambing jawa.

Untuk meningkatkan ketrampilan dan pengetahuan tehnologi pertanian dan peternakan, API Jatim menyelenggarakan serangkaian pendidikan yang bersifat aplikatif ketrampilan berupa pengolahan limbah pertanian untuk dijadikan pakan ternak dan mengembangkan benih jagung bermutu diselenggarakan pula pendidikan pemuliaan tanaman jagung (penyilangan jagung).

Pakan Ternak Kambing
Proses pendidikan difasilitasi oleh Sugiono, seorang organizer dari Kelompok Kajian dan Pengembangan Masyarakat (KKPM 193) dan memiliki kapasitas sebagai seorang praktikan di bidang pertanian organik. Peserta pendidikan sangat antusias mendengar pemaparan dari Sugiono yang menjelaskan ruang lingkup pakan lengkap (complete feed). Menurutnya, pakan lengkap adalah ransum pakan campuran yang dibuat dari berbagai bahan pakan yang disesuaikan dengan kebutuhan nutrisi ternak. Adapun bahan-bahan pakan tersebut yang biasa dipakai adalah; Pertama, Sumber Serat Kasar, seperti kulit kedelai (titen), tongkol jagung (jangle), pucuk tebu dan jerami padi. Kedua, Sumber energi, seperti dedak padi/katul, ampas tapioka atau gamblong, tetes tebu atau molases, dedak jagung atau empok, Ketiga Sumber Protein, seperti bungkil kopra, bungkil sawit, bungkil klenteng, kulit kopi, kulit kakao/cokelat, tepung ikan dan tepung bekicot, Keempat, Sumber Mineral, Kelima, Ure, tepung tulang, cangkang telur, Kalsium dan garam dapur.

Menurutnya, kelebihan pakan lengkap adalah susunan kandungan nutrisi pakan seimbang dan sesuai dengan kebutuhan nutrisi pada ternak, hemat tenaga kerja ( 1 orang bisa menangani 100 ekor ternak), mudah dipraktekkan karena bahan-bahan tersedia dilingkungan sekitar, waktu penggemukan relatif pendek yakni 3-4 bulan (kasus penggemukan), pertumbuhan bodon badan harian ternak mencapai 150-200 gr/hari atau 6 Kg per bulan, harga relatif murah karena bahan bisa diambil dari limbah pertanian atau peternakan, penyimpanan lebih udah dan dikemas sehingga lebih praktis.

Resep Bapak Ronto, Peternak Kambing Etawa
Lebih lanjut, sugiono menjelaskan alur proses kimiawi cara pembuatan pakan dan menjelaskan arti bakteri dalam bahasa lokal dan mengapa bakteri sangat dibutuhkan dalam proses penguaraian enzimatis pembuatan pakan. Dikarenakan terlalu teknis kimia, Sugiona memberikan pengalaman dari seorang peternak kambing di wilayah perkebunan kopi Malang selatan, bagaimana memanfaatkan limbah kopi untuk dijadikan pakan kambing.

Untuk 10 ekor kambing bahan-bahan yang diperlukan kulit kopi sebanyak 8 rantang, dedak 1 rantang, tetes tebu 0,5 liter dan air secukupnya. Disediakan pula ember untuk tempat mencampur pakan, ember kecil atau baki tempat pakan dan rantang atau mangkuk. Proses pembuatannya, larutkan 0,5 liter tetes tebu dengan air 1 ember (kira-kira 7 liter) dan masukkan dedak dan kulit kopi kedalam ember. Masukkan larutan tetes tebu yang berisi kulit kopi dan dedak, aduk sampai rata. Berikan langsung pakan yang sudah tercampur kepada kambing dengan wadah baki kecil.

Untuk resep ke-dua, bahan terdiri dari gamblong sebanyak 10-12 kg, kulit kopi 2 kg, tetes tebu 0,5 liter dan air secukupnya 5-7 liter. Cara pembuatan seperti pada resep pertama.

Untuk menambah pengetahuan peserta, juga diberikan proses pembuatan pakan dengan ramuan metode natural farming ala Dr. Choo (dari Korea Selatan).
Resep Pertama, Bahan terdiri dari Suun 5 kg, ampas singkong atau ampas tahu 1kg, nutrisi ikan 1 cc, nutrisi jahe 1cc, nutrisi temulawak 1 cc, nutrisi bawang putih 1cc, mikroba II dan air 1 liter.

Cara pembuatan : bahan-bahan diatas dicampur jadi satu, nutrisi dilarutkan dengan air 1 liter, basahi adonan tersebut hingga rata, biarkan selama 3-7 hari. Setelah jadi pakan, tambahkan suun dan rumput segar yang sudah dicacah.

Setelah peserta memahami dengan seksama dan disertai berbagi pengalaman antar petani dari berbagai 9 wilayah di Jawa Timur dilanjutkan dengan praktek. Meski diguyur hujan rintik-rintik peserta antusias membuat pakan ternak dan untuk kemudian hari akan dilanjutkan dan diterapkan ditempat organisasinya masing-masing (dhink/API-link)

Read More

Pelatihan Advokasi Nasional untuk Petani

Bila dibedakan sedikitnya terdapat dua type situasi yang dihadapi organisasi-organisai petani anggota Aliansi Petani Indonesia (API). Pertama, type organisasi petani berbasis konflik dan Kedua, type organisasi berbasis produksi (non-konflik). Type pertama mengacu pada keadaan dimana petani secara umum atau organisasi petani secara spesifik mengalami persoalan menyangkut klaim pemilikan lahan serta persinggungannya dengan pihak-pihak yang terkait dengan kepemilikan tersebut, baik institusi negara maupun swasta, dalam hal ini perusahaan. Sedangkan type kedua adalah petani atau organisasi petani tanpa basis konflik yang berupaya mengembangkan produksi pertaniannya untuk mendapatkan surplus ekonomi untuk perbaikan nasibnya.

Keadaan yang dihadapi oleh type kedua ini lebih banyak berhubungan dengan matarantai produksi, dimana para petani selain mengalami berbagai kesulitan dalam regulasi politik, ekonomi dan hukum seperti persoalan harga pupuk, hak paten dan modal produksi, mereka juga masih dihadapkan pada persoalan market, dimana rantai distribusi hasil produksi tidak semata-mata berada dalam kendali pemerintah, namun justru banyak dikuasai oleh sektor swasta. Dari sinilah lantas terjadi yang dinamakan monopoli dan oligopoli yang secara signifikan lantas menjerembabkan petani dalam situasi-situasi yang selalu rentan dan bahkan melulu merugi.

Situasi dari dua type tersebut diatas telah lama menjadi catatan dengan garis tebal yang menjadi agenda kerja Seknas Aliansi Petani Indonesia. Selain menyelenggarakan berbagai advokasi langsung di basis-basis petani – terutama petani dengan basis konflik – berbagai pelatihan, baik untuk tujuan Adovokasi itu sendiri maupun pelatihan-pelatihan untuk petani berbasis prosuksi digelar di berbagai tempat di basis-basis organisasi petani anggota API. Dan untuk semakin mempertegas komitmen dan kesatuan tujuan perjuangan petani, beberapa waktu lalu (6-11 November 2008) diselenggarakan pelatihan advokasi petani yang dihadiri perwakilan perwakilan organisasi petani anggota API di seluruh Indonesia meliputi Jawa, Bali, Sumatra dan NTT.

Pelatihan yang diselenggarakan di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) tersebut bertujuan selain untuk memberi perbekalan kognitif, affektif dan psikomotorik dalam hal advokasi, juga diharapkan dapat semakin mempertinggi nilai kebersamaan dalam visi perjuangan dan solidaritas.

Pembukaan dimulai dengan pengantar lagu Indonesia Raya stanza III yang dinyanyikan dengan penuh khidmad oleh seluruh hadirin. Setelah beberapa sambutan dan doa bersama tiga agama (Islam, Katholik dan Hindu) acara kemudian dilanjutkan dengan pengantar teknologi tepat guna oleh seorang pengusaha dan praktisi, Bpk. Jhoni dari PT. Dian Niaga. Selanjutnya rangkaian acara pelatihan advokasi dengan pendekatan Analisa Sosial dan pemetaan kekuatan (swot) banyak di isi dengan brain storming (curah pendapat) dan role play.

Rangkaian materi yang difasilitasi Bpk. Farid Adhikoro, praktisi hukum, ini memang sengaja diterapkan untuk berusaha menganalisa langsung relasi-relasi masalah yang sedang secara riil dihadapi petani dengan berbagai pendekatan teoritik melalui metode partisipatif. Dengan demikian out put yang diharapkan bukan saja mengacu pada besaran pengetahuan namun lebih pada bagaimana peserta dapat “terlibat” dalam keseluruhan isi materi.

Irama pelatihan menjadi tampak semakin dinamis dan bersemangat ketika masing masing peserta terlibat dalam sharing pengalaman dan dinamika kelompok. Pelatihan yang berlangsung runtut selama lima hari berturut-turut itu ditutup dengan hearing bersama dua instansi pemerintah pusat, yakni Badan Pertanahan nasional – BPN – (menyangkut issu-issu agraria dan aduan kasus para petani) serta Departemen Pertanian -Deptan – (untuk issue PVT dan hak paten terkait kasus benih jagung kediri ditambah beberapa kasus lain lain-lain). [Dzi]

Read More