Rehabilitasi Kakao dan Peningkatan Akses Pasar di Jembrana, Bali

Aliansi Petani Indonesia dan Sekha Tani Jembrana Telah Merehabilitasi  350 hectar Tanaman kakao dan memperkuat Koperasi Petani Alam Lestari untuk memperbaiki Rantai Nilai dan Akses Pasar di Jembrana, Bali.

Sejak tahun 2011 hingga 2015, produktifitas tanaman kakao di jembrana produktif sangat rendah. rendahnya produktifitas tanaman kakao disebabkan oleh usia tanaman yang sudah tua dan serangan hama seperti Pengerek Buah, Vusarium dan jamur Buah. Akibatnya banyak anggota Sekha Tani jembrana tidak merawat tanamannya dan beralih kepada tanaman lain. Padahal, tanaman cokelat adalah penghasilan utamanya.

Melalui musyawarah dan konsolidasi anggota Sekha Tani Jembrana diidentifikasi bahwa penyebab rendahnya produktifitas kakao di jembarana karena umur tanaman kakao sudah Tua dan serangan berbagai penyakit. Untuk meningkatkan produktifitas kakao harus dilakukan peremajaan. Namun, untuk melakukan penanaman kembali (re-planting), membutuhkan biaya yang besar buat petani kecil dan membutuhkan waktu 5 tahun petani dapat memulai panen. Dalam konsolidasi ini Aliansi Petani Indonesia memperkenalkan sistem peremajaan kakao dengan dengan tehknik sambung samping (Side Grafting). Dengan tehknik ini pendapatan petani tidak terputus sehingga petani mempunyai banyak persiapan untuk melakukan peremjaan kakao.

 

Pada tahun 2016 hingga 2017, Melalui program MTCP-AFOST dukungan dari Pemerintah, Aliansi Petani Indonesia dan Sekha Tani Jembrana membuat Sekolah lapangan untuk Peremajaan kakao,  Sekolah lapangan Pengendalian hama terpadu, mengorganisir kepeloporan petani dan melakukan penguatan Koperasi.

Hingga saat ini sudah ada 50 petani, 35 laki, 15 perempuan terlatih mengenai peremajaan kakao dan pengendalian hama terpadu, bahkan salah satu petani mendapatkan penghargaan petani pelopor pengembangan kakao di jembrana di Hari Kakao Indonesia lelang kakao dalam acara lelang kakao. Sekha Tani Jembrana mempunyai 20 Petani Muda sebagai kader pelopor dalam pengembangan dan pemasaran kakao. Untuk meberikan layanan pemasaran biji kakao, Aliansi Petani Indonesia dan Sekha Tani Jembrana Membentuk Koperasi Pertanian yaitu Koperasi Petani Alam Lestari.

Sebagai perubahan positif adalah peningkatan pendapatan sebagai nilai economi dari pengembangan tanaman kakao dapat dirasakan oleh Petani jembrana, khususnya 663 petani anggota Sekha Tani jembrana. Peningkatan nilai ekonomi tersebut tersedia karena diperbaikinya produktifitas kakao melalui peremajaan kakao, pengedalian hama kakao melalui pemafaatan semut ranrang, pengembangan pertanian alami. Hingga saat ini mencapai 508 hektar tanaman kakao sudah diremajakan. Peningkatan nilai economi juga karena didukung peningkatan nilai rantai dan akses pemasaran langsung kepada Perusahaan Pengolah, seperti PT. Bumi Tangerang dan PT. Delfi.

Selain menanam kakao, Sekha Tani jembrana Mengembangkan tanaman Kopi, Pisang. Dan mengembangkan produk gula semut. Tanaman kopi dan pisang juga dapat meningkatkan pendapatan petani sebagai peningkatan nilai Ekonomi.

 

#RifaI

 

 

 

 

 

Read More

PENINGKATAN PENGHASILAN PETANI KOPI TORAJA

PENINGKATAN NILAI RANTAI DAN PENGHASILAN PETANI KOPI TORAJA

 

Toraja, 14 Oktober 2019

Aliansi Petani Indonesia (API) di dalam MTCP-AFOSP Berkerjasama Dengan RIKOLTO telah memperkuat Perkumpulan Petani Kopi Toraja (PPKT) di dalam Manajemen Koperasi, Sekolah Lapangan Budidaya Tanaman Kopi dan Pengembangan Jaringan Pemasaran Kopi Toraja “SALECCO” untuk meningkatkan rantai Nilai Kopi dan Pendapatan Petani di Toraja.

 

Tana Toraja berada di Sulawesi Slatan, sekitar 8 jam perjalanan dari Makasar, Ibu Kota Propensi, dengan transportasi darat. Tana-Toraja berada di ketinggian 350-2800 mdpl. Toraja adalah wilayah yang sangat subur, sehingga banyak tanaman kopi yang tumbuh di diwilayah ini. Toraja adalah salah satu wilayah produsen kopi sepesial yang terkenal di Indonesia.

Salah produsen kopi adalah Perkumpulan Petani Kopi Toraja (PPKT). PPKT adalah organisasi petani yang mengorganisir kelompok-kelompok tani produses kopi di Toraja. Jumlah kelompok tani yang bergabung dalam PPKT adalah 89 kelompok tani dengan total anggota 1.736 anggota, total luas lahan 1,836,8 Hectar, potensi produksi 889 ton/musim.

PPKT termotivasi bahwa kopi toraja sangat terkenal di Indonesia dan pasar luar negeri, namun harga ditingkat petani sangat rendah dibanding dengan harga kopi di pasar.  Hal ini disebabkan oleh posisi tawar petani sangat rendah karena kualitas biji kopi yang rendah, produktifitas rendah, belum terorganisirnya pemasaran.

Oleh karena itu PPKT dengan didukung oleh Aliansi Petani Indonesia (API) sebagai Induk organisasi PPKT dan RIKOLTO berusaha untuk Penguatan kelembagaan dengan pembenahan manajemen bisnis dan keuangan koperasi, pemberdayaan anggota melalaui sekolah lapangan dan pelatihan untuk meningkatkan produksi dan peningkatan kualitas kopi Toraja, peningkatan kemampuan SDM di dalam pengolahan pasca panen. Membangun Fasilitas pengolahan, berusaha untuk mengakses modal kepada lembaga keuangan.

 

Penguatan Kelembagaan Ekonomi

Sebagian besar Petani Toraja, khususnya anggota dari Perkumpulan Petani Kopi Toraja (PPKT) adalah produsen kopi dan mengantungkan hidupnya dari budidaya Kopi. Jumlah Anggota PPKT saat ini 1.736 Petani dengan rata-rata luas kebun 1.06 hektar/petani. Perhinpunan Petani Kopi Toraja menjadi aktor penting dalam Rantai Komoditas Kopi di Toraja. Dalam Pemsaran Kopi, peran PPKT sangat strategis dan sangat diperhitungkan oleh berbagai Mitra. Anggota PPKT menjual Kopi mereka melalui Koperasi kemudian di jual langsung kepada Buyer dan kafe-kafe yang diorganisir oleh Aliansi Petani Indonesia sebagai Induk Organisasi PPKT. Hal ini sangat Menguntungkan bagi anggota karena rantai pemasaran menjadi sangat pendek.

 

Saat ini PPKT mampu menyediakan pelayanan kepada 33 kelompok dari 89 kelompok yang diorgnisir. Jumlah petani yang terlibat sebanyak 671 petani. Peran perempuan sangat penting dalam membangun sistem layanan koperasi, pengolahan dan pemasaran Kopi Toraja. Dari keseluruhan anggota,  PPKT mampu memberikan pelayanan hanya menjangkau 37% dari keseluruhan anggota. Hal ini karena keterbatasan Sumberdaya yanng dimiliki oleh PPKT seperti fasilitas pengolahan, Gudang, modal kerja. Disamping itu kemampuan sumdaya Manusia untuk mendampingi kelompok-kelompok tani sangat terbatas. Hal ini akan menjadi konsen dari API dan Mitra Kerja untuk memperluas jangkauan layanan kepada seluruh anggota.

Meskipun belum mampu keseluruhan anggota di dalam pelayanan, akan tetapi PPKT telah membuktikan bahwa melalui penguatan organisasi, pendikan & pelatihan, pemasaran bersama dapat meningkatkan akses pasar yang lebih baik dan meningkatkan pendapatan petani kopi di Toraja. Oleh karena itu PPKT mendapatkan penghargaan dari Gubernur Sulawesi Selatan sebagai Koperasi Pelopor karena PPKT gerakan koperasi bagi petani yang mampu meningkatkan pendapatan petani kopi Toraja.

Penguatan Sistem Budidaya Tanaman

Tanaman kopi merupakan komoditas utama sebagian Petani di Toraja, Selaian kegiatan pariwisata kopi menjadi daya tarik ketika datang ke Toraja. Rasa dan aroma kopi Toraja sangat khas. Kopi Toraja termasuk kopi Kopi Sepesial (Specialty Coffee) dari Indonesia.

Perkebunan Kopi yang ada di Toraja sebagian besar dikelola oleh petani. 70% produksi kopi yang berkualitas dihasilkan dari perkebunan kopi petani dari Toraja Utara, 25% berasal dari Wilayah Selatan, sekitar Getengan dan Buntu,  5% dihasilkan dari wilayah bagian barat, sekitar Bittuang. Masa panen kopi di Toraja berkisar antara Bulan Mei hingga Agustus.

 

PPKT berupaya untuk meningkatkan produktifitas dan mempertahankan kualitas biji kopi toraja khususnya produksi dari anggota. Dalam Rangka membantu PPKT, Aliansi Petani Indonesia Sebagai Induk Organisasi PPKT dan RIKOLTO sebagai partner dari API dan PPKT mendukung kegiatan sekolah lapangan budidaya tanaman Kopi dan pengedalian hama, pelatihan pengolahan pasca panen, dan pelatihan pembuatan pupuk nutrisi tanaman kopi. Selain itu API berusaha melakukan advokasi kebijakan kepada pemerintah di tingkat provinsi dan Pusat untuk mendukung PPKT dalam hal fasilitas pengolahan pasca panen.

Jenis Kopi yang dibudidayakan di Toraja adalah Kopi Robusta di wilayah yang lebih rendah, dan kopi Arabika yang tumbuh di 1200 hingga 2000 mdpl. Lahan-lahan di Toraja mengadung kadar mineral dan besi yang tinggi sehingga mempengaruhi cita rasa kopi yang khas, wilayah perkebunan kopi di Toraja disekitar Hutan dengan pemandangan yang indah. Karena itu Kopi Toraja banyak diminati konsumen dunia terutama Jepang dan Amerika Serikat.

Sebagian besar Kopi Toraja dibudidayakan dengan Sistem pertanian alami (organik), atau dibudidayakan dengan penggunaan pupuk kimia yang serendah-rendahnya. Petani melakukan perawatan tanaman seperti pemaksan secara rutin terhadap cabang-cabang yang tidak produktif, melakukan pemupukan dengan Kompos atau Nutrisi pupuk Cair Alami. PPKT juga membuat Kebun pembibitan dan  percontohan sebagai kebun pembelajaran bagi anggota dari PPKT. Kebun pembibitan selain sebagai tempat pembelajaran juga dijual kepada anggota sebagai bibit yang berkualitas baik.

 

Penguatan Kemitraan dan Akses Pasar

Aliansi Petani Indonesia bersama RIKOLTO telah mendukung PPKT di dalam Penguatan kelembagaan Ekonomi, Penguatan Budidaya Tanaman Kopi, Pengolahan Pasca Panen, Pengembangan Jaringan Pemasaran. Dukungan API dan RIKOLTO sangat penting dalam sehingga memperkuat kelembagaan Organisasi Petani & Koperasi PPKT dalam hal Pelayanan kepada anggota, peningkatan produksi dan mutu Kopi serta memperluas jaringan pemasaran.

Sejak tahun 2016 hingga tahun 2018, API telah memberikan pelatihan manajemen keuangan koperasi, sekolah lapangan budidaya tanaman Kopi, mendukung pembuatan membuat kebun percontohan, Sekolah lapangan pembuatan pupuk Nutrisi tanaman, membangun kerjasama dan jaringa kedai Kopi untuk maningkatkan akses pemasaran. Saat ini kebutuhan kopi Toraja kedai-kedai kopi di Malang, Surabaya, Jogjakarta, Jakrata menjacapai 70 ton/musim, dan baru dapat dipenuhi 20 ton oleh PPKT.

Semetara itu, RIKOLTO berperan membangun rantai pemasaran kopi untuk fokus pada pasar Expor. ROKOLTO juga menbdukung kegiatan pameran-pameran kopi baik ditingkat nasional maupun Internasional.

Kopi yang diproduksi oleh anggota PPKT dipasarkan melalui Jaringan Kedai yang diorganisir oleh Aliansi Petani Indonesia, melalui MTC, PT. Tuarco Jaya, PT. Sulatco, PT. Indocom. PT. Megah Putra Sejahtera.

Dampak dan Perubahan

Dampak dari dukungan penguatan kelembagaan ekonomi/Koperasi PPKT, pemberdayaan petani dalam sistem budidaya tanaman dan pengolahan Pasca panen, dan penguatan kemitraan dan akses pasar kopi yang diberikan oleh Aliansi Petani Indonesia dan ROKOLTO antara lain:

Dampak Ekonomi, antai komoditas kopi toraja khususnya yang diproduksi oleh anggota PPKT dapat diperpendek. Hal ini dapat meningkatkan posisi tawar petani dan harga biji kopi ditingkat petani dari Rp. 35,000/kg menjadi 75.000. dengan peningkatan harga dan produktiftas tanaman kopi maka penghasilan bersih petani ditingkatkan hampir 4 kali lipat (390,46%) dari Rp 19.400,000/hektar menjadi Rp 95,150,000 hektar.

Selain peningkatan penghasilan ditingkat petani, dengan diperkuatnya PPKT maka nilai tambah kopi toraja meningkat dari Rp 75.000 menjadi Rp 120.000 ditingkat koperasi, karena pengolahan pasca panen yang lebih baik yang dilakukan oleh koperasi. Sementara total biaya pengakutan dan processing Rp 35.000/kg.

Dampak sosial, dengan diperkuatnya PPKT di dalam kelembagaan, produksi dan pemasaran berkontribusi terhadap penyediaan lapangan kerja baru bagi 40 perempuan pedesaan, untuk melakukan sortasi, grading dan packaging kopi toraja.

#Rifai

 

Read More

MELATIH KEWIRAUSAHAAN UNTUK PETANI MUDA

Doc: Taufik Hidayat

 

 

 

MTCP II – AFOSP INDONESIA

MELATIH KEWIRAUSAHAAN UNTUK PETANI MUDA

 

 

Payakumbuh 24 Oktober 2019

 

Membangun kepeloporan Petani Muda (Laki-laki/Perempuan) di dalam kewirausahaan untuk  koperasi yang dipimpin oleh Petani di Pedesaan

 

Aliansi Petani Indonesia (API) dan Organisasi Petani, Serikat Petani Indonesia (SPI), Serikat Nelayan Indonesia (SNI), WMTI dan IPPHTI yang berkolaborasi dalam Platform MTCP-AFOSP menyediakan pelatihan kewirausahaan bagi petani muda yang tinggal di daerah pedesaan. Melalui pelatihan ini, para petani muda diharapkan mengenali potensi sumber daya pertanian yang tersedia di sekitar mereka, selanjutnya mereka bersama-sama organisasi petani mengembangkan layanan koperasi yang profesional, menguntungkan dan berkelanjutan

 

Kegiatan pertanian yang dilakukan oleh sebagian besar petani di daerah pedesaan hanya mengandalkan budidaya (on-farm). Banyak petani kecil yang bekerja di pertanian hanya fokus pada budidaya. Mereka memiliki akses ke tanah yang sangat terbatas. Oleh karena itu, bagian penting dari proses kegiatan pertanian harus meningkat atau setidaknya menambah nilai bagi pendapatan petani yang dimanfaatkan oleh pihak lain, seperti layanan pasokan input, pengolahan pasca panen dan pemasaran.

 

Banyak nilai manfaat ekonomi dalam proses kegiatan pertanian dapat dimanfaatkan oleh organisasi petani atau koperasi pertanian. Ini akan meningkatkan nilai tambah dan rantai nilai komoditas yang dibudidayakan oleh petani kecil di daerah pedesaan. Menyediakan layanan pasokan input produksi seperti pupuk, nutrisi tanaman adalah komponen yang memiliki proporsi 30% dari total biaya kegiatan pertanian.

 

Sementara dalam pengolahan pasca panen dan pemasaran memainkan peran penting dalam kegiatan produksi pertanian. Sektornya ini memberikan manfaat ekonomi 50% dari semua kegiatan pertanian. Dalam arti, sektor budidaya hanya menyediakan 20% dari semua nilai ekonomi dari kegiatan pertanian. Namun, sebagian besar petani kecil hanya memperhatikan kegiatan budidaya. Oleh karena itu, manfaat ekonomi di luar pertanian adalah lebih dimanfaatkan oleh pihak lain seperti tengkulak/perantara, pedagang, dan perusahaan pengolahan.

 

Namun, penggunaan nilai ekonomi di sektor pertanian didasarkan pada kemampuan kerja sama antara petani yang lebih kuat dan terarah. Pengembangan sistem kewirausahaan pertanian memiliki kegunaan yang lebih tinggi dan memiliki dampak positif pada peningkatan kesejahteraan petani dan pelaku usaha pertanian di daerah pedesaan. Produksi produk pertanian yang sangat kompetitif akan memiliki manfaat ekonomi bagi petani yang dilihat sebagai interaksi sinergis yang dibangun dalam ekonomi pertanian. Dalam posisi ini keberadaan petani muda dalam koperasi pertanian / kewirausahaan sangat penting.

 

Doc: Taufik Hidayat

 

 

Struktur organisasi ekonomi masyarakat pedesaan selama ini adalah sangat rapuh. Ini tercermin dalam posisi pelaku ekonomi pedesaan yang tidak “memiliki” kekuatan yang cukup untuk melakukan posisi tawar dengan pelaku ekonomi di luar desa. Lemahnya posisi tawar tersebut disebabkan oleh banyak faktor, termasuk kelemahan dalam pengorganisasian kelompok tani, penguasaan modal usaha, saling ketergantungan yang sangat timpang antara pelaku ekonomi pedesaan dan dari luar.

 

Peningkatan produktivitas budidaya pertanian tidak lagi menjadi jaminan bahwa hal itu akan memberikan keuntungan bagi petani tanpa kesetaraan pendapatan antara petani yang terlibat dalam sub-sektor buidaya pertanian dengan sub-sektor hulu dan hilir. Petani pemilik perkebunan kecil akan kesulitan menjual hasil panen mereka karena mereka tidak memiliki kekuatan dalam sistem pemasaran. Petani kecil biasanya menggunakan sistem penjualan hasil panen. Dengan sistem ini sebanyak 40% dari penjualan hasil panen petani menjadi milik tengkulak. Dampaknya pertumbuhan ekonomi pedesaan hanya bergantung pada hasil budidaya. Sementara itu, upaya untuk meningkatkan nilai tambah belum mendapat perhatian petani..

 

Peningkatan posisi tawar petani akan meningkatkan akses masyarakat pedesaan dalam kegiatan ekonomi yang adil, sehingga bentuk kesenjangan dan kerugian yang dialami oleh para petani dapat dihindarkan. Problem mendasarnya adalah lemahnya posisi tawar (market power) petani sehingga lemah dalam negosiasi harga hasil produksinya. Lemahnya  posisi tawar petani  disebabka oleh  kelembagaan ekonomi yang belum kuat, keberlanjutan dalam pasokan dan kualitas, informasi dan akses pasar, serta akses permodalan.

 

Kesetaraan pendapatan akan dicapai dengan meningkatkan posisi tawar petani. Hal ini dapat dilakukan jika petani terorganisir dengan baik dalam suatu lembaga ekonomi/Koperasi yang  betul-betul dibangun sesuai dengan kebutuhan dan rencana usaha yang terukur. Penguatan petani harus lebih tertuju pada upaya membangun kelembagaan ekonomi yang kuat dan inklusif serta didukung dengan sumberdaya yang profesional.

 

Beberapa faktor penting yang harus diperhatikan dalam membangun kelembagaan Ekonomi (Koperasi) yang dipimpin oleh petani adalah Mengenali Potensi dan kebutuhan petani, Sumberdaya profesional, rencana usaha, Partner, akses pasar dan permodalan. Tidak kalah penting adalah pendidikan untuk anggota, pemuda tani dan perempuan. Kunci keberhasilan dalam kelembagaan Usaha (koperasi) yang dipimpin oleh petani tidak hanya pada beberapa faktor tersebut. Namun, perubahan mainset dari petani dan pemuda petani dalam memandang potensi dan memanfaatkan peluang yang ada.

 

Kepeloporan (Pioneering) dari  petani muda dari lima organisasi Petani dilatih untuk mendapatkan pengetahuan tentang Kewirausahaan di dalam koperasi yang dipimpin petani harus berfungsi. Mereka akan termotivasi untuk menjadi bagian dari tantangan baru untuk menjadi organisasi petani pertama di Indonesia dalam mendirikan koperasi yang dipimpin petani yang dikelola secara profesional.

 

Selama Pelatihan, para petani muda dilatih mengenai (1) Pengembangan  inisiatif organisasi/koperasi mengelola nilai guna ekonomi berbasis pertanian, (2) mengembangkan Ide-ide Bisnis Koperasi petanian, (3) mengenali kekuatan Pasar (market Power) Berdasarkan Potensi usaha pertanian, (4) Mata rantai pertanian (value chain) dan biaya tiap rantai (cost of benefit), (5) Mengembangkan peluang pasar dan kerjasama antar kelompok Tani/Organisasi (horizontal clustering), (6) Mengembangkan Kanvas Bisnis Model untuk mengembangankan rencana Bisnis.

#Rifai

Read More

Pers Release KOALISI KEDAULATAN BENIH PETANI

“Perlindungan dan Pemberdayaan Sistem Kedaulatan Benih Petani Masih Sangat Lemah”

 

Kasus penangkapan 14 petani pemulia benih dikediri sejak tahun 2005 sampai 2010 dan yang terbaru adalah penangkapan Bapak Munirwan, Petani kecil pemulia benih padi sekaligus Kepala Desa (Gampoeng) Meunasah reyeuk, Kecamatan Nisam, Aceh Utara adalah contoh nyata lemahnya kebijakan dalam  perlindungan dan pemberdayaan petani kecil pemulia benih. Meskipun petani selama ini khususnya petani kecil sangat berkontribusi terhadap penyediaan pangan dan penyedian peluang kerja bagi masyarakat di pedasaan, serta dalam menjaga dan pengumpulan plasma nutfah kita. Inovasi-inovasi yang dikembangkan oleh petani kecil dalam hal ini kegiatan pengumpulan plasma nutfah dan pemuliaan tanaman, baik melalui kelompok tani atau organisasi tani yang diinisiasi oleh petani seharusnya didukung, dilindungi dan diberdayakan.

 

Sebelum , hingga Indonesia Merdeka, Sistem/mode petanian kita khususnya petani pangan adalah bercorak budaya pertanian (agriculture) bukanlah agri-bisnis yang bertumpu pada industri pertanian. Sejak dulu sitem  budidaya dan perbenihan melekat dalam budaya petani. Namun, sejak revolusi hijau, dilakukan lompatan yang sangat besar dimana pola budaya pertanian (Agriculture) digeser dengan pola agri-bisnis dan industri pertanian, sehingga memaksa sistem perbenihan petani semakin lama semakin hilang, diganti dengan sistem perbenihan formal yang berbasis korporasi dengan paket-paket teknologi yang tidak ramah liungkungan (bergantung pada herbisida dan pertisida), yang mana mereka menawarkan  paket-paket teknologi yang mengatasnamakan pencapaian produktifitas, efisiensi guna memenuhi kebutuhan pangan, tetapi yang terjadi malah sebaliknya, biaya pertanian semakin mahal, ekosistem pertanian dan budaya pertanian kita semakin rusak.

 

Dampaknya adalah dengan rusaknya ekosistem lingkungan pertanian, petani semakin tergantung terhadap pestisida dan herbisida. Yang paling menghawatirkan adalah hancurnya sistem perbenihan petani. Saat ini sebagian besar tergantung terhadap benih-benih dari luar. Sementara itu, tujuan untuk mencapai swasembada pangan tidak tercapai dilain pihak ekosistem pertanian dan sistem perbenihan petani semakin hancur. Saat ini, tidak banyak petani yang melakukan pemulian dan menyimpan benih-benih mereka untuk mereka pergunakan dalam kegiatan pertanian mereka. Sistem pertanian yang tergatung terhadap input luar yang besar yang menyebabkan kegiatan pertanian berbiaya tinggi, sementara hasilnya juga belum memenuhi pemenuhan kebutuhan pangan yang dijanjikan.

 

Belanja petani terhadap benih sangat tinggi setiap tahunnya. Berdasarkan luas panen tanaman pangan yang ditanam oleh petani, misalnya total luas panen padi  sawah dan ladang 15.494.512, total kebutuhan benih  464.835 ton/tahun total belanja petani terhadap benih padi  6.97 trilyun/th,  sedangkan belanja benih jagung Rp 9.4 trilyun/th, kedele Rp 306.17 milyar/th, bawang merah Rp 13.29 trilyun/th, cabe rawit merah Rp 42.19 milyar/th. Saat ini petani hanya dimanfaatkan sebagai obyek dalam perdagangan benih tanpa mempunyai kedaulatan atas benih mereka.

 

Kami dari koalisi masyarakat Sipil “Koalisi Kedaulatan Benih Petani” yang terdiri dari, Aliansi Petani Indonesia (API), Serikat Petani Indonesia (SPI), Indonesia Human Right Committee For Social Justice (IHCS), Indonesia For Grobal Justice (IGJ), Yayasan BINA DESA, Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA), Kesatuan Nalayan Tradisional Indonesia (KNTI), Serikat Nelayan Indonesia (SNI), Yayasan Field Indonesia, Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu (IPPHTI), Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Aliansi Organik Indonesia (AOI), pertama sangat menyayangkan terjadinya penangkapan petani kecil pak Munirwan selaku petani kecil, Kepala desa; kedua meminta pemerintah khususnya kementerian pertanian lebih mengedepankan perlindungan dan pemberdayaan petani terutama petani kecil. Koalisi juga meminta pemerintah menjamin dan melindungi pemenuhan hak-hak petani terkait dengan benih, yaitu hak petani untuk menyimpan, menggunakan, menukarkan, dan menjual benih/bahan hasil perbanyakan tanaman sendiri. Serta, Negara juga harus menjamin hak petani untuk berpartisipasi dalam pembuatan kebijakan di tingkat nasional.

 

Koalasi Kedualtan Benih Petani

 

Aliansi Petani Indonesia (API), Serikat Petani Indonesia (SPI), Indonesia Human right Committee For Social Justice (IHCS), Indonesia For Grobal Justice (IGJ), Yayasan BINA DESA, Konsorsium Pembaharuan Agraria (KPA), Kesatuan Nalayan Tradisional Indonesia (KNTI), Serikat Nelayan Indonesia (SNI), Yayasan Field Indonesia, Ikatan Petani Pengendali Hama Terpadu (IPPHTI), Koalisi Rakyat Untuk Kedaulatan Pangan (KRKP), Aliansi Organik Indonesia (AOI).

 

Kontak:

Muhammad Rifai: 085 331712453

 

 

 

 

Read More