API Hadiri Upacara Penutupan Tahun Internasional Pertanian Keluarga

Pada 27 November 2014, delegasi Aliansi Petani Indonesia (API) yang diwakili oleh Farida C. Sitorus (Aliansi Petani Siantar Simalungun, APSS), Syukur Fahruddin (Koordinator API Jawa Tengah), dan Ika N. Krishnayanti (staf Hubungan Internasional) menghadiri undangan upacara penutupan Tahun Internasional Pertanian Keluarga 2014 (International Year of Family Farming/IYFF) yang digelar di Hotel Dusit Thani, Manila, Filipina. Perhelatan global yang mengambil tema “Menutup Tahun Pertanian Keluarga, Membuka Jalan Ke Depan” itu disponsori oleh Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (Food and Agriculture Organization/FAO), Dana Internasional untuk Pembangunan Pertanian (International Fund for Agricultural Development/IFAD) dan Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP).

Peserta yang hadir berasal dari berbagai kalangan, di antaranya perwakilan FAO, IFAD, WFP, pemerintah dan senator Filipina, Dutabesar IYFF untuk Asia Pasifik dan Afrika, koordinator Panitia Pengarah International IYFF, World Rural Forum (WRF), para petani perwakilan organisasi petani dari Asian Farmers Association (AFA) dan La Via Campesina, dan berbagai organisasi masyarakat lainnya. API bersama organisasi dari 13 negara Asia lainnya hadir sebagai anggota AFA.

Pada acara tersebut panggung dihiasi berbagai hasil pertanian di Filipina, seperti buah-buahan, tanaman pangan dan perkebunan, serta berbagai jenis sayuran. Penutupan Perayaan Tahun Internasional Pertanian Keluarga di tingkat global itu juga dimeriahkan berbagai kesenian dari berbagai suku yang ada di Filipina. Serangkaian kata sambutan dari beberapa perwakilan organisasi terkait silih berganti disampaikan di atas panggung.

Read More

Resmi Ditutup, Tahun Internasional Pertanian Keluarga 2014

Sekilas Tahun Internasional Pertanian Keluarga 2014

Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa mendeklarasikan tahun 2014 sebagai Tahun Internasional Pertanian Keluarga (International Year of Family farming). Penetapan ini adalah wujud pengakuan atas pentingnya pertanian keluarga dalam mengurangi kemiskinan global dan meningkatkan ketahanan pangan dan gizi di dunia.

Perayaan Tahun Internasional Pertanian Keluarga bertujuan untuk meningkatkan perhatian dunia kepada pertanian keluarga dan pertanian skala kecil atas peran penting keduanya dalam menghapuskan kelaparan, meningkatkan matapencaharian petani, memperbaiki pengelolaan sumber daya alam, melindungi lingkungan dan mencapai pembangunan yang berkelanjutan khususnya di daerah perdesaan.

Penetapan Tahun Internasional Pertanian Keluarga 2014 bertujuan untuk menempatkan kembali posisi pertanian keluarga dalam pusat kebijakan-kebijakan pertanian, lingkungan, dan sosial dalam agenda nasional dengan mengidentifikasi kesenjangan dan peluang-peluang menuju pembangunan yang lebih berkeadilan dan seimbang.

Tahun Internasional Pertanian Keluarga 2014 diharapkan dapat meningkatkan diskusi dan kerja sama yang luas di tingkat nasional, regional, dan global guna meningkatkan kesadaran dan pemahaman terhadap berbagai tantangan yang dihadapi petani kecil dan membantu mengidentifikasi cara-cara yang efesien untuk mendukung keluarga-keluarga petani tersebut, di antaranya dengan:
• Mendukung terbangunnya kebijakan-kebijakan yang kondusif bagi pertanian berkelanjutan
• Meningkatkan pengetahuan, komunikasi, dan kesadaran masyarakat
• Mencapai pemahaman yang lebih baik mengenai kebutuhan pertanian keluarga, potensi-potensi dan hambatan dan jaminan dukungan teknis
• Menciptakan sinergi untuk keberlanjutan

 

Pertanian Keluarga, Sebuah Fenomena Global

Pertanian Keluarga meliputi berbagai kegiatan pertanian berbasis keluarga dan yang terkait dengan bidang-bidang pembangunan perdesaan.

Pertanian Keluarga juga adalah sebuah perangkat mengkoordinasikan produksi di pertanian, kehutanan, perikanan laut dan darat, serta penggembalaan yang dikelola dan dijalankan oleh sebuah keluarga, baik perempuan maupun laki-laki, serta mengandalkan tenaga kerja keluarga.

Pertanian Keluarga mempunyai peran penting dalam sosial ekonomi, lingkungan dan budaya, karena :
• Pertanian keluarga dan pertanian skala kecil tidak dapat dilepaskan dari ketahanan pangan dunia
• Pertanian keluarga memelihara produk-produk pangan tradisional dan menyumbang kepada keseimbangan gizi, serta menjaga keanekaragaman pertanian dunia dan pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan
• Pertanian keluarga merupakan sebuah peluang untuk mendorong perekonomian lokal/daerah, khususnya jika beriringan dengan adanya kebijakan-kebijakan yang bertujuan kepada perlindungan sosial dan kesejahteraan masyarakat.

Tahukah Anda?

• Sekitar 1,5 miliar manusia di dunia terlibat dalam kegiatan Pertanian Keluarga
• 76 persen orang paling miskin di dunia berada di daerah perdesaan, di mana pertanian menjadi sumber utama matapencaharian mereka
• Masa depan ketahanan pangan kita bergantung pada kerja petani-petani kecil, sementara keberadaan mereka seringkali diabaikan
• Hampir setengah dari petani-petani di negara berkembang adalah kaum perempuan
• Dengan kondisi ekonomi, sosial, dan lingkungan yang baik, maka petani-petani keluarga berskala kecil bisa berada di garis terdepan dalam perubahan yang berkelanjutan di dunia pertanian.

 

Read More

Catatan dibalik Musyawarah Nasional Aliansi Petani Indonesia yang ke-4

Musyawarah Nasional Aliansi Petani Indonesia yang ke-4 berlangsung di sebuah komunitas petani organik, Brenjonk, di Dusun Penanggungan, Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. MUNAS kali ini mengambil tema “Memperkuat Posisi Petani dalam Mengembangkan Kewirausahaan Sosial di Pedesaan Berbasis Koperasi”. MUNAS yang berlangsung pada tanggal 6-7 Desember 2014 itu didahului dengan sebuah lokakarya dengan tema yang sama pada 4-5 Desember. Kedua kegiatan tersebut dihadiri sedikitnya 75 peserta yang merupakan anggota API dari berbagai daerah, dan beberapa undangan perwakilan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi nelayan.

“Komunitas Brenjonk adalah sebuah kelompok yang beranggotakan petani yang mempraktikkan pertanian organik. Pada awalnya, Brenjonk hanyalah kumpulan sedikit orang yang bercita-cita mulia yaitu mencapai terjadinya perubahan sosial (dalam hal ini ingin mengurangi kemiskinan, menjamin pangan sehat, dan mencapai kesejahteraan petani),” jelas Slamet, koordinator Brenjonk pada sambutannya kepada peserta lokakarya Kewirausahaan Sosial di Pedesaan. “Pada lima tahun pertama, kegiatan di Brenjonk dibiayai secara mandiri, tanpa bantuan dari pihak luar termasuk pemerintah”.

Para perintis di Brenjonk itu memulai kegiatan bertani secara organik dari tiga (3) buah polybag. Pada saat itu keadaan sosial di sekitar Brenjonk memang cukup memprihatinkan, alih fungsi lahan marak terjadi di desa-desa sekitar, anak muda tidak tertarik untuk bertani bahkan merasa malu menjadi petani sehingga banyak petani yang malah menjadi buruh rumput di hotel-hotel yang dibangun di atas tanah-tanah yang telah mereka jual. Namun kini Brenjonk telah berkembang dengan pesat. Dari semula hanya 5 orang perintis, kini mereka memiliki kader di 18 desa sekitar, tujuhpuluh persennya adalah perempuan atau ibu rumah tangga yang menanam sayuran organik dimpekarangan rumah. Walau luas lahan pekarangan mereka sangat sempit, mereka dapat menambah pemasukan keluarga.

Bagaimana petani kecil dengan lahan yang terbatas bisa menghasilkan produk sayuran organik dan menambah penghasilan keluarga? “Brenjonk memfasilitasi para anggotanya dengan bantuan rumah plastik beserta instalasinya, dan input pertanian seperti benih, pupuk kompos, dan membantu pemasaran bersama,” papar Saptono, sekretaris Brenjonk. “Pada tahap pertama, Brenjonk bekerja sama dengan bank BTPN Surabaya untuk menyalurkan rumah plastik berukuran 5×10 meter seharga Rp.3 juta kepada anggotanya (fasilitas ini disebut RSO atau Rumah Sayur Organik keluarga). Kemudian para anggota mengembalikan pinjaman tersebut secara mencicil dari penjualan sayuran organik yang ditanam di dalam RSO tersebut. Memang ada kendala dari petani dalam pengembalian pinjaman itu, sehingga sampai saat ini masih ada beberapa petani yang belum mengembalikannya walau dengan jumlah yang telah dikurangi oleh Brenjonk”. Untuk tahap berikutnya, Brenjonk menyalurkan bantuan RSO kepada anggotanya secara langsung dan tidak dituntut untuk mengembalikan pinjaman tersebut, dengan syarat petani harus menanami RSO dengan sayuran organik. Jika tidak, maka pihak Brenjonk akan menarik kembali bantuan RSO dan mengalihkannya kepada petani lain yang lebih membutuhkannya.

“Kini dari satu RSO, petani mendapat penghasilan dari penjualan sayuran organik sebesar Rp.300.000-Rp.400.000 per bulan, sementara sebelum menanam di dalam RSO, petani hanya menanami lahannya dengan singkong dengan penghasilan dari penjualan singkong rata-rata sebesar Rp.50.000 per bulan,” jelas Slamet. Di bagian pasca produksi Brenjonk, setiap bulannya dapat mengemas 10.000-15.000 bungkus sayuran, umbi-umbian, dan buah-buahan dari hasil pekarangan rumah. Hasil tersebut dikirim ke pasar swalan di sekitar, saat ini tercatat ada 9 swalayan yang melanggan produk-produk organik Brenjonk. Hingga kini sudah ada 160 RSO yang dikelola para anggota Brenjonk. “Walau laris di pasar, anggota Brenjonk tetap mengutamakan konsumsi sayuran organik untuk keluarga lebih dulu”.

Tidak hanya memberi fasilitas RSO, Brenjonk juga menyediakan kolam-kolam ikan bagi anggotanya, rata-rata 4×8 meter persegi, beserta benih ikannya juga disediakan. Kini telah 26 kolam ikan dikembangkan di halaman rumah-rumah anggota Brenjonk. Selain itu, Brenjonk juga telah mensertifikasi produk-produk anggotanya dengan sistem PGS (Participatory Guarantee System atau Penjaminan Partisipatif Berbasis Komunitas) melalui PAMOR dari AOI (Aliansi Organis Indonesia). Namun karena ada peraturan baru dari Kementrian Pertanian yang mewajibkan sertifikasi hanya dapat diberikan oleh pihak ketiga, maka Brenjonk pun memfasilitasi sertifikasi produk organik anggotanya melalui Biocert.
Selama proses berinteraksi dan diskusi di Brenjonk, pertukaran informasi dan pengalaman di antara para peserta berlangsung hangat. Brenjonk pun sempat menyarankan kepada API agar dapat memfasilitasi petani organik dalam mengadvokasi kebijakan di tingkat nasional agar lebih berpihak kepada petani organik dalam rangka menjamin pangan yang sehat dan terjaminnya matapencaharian petani dan lingkungan yang berkelanjutan.

Read More

“Sebuah Permata di Hamparan Zamrud Khatulistiwa”

Keluarga Stevanus, Petani Kecil dari Pulau Adonara, Nusa Tenggara Timur

Stevanus Carvalo (54) dan istrinya Brigitta (37), tinggal di DesaPajinian, Kecamatan Adonara Barat,Pulau Adonara. Anak-anak mereka terdiri dari Yovan (17), Ratih (11), Christin(5), dan Herman (3).

Pajinian adalah sebuah desa kecil berpenduduk 278KK. Umumnya warga desa Pajinian bekerja sebagai petani ladang (90%), sisanya adalah nelayan, pegawai negeri sipil, dan lain-lain. Kebun yang mereka miliki adalah hasil pembagian dari pemerintah, masing-masing keluarga mendapatkan sekitar 2 hektar/KK

Menurut sejarah, keluarga Pak Stevanus Carvalo adalah tuan tanah di desa Pajinian. Dahulu, kakek Stevanus adalah orang kepercayaan Raja Larantuka yang ditugaskan menjaga daerah-daerah kekuasaan raja. Pada tahun 2000, Pemda Kabupaten Flores Timur membayar sejumlah ganti rugi untuk permukiman dan kebun rakyat kepada ayah Pak Stevanus. Dengan serta ayahnya menolak. Meski memiliki banyak tanah, Pak Stevanus hanya menunjukkan sebagian miliknya yang kini menjadi kebun kangkung di tepi pantai.

Sebagian besar penghasilan warga desa Pajinian berasal dari komoditas pertanian, seperti padi merah, jagung pulut, sorgum, kacang-kacangan, kacang mente, serta kopra.

Setelah hidup merantau di Flores Barat (Ende), Pak Stevanus kembali ke tempat kelahirannya di Pulau Adonara. Ia mendapati lahan pertaniannya tinggal separuh. Sebagian separuh lahan lainnya sudah dikelola oleh saudara-saudara yang tinggal di desa Pajinian. Pak Stevanus kemudian membersihkan lahan tersebut agar tidak lagi menjadi sarang nyamuk. Ia mencoba menanam kangkung rawa. Ternyata setelah hujan turun, kangkungnya mulai tumbuh subur hingga menyebar ke lahan garapan di tepi pantai itu sekitar 75 meter x 60 meter. Separuh dari lahan itu ditanami pohon kelapa.

Sementara itu Brigita, istri Pak Stevanus membawa kangkung ke pasar atau ibu-ibu pedagang “papelele” (pedagang kecil) itu datang ke ladang mereka. Harga 1 bak kangkung Rp.10.000, lalu mereka menjualnya kepada pembeli di pasar dengan harga Rp.15.000-Rp.20.000 per bak. Kadang dalam satu kali panen pada musim hujan ketika air cukup, kangkung pun tumbuh bagus, mereka dalam memanen 4 bak kangkung. Tetapi jika musim bunga atau buah, hasil panen kangkung tidak bagus sehingga mereka menggunakan kangkung itu sebagai pakan ternak babi.

Sementara itu hasil dari buah kelapa, dijadikan kopra lalu dibawa ke pasar, dan ditimbang. Harga kopra di pasar dan di kebun agak berbeda, lebih tinggi harga di pasar.

Ibu Brigita : anak pertama masih duduk di SMA di Wanadon, anak nomer dua duduk di kelas 5 SD, anak ketiga masih di TK, dan anak bungsunya yang masih berumur 3 tahun. Ibu Brigita, ibu rumah tangga yang bekerja membantu suami, membuat pakan babi, jika sore hari membersihkan kebun kangkung bersama anak-anak dan memetik kangkung agar esok paginya bisa dititipkan orang untuk dijual ke pasar. Harga 1 bak kangkung rata-rata Rp.10.000-Rp.15.000,harga 3-4 ikat kangkung adalah Rp.2000.

Sumur ini saya bangun untuk persiapan pada musim kemarau untuk menyirami tanaman kangkung. Sedangkan pada muim penghujan, air di kebun bisa mencapai tinggi sepinggul orang dewasa, atau sekitar 1-1,5 meter dari permukaan air sumur sehingga kebun kangkung ini tidak akan terlihat.”Itulah yang saya katakan tadi, bahwa di sini menjadi sarang nyamuk karena genangan air ini. Dari sinilah nyamuk berasal,” ujar Pak Stevanus. Setelah berubah dari sarang nyamuk menjadi kebun kangkung, ikan-ikan pun berdatangan dan nyamuk hilang, karena jentik-jentik nyamuk dimakan ikan.

Ia sudah mempersiapkan sebuah kolam ikan. Rencananya Pak Stevanus akan memelihara ikan di kolam berkedalaman 2-3 meter. Hal ini juga untuk meredam berkembangbiaknya nyamuk di tempat itu, sehingga tidak membahayakan perkampungan yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari sarang nyamuk semula. Pak Stevanus memperkirakan bakal ada 500-1.000 ekor ikan yang dapat dipelihara dalam kolam itu. Ia menjelaskan, ikan bandeng dan belanak dapat dipelihara di daerah tersebut, dengan harga jual berkisar Rp.5000-Rp.7000 per ekor.Jika dia memperoleh 10-20 ekor, Pak Stevanus menganggap itulah nilai ekonomis buat keluarganya. Ia berharap mendapat bantuan dari teman-temannya untuk membuat kolam ikan itu.

Selain menanam kangkung, kelapa, dan memelihara ikan di kolam, tak jauh dari kebun kangkung, Pak Stevanus juga mencoba menanam sorgum dan kacang panjang. Walau tanpa disiram namun hanya mengandalkan kelembaban, kacang panjangnya dapat tumbuh subur dan menghasilkan buah. Pak Stevanus membiarkan serangga-serangga yang berguna untuk mengendalikan serangan hama, seperti semut merah yang dapat mengusir hama penghisap buah atau penggerek batang. Untuk meremajakan tanaman kacang panjangnya, Pak Stevanus menanam kacang panjang di tempat lain dengan lebih terencana dengan pembibitan dan penanaman yang lebih baik.

Hasil kebun kelapa diolah menjadi kopra, kemudian di jual ke pasar dengan harga sekitar Rp.5000per kg, namun jika pembeli datang ke kebun harga kopra hanya berkisar Rp.4000-Rp.4500per kg. Memang lebih murah, karena mereka menjualnya kepada tengkulak, namun mereka tidak keberatan dengan harga itu mengingat dalam keadaan sulit mereka bisa meminta pinjaman kepada tengkulak untuk kebutuhan sehari-hari.

Read More