Catatan dibalik Musyawarah Nasional Aliansi Petani Indonesia yang ke-4

Musyawarah Nasional Aliansi Petani Indonesia yang ke-4 berlangsung di sebuah komunitas petani organik, Brenjonk, di Dusun Penanggungan, Trawas, Mojokerto, Jawa Timur. MUNAS kali ini mengambil tema “Memperkuat Posisi Petani dalam Mengembangkan Kewirausahaan Sosial di Pedesaan Berbasis Koperasi”. MUNAS yang berlangsung pada tanggal 6-7 Desember 2014 itu didahului dengan sebuah lokakarya dengan tema yang sama pada 4-5 Desember. Kedua kegiatan tersebut dihadiri sedikitnya 75 peserta yang merupakan anggota API dari berbagai daerah, dan beberapa undangan perwakilan lembaga swadaya masyarakat (LSM) dan organisasi nelayan.

“Komunitas Brenjonk adalah sebuah kelompok yang beranggotakan petani yang mempraktikkan pertanian organik. Pada awalnya, Brenjonk hanyalah kumpulan sedikit orang yang bercita-cita mulia yaitu mencapai terjadinya perubahan sosial (dalam hal ini ingin mengurangi kemiskinan, menjamin pangan sehat, dan mencapai kesejahteraan petani),” jelas Slamet, koordinator Brenjonk pada sambutannya kepada peserta lokakarya Kewirausahaan Sosial di Pedesaan. “Pada lima tahun pertama, kegiatan di Brenjonk dibiayai secara mandiri, tanpa bantuan dari pihak luar termasuk pemerintah”.

Para perintis di Brenjonk itu memulai kegiatan bertani secara organik dari tiga (3) buah polybag. Pada saat itu keadaan sosial di sekitar Brenjonk memang cukup memprihatinkan, alih fungsi lahan marak terjadi di desa-desa sekitar, anak muda tidak tertarik untuk bertani bahkan merasa malu menjadi petani sehingga banyak petani yang malah menjadi buruh rumput di hotel-hotel yang dibangun di atas tanah-tanah yang telah mereka jual. Namun kini Brenjonk telah berkembang dengan pesat. Dari semula hanya 5 orang perintis, kini mereka memiliki kader di 18 desa sekitar, tujuhpuluh persennya adalah perempuan atau ibu rumah tangga yang menanam sayuran organik dimpekarangan rumah. Walau luas lahan pekarangan mereka sangat sempit, mereka dapat menambah pemasukan keluarga.

Bagaimana petani kecil dengan lahan yang terbatas bisa menghasilkan produk sayuran organik dan menambah penghasilan keluarga? “Brenjonk memfasilitasi para anggotanya dengan bantuan rumah plastik beserta instalasinya, dan input pertanian seperti benih, pupuk kompos, dan membantu pemasaran bersama,” papar Saptono, sekretaris Brenjonk. “Pada tahap pertama, Brenjonk bekerja sama dengan bank BTPN Surabaya untuk menyalurkan rumah plastik berukuran 5×10 meter seharga Rp.3 juta kepada anggotanya (fasilitas ini disebut RSO atau Rumah Sayur Organik keluarga). Kemudian para anggota mengembalikan pinjaman tersebut secara mencicil dari penjualan sayuran organik yang ditanam di dalam RSO tersebut. Memang ada kendala dari petani dalam pengembalian pinjaman itu, sehingga sampai saat ini masih ada beberapa petani yang belum mengembalikannya walau dengan jumlah yang telah dikurangi oleh Brenjonk”. Untuk tahap berikutnya, Brenjonk menyalurkan bantuan RSO kepada anggotanya secara langsung dan tidak dituntut untuk mengembalikan pinjaman tersebut, dengan syarat petani harus menanami RSO dengan sayuran organik. Jika tidak, maka pihak Brenjonk akan menarik kembali bantuan RSO dan mengalihkannya kepada petani lain yang lebih membutuhkannya.

“Kini dari satu RSO, petani mendapat penghasilan dari penjualan sayuran organik sebesar Rp.300.000-Rp.400.000 per bulan, sementara sebelum menanam di dalam RSO, petani hanya menanami lahannya dengan singkong dengan penghasilan dari penjualan singkong rata-rata sebesar Rp.50.000 per bulan,” jelas Slamet. Di bagian pasca produksi Brenjonk, setiap bulannya dapat mengemas 10.000-15.000 bungkus sayuran, umbi-umbian, dan buah-buahan dari hasil pekarangan rumah. Hasil tersebut dikirim ke pasar swalan di sekitar, saat ini tercatat ada 9 swalayan yang melanggan produk-produk organik Brenjonk. Hingga kini sudah ada 160 RSO yang dikelola para anggota Brenjonk. “Walau laris di pasar, anggota Brenjonk tetap mengutamakan konsumsi sayuran organik untuk keluarga lebih dulu”.

Tidak hanya memberi fasilitas RSO, Brenjonk juga menyediakan kolam-kolam ikan bagi anggotanya, rata-rata 4×8 meter persegi, beserta benih ikannya juga disediakan. Kini telah 26 kolam ikan dikembangkan di halaman rumah-rumah anggota Brenjonk. Selain itu, Brenjonk juga telah mensertifikasi produk-produk anggotanya dengan sistem PGS (Participatory Guarantee System atau Penjaminan Partisipatif Berbasis Komunitas) melalui PAMOR dari AOI (Aliansi Organis Indonesia). Namun karena ada peraturan baru dari Kementrian Pertanian yang mewajibkan sertifikasi hanya dapat diberikan oleh pihak ketiga, maka Brenjonk pun memfasilitasi sertifikasi produk organik anggotanya melalui Biocert.
Selama proses berinteraksi dan diskusi di Brenjonk, pertukaran informasi dan pengalaman di antara para peserta berlangsung hangat. Brenjonk pun sempat menyarankan kepada API agar dapat memfasilitasi petani organik dalam mengadvokasi kebijakan di tingkat nasional agar lebih berpihak kepada petani organik dalam rangka menjamin pangan yang sehat dan terjaminnya matapencaharian petani dan lingkungan yang berkelanjutan.

Read More

BBM Naik Harga Pangan Melonjak, Siapa Untung?

JAKARTA, GRESNEWS.COM – Kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) subsidi mengakibatkan kenaikan harga pangan khususnya cabai dan beras. Namun sayangnya keuntungan tersebut bukan para petani yang menikmati karena rantai pemasaran penjualan yang panjang.

Koordinator Divisi Advokasi Aliansi Petani Indonesia (API) Ferry Widodo menjelaskan para petani sebenarnya tidak pernah menikmati keuntungan dari harga pangan di pasaran. Para petani selama ini menjual hasil panennya kepada tengkulak dengan biaya murah. Kemudian, tengkulak pun menaikan harganya ke pelaku pedagang pasar. Tingginya harga dikarenakan para tengkulak memperhitungkan biaya transportasi.

Dia mencontohkan seperti para petani di Surabaya, dimana petani menjual hasil panen cabainya kepada tengkulak sebesar Rp30 ribu per kilo gram (Kg), kemudian tengkulak menjual ke pasar dengan harga Rp70 ribu pe Kg. “Sebetulnya cabai itu dikuasai agen-agen tengkulak. Pada saat harga naik, petani itu tidak tahu,” kata Ferry kepada Gresnews.com, Jakarta, Jumat (21/11).

Ferry mengatakan pemerintah harus membuat kebijakan khusus untuk mengantisipasi gejolak harga pangan terkait kenaikan harga BBM. Menurutnya kinerja pemerintah khususnya Menteri Perdagangan Rachmat Gobel seperti melakukan blusukan masih belum cukup untuk menstabilkan harga, seharusnya pemerintah membuat skema atau program untuk antisipasi kenaikan harga BBM.

Menurutnya kenaikan harga pangan sebelum pengumuman resmi kebijakan kenaikan BBM oleh pemerintah disebabkan karena masyarakat panik, sehingga mendorong untuk membeli kebutuhan pokok dalam jumlah banyak. Para pelaku pasar pun memanfaatkan momentum tersebut untuk menaikan harga ditengah permintaan konsumen yang meningkat.

“Kebutuhan konsumsi pangan terus terjadi peningkatan. Kepanikan itulah yang mendorong harga naik,” kata Ferry.

Sementara itu, pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Enny Sri Hartati menilai tata niaga Indonesia saat ini sudah dikuasai oleh para pelaku pasar yang menentukan harga dengan seenaknya. Sebab, sebelum harga BBM mengalami kenaikan, harga bahan pokok sudah mengalami kenaikan. Seharusnya sebelum harga BBM naik, harga bahan pokok juga tidak naik.

“Pemerintah tidak ada upaya untuk menstabilkan harga. Jadi pemerintah belum melakukan sesuatu sebelum harga BBM naik,” kata Enny kepada Gresnews.com.

Enny mengatakan cara pemerintahan Jokowi dalam menaikan harga BBM hampir sama seperti pemerintahan sebelumnya, sebab dalam mengeluarkan kebijakan kenaikan harga BBM subsidi tidak melakukan pencegahan terlebih dahulu sehingga menimbulkan resistensi bagi masyarakat. Dia menjelaskan seharusnya pemerintahan Jokowi sebelum menaikan harga BBM, terlebih dahulu harus menstabilkan harga pokok kemudian memberikan subsidi transportasi umum.

“Jadi ketika harga BBM naik, tidak membawa dampak terhadap angkutan umum dan pangan. Nah itu yang belum dikerjakan oleh pemerintah,” kata Enny.
Reporter : Heronimus Ronito KS
Redaktur : Muhammad Fasabeni

Sumber : http://www.gresnews.com/berita/politik/1902111-bbm-naik-harga-pangan-melonjak-siapa-untung/

 

Read More

PENGEMBANGAN ORGANISASI PETANI PADI

Indramayu 24 s/d 26 Oktober.

Asosiasi Masyarakat Tani Padi Indonesia (Amartapadi) Indramayu-Jabar.
Pertemuan dilakukan pada 24 Oktober 2014 dan dihadiri oleh 17 orang dari 8 kecamatan, yakni: Balongan, Cikedung, Sukra, Anjatan, Kertasemaya, Bangodua, Widosari dan Leleak.

Pertemuan ini bertujuan:

Mensosialisasikan keberadaan Asosiasi Masyarakat Tani Padi Indonesia (Amartapadi) yang berdiri sebagai sebuah organisasi petani berbasis komoditas padi yang telah dideklarasikan sebelumnya di Boyolali Rabu (17/9/2014). PENGEMBANGAN ORGANISASI PETANI PADI ini guna mensosialisasikan visi dan misi organisasi petani padi (Amartapadi) serta struktur kepengurusannya. Mendorong pengorganisasian Amartapadi di tingkat wilayah (Jawa Barat) dan daerah (Indramayu) serta terbentuknya struktur organisasi di Tingkat daerah tsb. Hasil yang tercapai adalah, bahwa para peserta bersepakat untuk membentuk kepengurusan Amartapadi di Indramayu dengan struktur kepengurusan inti yang terpilih yaitu: (Ketua) Joharipin (sekretaris) M. Adad (Bendahara) Roki.

Aliansi Petani Indonesia (API) sebagai pendamping dalam kaitan ini, berdiskusi dengan peserta mengenai berbagai masalah yang dihadapi oleh petani, seperti pupuk, benih dan akses pasar serta masih banyaknya program-program pemerintah yang yang sekiranya mubazir dan tidak secara akurat untuk membongkar permasalahan-permasalahn yang dialami petani dan lemahnya dukungan pemerintah pada usaha tani yang berakibat pada turunnya jumlah rumahtangga petani karena faktor kesejahteraan, yang jika masalah tersebut tidak segera diatasi maka akan menjadi salah satu ancaman bagi masa depan pangan dan bom waktu bagi masalah ketenagakerjaan nasional.

Dalam diskusi ini juga terjadi penekanan pada pentingnya organisasi berbasis komoditas yang secara lebih terfokus akan bekerja untuk usaha-usaha baik pengorganisasian ekonomi maupun advokasi kebijakan terkait perberasan nasional kita, yang bukan saja berhajat pada pemenuhan pangan/ketahanan pangan, tapi terlebih lagi harus mengedepankan kedaulatan petani untuk mengakses berbagai sumberdaya pertanian untuk selanjutnya juga menjamin kesejahteraan bagi produsen/petani.

PENELITIAN:
Kegiatan penelitian oleh API dan PSEKP bertema “Mensejahterakan Petani Padi Melalui Struktur Usahatani Berdasarkan Agroekosistem” selain menggunakan data sekunder dari berbagai sumber, juga menggunakan data primer melaui wawancara dan menyelenggarakan FGD dengan 2 jenis agroekosistem yang berbeda, yakni lahan irigasi (Indramayu) dan tadah hujan (Cianjur).

Acara penggalian data dari rumah tangga tani dilakukan PSEKP bersama API selama 2 hari (25 sd 26 Oktober) di kecamatan Kertasemaya, Indramayu yang berbasis agroekosistem irigasi teknis.

pada kesempatan tersebut, para peneliti melakukan wawancara langsung dengan rumah tangga tani sejumlah 9-rumah tangga tani, yang meliputi “strata” atas (lahan milik sendiri dengan luasan mencapai 1 Ha) sebanyak 3-rumah tangga tani, dan bawah (lahan bukan milik sendiri/sewa) 6-rumahtangga tani. Kedua strata ini kadang juga beririsan karena sistem gadai lahan yang berlaku di masyarakat setempat.

Untuk melengkapi data yang dikumpulkan, pada tanggal 25 Oktober pukul 19.00 dilakukan FGD yang dihadiri beberapa tokoh petani setempat. Dalam FGD tersebut para peneliti kembali melakukan penggalian data secara mendalam dan elaboratif. Muncul dalam pertemuan tersebut, permasalahan-permasalahan mendasar yang secara riil dihadapi oleh petani seperti sistem irigasi yang tidak adil dan dikuasai oleh pihak-pihak tertentu, dimana petani juga menjadi objek eksploitasi dari sistem pendistribusian air. Demikian juga dengan berbagai masalah terkait bantuan pemerintah yang tidak terdistribusi secara merata ke semua petani, serta kinerja PPL yang seringkali justru mempersulit para petani.

Hasil dari penelitian ini akan diolah oleh tim peneliti PSEKP yang direncanakan selesai pada akhir November. Peer review akan dilakukan setelah itu yang akan difasilitasi oleh Aliansi Petani Indonesia dengan melibatkan berbagai pihak yang cukup berkompeten, dengan tujuan untuk mempertajam materi dengan mendengar pendapat berbagai pihak, baik akademisi, organisasi petani, LSM. Penyempurnaan akan dilakukan setelah proses peer review tersebut selesai untuk selanjutnya hasil final penelitian dapat dipergunakan sebagai bahan advokasi terkait kebijakan beras nasional.

 

Read More

“Sebuah Permata di Hamparan Zamrud Khatulistiwa”

Keluarga Stevanus, Petani Kecil dari Pulau Adonara, Nusa Tenggara Timur

Stevanus Carvalo (54) dan istrinya Brigitta (37), tinggal di DesaPajinian, Kecamatan Adonara Barat,Pulau Adonara. Anak-anak mereka terdiri dari Yovan (17), Ratih (11), Christin(5), dan Herman (3).

Pajinian adalah sebuah desa kecil berpenduduk 278KK. Umumnya warga desa Pajinian bekerja sebagai petani ladang (90%), sisanya adalah nelayan, pegawai negeri sipil, dan lain-lain. Kebun yang mereka miliki adalah hasil pembagian dari pemerintah, masing-masing keluarga mendapatkan sekitar 2 hektar/KK

Menurut sejarah, keluarga Pak Stevanus Carvalo adalah tuan tanah di desa Pajinian. Dahulu, kakek Stevanus adalah orang kepercayaan Raja Larantuka yang ditugaskan menjaga daerah-daerah kekuasaan raja. Pada tahun 2000, Pemda Kabupaten Flores Timur membayar sejumlah ganti rugi untuk permukiman dan kebun rakyat kepada ayah Pak Stevanus. Dengan serta ayahnya menolak. Meski memiliki banyak tanah, Pak Stevanus hanya menunjukkan sebagian miliknya yang kini menjadi kebun kangkung di tepi pantai.

Sebagian besar penghasilan warga desa Pajinian berasal dari komoditas pertanian, seperti padi merah, jagung pulut, sorgum, kacang-kacangan, kacang mente, serta kopra.

Setelah hidup merantau di Flores Barat (Ende), Pak Stevanus kembali ke tempat kelahirannya di Pulau Adonara. Ia mendapati lahan pertaniannya tinggal separuh. Sebagian separuh lahan lainnya sudah dikelola oleh saudara-saudara yang tinggal di desa Pajinian. Pak Stevanus kemudian membersihkan lahan tersebut agar tidak lagi menjadi sarang nyamuk. Ia mencoba menanam kangkung rawa. Ternyata setelah hujan turun, kangkungnya mulai tumbuh subur hingga menyebar ke lahan garapan di tepi pantai itu sekitar 75 meter x 60 meter. Separuh dari lahan itu ditanami pohon kelapa.

Sementara itu Brigita, istri Pak Stevanus membawa kangkung ke pasar atau ibu-ibu pedagang “papelele” (pedagang kecil) itu datang ke ladang mereka. Harga 1 bak kangkung Rp.10.000, lalu mereka menjualnya kepada pembeli di pasar dengan harga Rp.15.000-Rp.20.000 per bak. Kadang dalam satu kali panen pada musim hujan ketika air cukup, kangkung pun tumbuh bagus, mereka dalam memanen 4 bak kangkung. Tetapi jika musim bunga atau buah, hasil panen kangkung tidak bagus sehingga mereka menggunakan kangkung itu sebagai pakan ternak babi.

Sementara itu hasil dari buah kelapa, dijadikan kopra lalu dibawa ke pasar, dan ditimbang. Harga kopra di pasar dan di kebun agak berbeda, lebih tinggi harga di pasar.

Ibu Brigita : anak pertama masih duduk di SMA di Wanadon, anak nomer dua duduk di kelas 5 SD, anak ketiga masih di TK, dan anak bungsunya yang masih berumur 3 tahun. Ibu Brigita, ibu rumah tangga yang bekerja membantu suami, membuat pakan babi, jika sore hari membersihkan kebun kangkung bersama anak-anak dan memetik kangkung agar esok paginya bisa dititipkan orang untuk dijual ke pasar. Harga 1 bak kangkung rata-rata Rp.10.000-Rp.15.000,harga 3-4 ikat kangkung adalah Rp.2000.

Sumur ini saya bangun untuk persiapan pada musim kemarau untuk menyirami tanaman kangkung. Sedangkan pada muim penghujan, air di kebun bisa mencapai tinggi sepinggul orang dewasa, atau sekitar 1-1,5 meter dari permukaan air sumur sehingga kebun kangkung ini tidak akan terlihat.”Itulah yang saya katakan tadi, bahwa di sini menjadi sarang nyamuk karena genangan air ini. Dari sinilah nyamuk berasal,” ujar Pak Stevanus. Setelah berubah dari sarang nyamuk menjadi kebun kangkung, ikan-ikan pun berdatangan dan nyamuk hilang, karena jentik-jentik nyamuk dimakan ikan.

Ia sudah mempersiapkan sebuah kolam ikan. Rencananya Pak Stevanus akan memelihara ikan di kolam berkedalaman 2-3 meter. Hal ini juga untuk meredam berkembangbiaknya nyamuk di tempat itu, sehingga tidak membahayakan perkampungan yang hanya berjarak sekitar 50 meter dari sarang nyamuk semula. Pak Stevanus memperkirakan bakal ada 500-1.000 ekor ikan yang dapat dipelihara dalam kolam itu. Ia menjelaskan, ikan bandeng dan belanak dapat dipelihara di daerah tersebut, dengan harga jual berkisar Rp.5000-Rp.7000 per ekor.Jika dia memperoleh 10-20 ekor, Pak Stevanus menganggap itulah nilai ekonomis buat keluarganya. Ia berharap mendapat bantuan dari teman-temannya untuk membuat kolam ikan itu.

Selain menanam kangkung, kelapa, dan memelihara ikan di kolam, tak jauh dari kebun kangkung, Pak Stevanus juga mencoba menanam sorgum dan kacang panjang. Walau tanpa disiram namun hanya mengandalkan kelembaban, kacang panjangnya dapat tumbuh subur dan menghasilkan buah. Pak Stevanus membiarkan serangga-serangga yang berguna untuk mengendalikan serangan hama, seperti semut merah yang dapat mengusir hama penghisap buah atau penggerek batang. Untuk meremajakan tanaman kacang panjangnya, Pak Stevanus menanam kacang panjang di tempat lain dengan lebih terencana dengan pembibitan dan penanaman yang lebih baik.

Hasil kebun kelapa diolah menjadi kopra, kemudian di jual ke pasar dengan harga sekitar Rp.5000per kg, namun jika pembeli datang ke kebun harga kopra hanya berkisar Rp.4000-Rp.4500per kg. Memang lebih murah, karena mereka menjualnya kepada tengkulak, namun mereka tidak keberatan dengan harga itu mengingat dalam keadaan sulit mereka bisa meminta pinjaman kepada tengkulak untuk kebutuhan sehari-hari.

Read More