Aliansi Petani Indonesia

Musyawarah Besar VII Petani-Nelayan Flores-Lembata (FLORATA)

Salah satu kegiatan akbar yang rutin bagi Petani-nelayan di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT),  yaitu Musyawarah Besar VII Petani-Nelayan Sedaratan Flores-Lembata (Florata) dan sekaligus acara tersebut menyambut Hari Pangan Sedunia (HPS) ke-34. Kali ini di Kabupaten Nagekeo, dari segala kesiapan yang begitu matang, acara ini sangat begitu meriah sekali, terlihat warga sekitar menyambut dengan begitu antusiasnya, karena daerah mereka menjadi bagian lawatan kegiatan Musyawarah Besar Petani-Nelayan, yang berpusat di Desa Bidoa, Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo. Kegiatan tersebut merupakan kerja sama pemerintah setempat dan dua Lembaga pemberdayaan masyarakat di Nagekeo, yakni Yayasan Mitra Tani Mandiri (YMTM) dan Yayasan Pelihara.  Yang dilaksanakan selama tiga hari, yaitu sejak tanggal 16-18 Oktober 2014, serta kegiatan ini melibatkan masyarakat dua desa, Ulupulu dan Bidoa’ serta melibatkan tokoh adat setempat.

Kegiatan tersebut melibatkan 1.000 lebih anggota petani-nelayan yang menjadi peserta, serta ada tari-tarian khusus tradisional adat masyarakat NTT dan barisan yang selanjutnya ada Dramben dari ratusan muda-mudi dari salah satu SMK serta pertunjukan pementasan Seni-budaya untuk menyambut kedatangan tamu pemerintahan setempat, seperti Gubernur NTT Frans Lebu Raya, Bupati Nagekeo Elias Djo bersama Wakil Bupati Sikka Drs, Ketua DPRD Kabupaten Nagekeo Marselinus Adjo Bupu, Staf Ahli Bupati Nagekeo, Asisten Sekda Nagekeo, Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Nagekeo, Kapolsek, TNI, Pimpinan SKPD, Camat, Anggota-anggota DPRD Kabupaten Nagakeo, Direktur YMTM Flores Josef Mane. Para ketua kelompok tani dan Tokoh masyarakat serta tamu undangan dari jakarta yaitu Sekjen Aliansi Petani Indonesia (API) yang diwakili oleh Mohammad Nuruddin.

Baca juga  Bangkitnya Buah Lokal Dan Secercah Senyum Petani

Sebuah penyataan dari Gubernur NTT yang menyatakan: “sampai saat ini, masyarakat NTT masih mengkonsumsi beras sebagai pangan utama. Kenyataan ini merupakan tantangan besar bagi pemerintah dan stakeholder terkait untuk dapat mengubah pandangan masyarakat agar dapat kembali mengkonsumsi pangan lokal.” Dan harapan pemerintah setempat Propinsi NTT berharap agar kegiatan Musyawarah Besar Petani-Nelayan ini dapat menghasilkan rekomendasi-rekomendasi yang sangat penting yang akhirnya berguna bagi kemajuan bidang pertanian dan perikanan.

Selain itu pernyataan dari Ketua DPRD Propinsi NTT dalam sambutannnya yang dibacakan oleh Anggota DPRD Propinsi NTT Drs. John Elpy Parera, menyampaikan bahwa “lembaga DPRD Propinsi NTT mendukung kegiatan Mubes Petani-Nelayan sedaratan Flores –Lembata. Sebab kegiatan tersebut merupakan kegiatan positif yang penting dilaksanakan untuk mencapai kemajuan di bidang pertanian dan perikanan, baik dalam tahap pengolahan, produksi, pasca produksi, distribusi maupun pemasaran. Mubes Petani-Nelayan juga merupakan kegiatan yang sangat mendukung program pemerintah untuk mewujudkan ketahanan pangan di NTT.”

Baca juga  PETANI: Tuan Sebuah Negeri

Yang tak kalah pentingnya dalam kegiatan ini adalah salah satunya Diskusi terbuka dengan narasumber yaitu Muhammad Nuruddin (Sekjen Aliansi Petani Indonesia) dan Pater Simon Suban Tukan. Diskusi terbuka ini adalah salah satu sarana untuk sharing pengalaman antar para petani dan nelayan tentang berbagai perkembangan di bidang pertanian dan perikanan, terutama teknologi terkini yang dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas petani-nelayan untuk hasil produksi pertanian dan perikanan, sebab Petani-nelayan sebagai salah satu produsen pangan.

Selain itu ada kegiatan kunjungan atau studi produksi bagi para peserta mubes mereka melakukan berbagai kunjungan, di antaranya adalah kunjungan ke Desa Kelimado, Kecamatan Boawae untuk intraksi secara langsung tingkat keberhasilan penggunaan kotoran ternak menjadi energy biogas yang digunakan untuk memasak dan pupuk organik, serta keberhasilan mereka tentang penerapan pola 234 pertanian/peternakan dan peninjauan pada kolam ikan air tawar. Selain itu, peserta mubes juga mengunjungi Desa tetangga yaitu Wolowea Timur di Kecamatan Boawae disana untuk melaksanakan panen raya jagung lalu mengunjungi ladang garam di Desa Nggolonio, Kecamatan Aesesa.

 

 

Tulis komentar

About Author: ApiCyber Desk

Recent Comments

  • andi riyanto { Moratorium berpengaruh pada pemberian ijin perkebunan kelapa sawit Kami menyadari kebutuhan pengurusan perijinan perkebunan kelapa sawit pasca moratorium Salam Andi 081288463333,08 18198658 } – Apr 22
  • Eva Novarisma { Selamat malam, Kami adalah organisasi yang perduli tentang perempuan kota Tebingtinggi, dan sering disebut Forum Peduli Perempuan tebingtinggi, salah satu dampingan kami adalah para petani ... } – Feb 20
  • Rachele { artikelnya bagus, gua suka, thanks ya } – Feb 03
  • Rifai { Mas Fajri, hasil pengalaman kami kerja-kerja pengorganisasia n di petani kakao, baik itu di Jembrana, Ende, Flores Timur, Polman, Banggai menggambarkan situasi pasar kakao yang dikuasai ... } – Dec 31
  • Fajri Ilham { Fermentasi memang merupakan salah satu cara untuk meningkatkan harga jual dari kakao, tetapi kebanyakan petani kita mengetahui hal tersebut. Ditambah lagi didaerah tempat saya tinggal, ... } – Nov 18
  • maria loretha { Mantaaaaappps bro !!! Tapi masih harus kerja keras mengajak petani maju, melek, dan mandiri 🙂 } – Jul 29
Mendorong akses pasar petani melalui Pemasaran kolektif!