Aliansi Petani Indonesia

Peer Review Hasil Riset

“PENINGKATAN PENDAPATAN PETANI PADI MELALUI PENERAPAN HPP MULTIKUALITAS

DAN PENINGKATAN MUTU PENGILINGAN”

Bagaimana mengatasi agar harga gabah tidak turun pada saat panen raya. Selain itu bagaimana bisa menaikkan pendapatan usaha tani yang luas garapannya yang tidaklah besar. Sekilas masalah ini bisa diselesaikan dengan cara melaksanakan kebijakan penerapan HPP multikualitas dan meningkatkan pendapatan dengan cara mengiling padi pada mesin penggilingan yang permanen(modern) dan sebagainya yang menyangkut hasil proses produksi gabah menjadi beras yang berkualitas dari pecahan butir beras dll, Ini adalah salah satu bagian dari fungsi sebuah penelitian yang telah dilakukan oleh Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian, Kementrian Pertanian yang diwakili oleh Bapak Valeriana Darwis yang memprensentasikan Hasil Penelitian, bersama VECO, AMARTAPADI dan Aliansi Petani Indonesia beberapa waktu lalu. Serta melakukan pemetaan masalah yang ada dibeberapa titik mitra kerja kami. Melihat dan mencatat berdasarkan temuan lapang selama proses penelitian ini, lantas laporan riset ini disusun dan di jadikan Peer Review Hasil Riset. Lalu kami menjadikannya tema dan sebuah laporan kerja hasil riset yaitu: “Peningkatan Pendapatan Petani Padi Melalui Penerapan HPP Multikualitas Dan Peningkatan Mutu Pengilingan”. Salah satu keterangan yang sempat dikutip dari kata pembukaan Nur Hady(API), lalu kata sambutan dari Ferry Widodo(API). Dalam agenda ini API juga turut mengundang para pakar perberasan seperti Bapak Ir Sutarto Alimoeso, MM sebagai penanggap utama dan mengundang Lembaga/Ormas Tani seperti HKTI, SPI, KTNA, Bina Desa, VECO, WAMTI, AOI, YLKI, KRKP, Field, IHCS, (Senin, 11 September 2015).

Baca juga  Harga Beras Terus Naik

Krisis pangan dan Impor pangan selalu menjadi berita hangat dibahas dan hampir setiap hari diberitakan oleh media masa. Pada dasarnya seluruh media tak lepas membicarakan tentang inti dari kenaikan harga beras seperti medium yang biasanya dikonsumsi oleh masyarakat karena sempat mengalami kenaikan harga dari Rp. 8.200 perkilogram menjadi Rp. 12.000 perkilogram dalam waktu dua bulan. Kenaikan harga ini dianggap tidak wajar oleh para pengamat dan pemerintah sempat tidak satu suara dalam mensikapinya. Harga beras medium pada tanggal 28 Februari 2015 paling tinggi terjadi di kota Jayapura yaitu Rp 13.000 perkilogram, kemudian diikuti kota Jakarta dan Manokwari sebesar Rp. 12.000 perkilogram. Harga yang paling rendah di kota Makassar dengan harga beras medium perkilogramnya sebenilai Rp.8.750.

Pada dasarnya trend kenaikan harga beras tak diikuti kenaikan harga gabah di tingkat petani. Petani di Desa Dander Kabupaten Bojonegoro menyebutkan pada saat harga beras Rp. 9.000 sampai 10.000 perkilogram, petani hanya mampu menjual ke tengkulak senilai Rp. 6.500 sampai Rp. 7.000 perkilogram beras. Dan pada saat itu harga gabah kering sawah jenis IR 64 dan Ciherang sebesar Rp. 4.200 dan harga gabah kering gilingnya senilai Rp. 5.100 perkilogram. Artinya yang untung tetap tengkulak sementara petani tidak menikmati kenaikan harga beras. Hal yang sama juga dikatakan oleh Menteri Pertanian, dimana pada saat harga gabah mencapai Rp.6.500 perkilogram petani di sejumlah daerah hanya bisa menjual sekitar Rp. 4.500 /kg. Harga jual gabah akan semakin turun pada saat panen raya yang terjadi di akhir bulan Maret dan April. Untuk mengatasi penurunan harga gabah di tingkat petani, maka pemerintah harus mewajibkan Bulog melakukan pembelian gabah petani. Secara umum pada prinsipnya Perum Bulog siap menyerap gabah atau beras dari petani 2,75 juta ton pada tahun 2015. Penyerapan akan dilakukan secara bertahap. Harga beras atau gabah disesuaikan dengan penerapan HPP yang baru atau yang berdasarkan Inpres No. 5 tahun 2015 yaitu GKP Rp. 3.700 di tingkat petani dan Rp. 3.750 di tingkat penggilingan. GKG Rp. 4.600 /kg di penggilingan atau Rp. 4.650 di gudang Bulog dan HPP beras Rp. 7.300 di gudang Bulog.

Baca juga  SIARAN PERS Laporan Hasil Kajian 2014

Terkait dengan peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani inilah, kemudian API (Aliansi Petani Indonesia) bersama peneliti dari PSEKP Kementan telah melakukan penelitian mengenai hal ini dengan tema: “Peningkatan Pendapatan Petani Padi Melalui Penerapan HPP Multikualitas Dan Peningkatan Mutu Pengilingan”. Tentu saja, hasil penelitian ini masih memerlukan masukan dari berbagai pihak. Maka dari itu API melakukan peer review untuk melengkapi hasil dari penelitian tersebut dengan harapan hasil penelitian tersebut mampu menjadi gambaran bagi kita semua tentang situasi dan kondisi kesejahteraan petani di Indonesia.

Tulis komentar

About Author: ApiCyber Desk

Recent Comments

  • Politik Beras dan Beras Politik – INSISTPress { […] Oleh Wahyu Arifin. Sumber: api.or.id/polit ik-beras-dan-be ras-politik – […] }
  • marketing kpr bri syariah jakarta { Thank you for the auspicious writeup. It in reality used to be a enjoyment account it. Look advanced to more brought agreeable from you! By ... } – Nov 28
  • cecil { sekolah lapangan kakao menjadi bagian dari pemberdayaan untuk meningkatkan pngtahuan petani dalam berbudidaya kakao. yang baik dan benar. Harga kakao baik akan ditentukan dengan kualitas ... } – Sep 07
  • Mitra Nasa { Info yang Bagus pak untuk pembuatan fermentasi pakan butuh bahan apa aja pak? Terima Kasih } – Nov 04
  • andi riyanto { Moratorium berpengaruh pada pemberian ijin perkebunan kelapa sawit Kami menyadari kebutuhan pengurusan perijinan perkebunan kelapa sawit pasca moratorium Salam Andi 081288463333,08 18198658 } – Apr 22
  • Eva Novarisma { Selamat malam, Kami adalah organisasi yang perduli tentang perempuan kota Tebingtinggi, dan sering disebut Forum Peduli Perempuan tebingtinggi, salah satu dampingan kami adalah para petani ... } – Feb 20
Mendorong akses pasar petani melalui Pemasaran kolektif!
Translate »