Selasa, 8 Fberuari 2011

SURABAYA, KOMPAS – Perum Bulog Divisi Regional Jawa Timur segera menyerap gabah petani. Saat ini sudah tercatat 6.800 mitra yang hendak melakukan pembelian di seluruh daerah di Jatim. Targetnya, selama tahun 2011, Bulog Jatim akan membeli satu juta ton gabah dari petani.

Sementara itu, Bulog Divre Jawa Tengah berjanji akan memberi kemudahan pembelian gabah dan beras dari para petani untuk mengantisipasi merosotnya harga pada saat panen raya.

”Syaratnya, para petani bersabar. Tidak terburu menjual gabahnya ke tengkulak,” kata Kepala Perum Bulog Divre Jateng Hery Susetyo, pada rapat dengan anggota Komisi B DPRD Jateng, Senin (7/2).

Sebaiknya, ujar Hery, gabah dijemur dahulu seusai panen sehingga memenuhi syarat pembelian. Harga gabah kering giling dipatok Rp 3.345 dan harga beras di gudang Rp 5.060 per kg.

Hery menjelaskan, para petugasnya akan melakukan pengecekan pembelian kepada petani seusai panen raya. ”Jadi, gabah atau beras yang mau disetor tidak perlu dibawa dulu ke gudang Bulog,” kata Hery, saat rapat yang dipimpin Ketua Komisi B DPRD Jateng Moch Wasiman.

Saat ini, Bulog Jateng mulai melakukan pembelian, meski belum maksimal, yakni 50 ton gabah dan 575 ton beras.

Pihaknya juga sudah menginstruksikan satuan tugas di semua subdivre di Jateng untuk turun melakukan pembelian gabah dari petani. Meski begitu, anggota DPRD menyebut, respons Bulog memang lambat dalam mengantisipasi jatuhnya harga gabah jelang panen raya.

Ketika harga beras tinggi, Bulog cepat sekali melakukan operasi pasar beras, tetapi saat harga gabah jatuh tidak sigap membeli gabah dari petani.

Di Yogyakarta, Bulog juga kembali melakukan pembelian. Akan tetapi, sejumlah petani tetap khawatir harga akan tetap jatuh. Jumakir (50), petani di Berbah, Sleman, mengungkapkan, panen padi segera ia alami sebulan lagi. Namun, ia khawatir harga beras justru akan turun karena panen yang bersamaan. Selain itu, cuaca buruk berupa hujan berkepanjangan juga akan menurunkan kualitas padi.

”Setiap hari mendung dan hujan. Jika sinar matahari kurang maka pengeringan gabah akan sulit. Akibatnya, banyak buliran beras yang patah setelah digiling karena pengeringan yang tak optimal,” tuturnya.

Serangan wereng

Selain dihantui turunnya harga dan buruknya kualitas hasil panen, para petani di sejumlah daerah juga dihantui serangan hama wereng.

Di seluruh wilayah eks Karesidenan Surakarta yang meliputi Kabupaten Klaten, Boyolali, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar, dan Wonogiri, misalnya, selama Januari 2011 ini wereng coklat telah menyerang 2.551 hektar. Wereng juga menyerang sawah di Banyuwangi.(ETA/NIT/MKN/HEI/ABK/ WIE/EKI/WHO)

(Sumber :http://cetak.kompas.com/read/2011/02/08/03570886/bulog.segera.beli)