Selasa, 08 Maret 2011

JEMBER, KOMPAS – Harga gabah di tingkat petani anjlok hingga di bawah harga pembelian pemerintah. Selain karena panen semakin luas, harga gabah merosot karena kualitas gabah menurun. Hujan terus-menerus mengakibatkan kadar air dalam gabah tinggi.

Kini, harga gabah di tingkat petani hanya Rp 2.200-Rp 2.400 per kilogram, padahal harga pembelian pemerintah (HPP) sebesar Rp 2.640 per kg. Harga gabah dengan kualitas nol gabuk atau hampa kotoran Rp 2.800-Rp 2.900 per kg. Pekan lalu, harga gabah di tingkat petani masih Rp 2.700-Rp 2.900 per kg dan harga gabah hampa kotoran Rp 3.300 per kg.

”Nasib petani kini terpuruk. Gabah dibeli murah dan hasil produksi padi merosot jauh (akibat terserang hama). Sudah empat musim ini hasil produksi gabah merosot tajam,” kata Mufti, petani di Desa Kemuninglor, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Senin (7/3).

Hujan yang terus-menerus juga membuat perusahaan penggilingan padi kesulitan menjemur padi. Mereka pun membatasi pembelian gabah, padahal panen masih berlangsung. Hal ini juga memicu penurunan harga gabah.

”Saya diminta membatasi kirim gabah ke gudang karena keterbatasan lantai lemur. Gabah dalam kemasan karung yang disimpan di gudang ada yang tumbuh daun,” kata Jumari, pedagang perantara di Desa Kemuninglor.

Dari Banyumas, Jawa Tengah, dilaporkan, tingginya curah hujan dan tiupan angin yang cukup kencang memicu serangan hama hawar daun bakteri atau yang sering disebut hama kresek meluas. Hama ini paling tidak menyerang tanaman padi seluas 1.213 hektar di Kabupaten Cilacap, Banyumas, Banjarnegara, dan Purbalingga. Luas sawah yang terserang hama ini bertambah 156 hektar dibandingkan awal tahun ini.

Sodikin (59), petani di Desa Losari, Kecamatan Rawalo, Banyumas, mengatakan, jamur kresek menempel di batang padi sehingga merusak pertumbuhan rumpun padi. Jamur itu menyerang padi muda hingga tanaman padi yang akan berbulir. Akibatnya, bulir padi tidak berisi.

Sukimin (39), petani Desa Sampang, Kecamatan Sampang, Cilacap, menuturkan, penyakit kresek biasanya menular dari satu petak ke petak sawah lain. Bahkan bisa menyebabkan kematian terhadap tanaman padi jika tidak segera ditangani.

”Musim tanam kering tahun lalu, sawah saya juga terserang penyakit kresek. Akibatnya, produksi yang biasanya 25 kuintal dari lahan padi setengah hektar, anjlok hingga 25 persen, menjadi tinggal 18 kuintal,” katanya.

Kepala Laboratorium Pengamatan Hama dan Penyakit wilayah Banyumas, Tri Gunawan, mengatakan, serangan hama kresek menjadi ancaman utama pertanian tanaman pangan di Jateng bagian barat selain tikus dan wereng. Dia mengimbau petani mengganti varietas padi dengan jenis tahan jamur, seperti Inpari dan Mekongga.

Serangan hama membuat sejumlah petani gagal panen. Di Tegal, hal tersebut memicu kenaikan harga beras karena pasokan berkurang. Harga beras rata-rata naik Rp 100 per kg. (sir/gre/wie)

http://cetak.kompas.com/read/2011/03/08/06155010/harga.gabah.jatuh.di.bawah.hpp