Kamis, 03 Maret  2011

Medan, Kompas – Menteri Pertanian Suswono menyayangkan kinerja Perum Bulog yang dinilai lamban membeli beras sebagai cadangan pangan nasional. Padahal, stok beras Bulog yang cukup sangat penting sebagai modal stabilisasi harga beras.

”Kita tidak ingin (peristiwa tahun 2010) terulang kembali, di mana stok Bulog kecil sehingga sulit melakukan stabilisasi harga beras. Kita menginginkan stok Bulog kuat,” ujar Suswono, Rabu (2/3) setelah secara simbolis meluncurkan ekspor sayur dan buah dari Kabupaten Karo, Sumatera Utara, ke Singapura.

Kelambanan Bulog melakukan pengadaan beras tampak dari realisasi pembelian beras di wilayah Jawa Timur yang jauh dari target. ”Alasan Bulog, karena tak ada payung hukum,” katanya.

Padahal, Kementerian Pertanian (Kemtan) sudah mengeluarkan Peraturan Mentan Nomor 5 Tahun 2011 terkait pembelian gabah atau beras di luar standar yang ditetapkan dalam Instruksi Presiden (Inpres) No 7/2009 tentang Kebijakan Perberasan. ”Bulog tetap ingin payung hukum sesuai keputusan dalam rapat Menko Perekonomian,” ujarnya.

Pengamat perberasan Husein Sawit sebelumnya menyatakan, Perum Bulog menginginkan payung hukum pembelian beras atau gabah di luar harga pembelian pemerintah (HPP) dalam bentuk inpres karena inpres bisa menjadi dasar hukum yang kuat. Tanpa inpres, personel dan staf Bulog tidak berani membeli gabah atau beras di luar kualitas standar HPP.

Suswono menyatakan, tahun 2010 surplus produksi beras hanya 4,1 juta ton. Surplus sebesar itu riskan bagi ketahanan pangan nasional. Apalagi, konsumsi nasional 2,6 juta ton per bulan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menginginkan surplus produksi beras 10 juta ton dalam lima tahun mendatang.

Terkait dengan impor beras yang masih dilakukan Bulog, Suswono menyebutkan, memasuki panen raya Maret-April 2011, beras impor ditahan masuk agar tidak mendistorsi pasar.

Badan Pusat Statistik dalam angka ramalan I memperkirakan produksi padi tahun 2011 naik 1,35 persen.

Suswono mengungkapkan, dibandingkan dengan produksi tahun 2010, ada kenaikan. ”Kalau melihat di lapangan, daerah-daerah produksi beras tidak mengkhawatirkan. Tahun ini ada harapan produksi beras lebih bagus,” katanya.

Dia mengakui, perkiraan peningkatan produksi beras 1,35 persen masih jauh dari target kenaikan 7 persen. Namun, pihaknya optimistis target masih bisa dikejar dengan optimalisasi penanaman padi pada musim tanam II dan III melalui pola intensifikasi dan ekstensifikasi.

Suswono juga senang menerima masukan dari media massa yang melaporkan langsung kondisi pertanaman padi di daerah-daerah. Informasi ini bagi Kemtan penting agar bisa melakukan penanganan secara tepat sekaligus percepatan penanaman pada musim tanam II.

Peningkatan produksi dilakukan melalui pola intensifikasi dengan menerjunkan 139 peneliti di 139 kabupaten sentra produksi beras. Mereka akan melakukan pemantauan dan pendampingan. (MAS/MHF)

http://cetak.kompas.com/read/2011/03/03/03563967/mentan.bulog.lamban