Jakarta – Pemerintah menjamin ketersediaan stokberas hingga musim panen berikutnya aman. Bahkan diperkirakan hingga Juni 2010 surplus beras mencapai 6,690 juta ton. Hal ini untuk menepis kekhawatiran masyarakat terhadap kelangkaan beras yang menimbulkan naiknya harga beras di pasaran sejak beberapa bulan lalu.

Berdasarkan pantauan pemerintah yang dilakukan oleh 3 kementerian, yaitu Kementerian Perdagangan, Kementerian Pertanian, dan Kementerian BUMN, serta Bulog di Pasar Induk Beras Cipinang pada kamis 21 Januari 2010 menunjukan bahwa harga beberapa jenis beras di tingkat pedagang grosir PIBC mengalami kenaikan. Sebagai contoh, beras jenis IR64 – II mengalami kenaikan sebesar Rp 250,- yaitu dari harga Rp 6.000,- menjadi Rp 6.250,-.

Dijelaskan oleh Menteri Pertanian Suswono, bahwa memang ada beberapa masalah yang timbul sehingga menyebabkan pasokan beras berkurang, diantaranya adalah mundurnya musim tanam 2009/2010 akibat dampak perubahan iklim yang mengakibatkan mundurnya puncak musim tanam. Hal lain, yaitu terjadinya banjir di beberapa provinsi (Riau, NAD, Sumut, dan Jambi) dan kekeringan antara lain di DIY, Jawa Timur yang menyebabkan tanaman rusak sampai puso sehingga perlu penanaman ulang.

Namun demikian, pemerintah menjamin bahwa stok beras yang dimiliki Bulog masih aman dengan total stok beras mencapai 1,7 juta ton. Apalagi berdasarkan realisasi tanam Oktober – Desember 2009, maka diperkirakan panen akan terjadi pada bulan Januari, Pebruari, dan Maret 2010 dengan luas panen 3,213 juta ha. Dengan rincian pada bulan Januari 2010 panen seluas 398 ribu ha, Pebruari panen seluas 1,033 juta ha dan Maret panen seluas 1,781 juta ha. Jika luas panen periode Januari – Maret 2010 mencapai 3,213 juta ha, maka diperkirakan akan menghasilkan produksi beras 16,44 juta ton GKG (Gabah Kering Giling) maka pada bulan Januari – Maret produksi beras akan mengalami surplus sebesar 2,387 juta ton.

Sementara itu, perkiraan produksi padi Januari – Juni 2010 menunjukkan jika sasaran tanam MT 2009/2010 seluas 7,615 juta ha dapat tercapai, maka luas panen dari Januari– Juni 2010 diperkirakan akan mencapai 7,048 juta ha. Jika luas panen tersebut bisa tercapai,dengan mengacu pada tren kenaikan produktivitas 3 tahun terakhir (5,120 ton/ha),maka diperkirakan beras akan mengalami surplus sebesar 6,690 juta ton.

Sementara itu, pemerintah juga melakukan berbagai upaya agar sasaran produksi padi pada tahun 2010 tercapai diantaranya dengan:

Peningkatan Produksi Padi melalui SL- PTT, di mana pada tahun 2010 seluas 2,5 juta ha padi (2 juta ha padi non hibrida; 200 ribu ha padi hibrida dan 300 ribu ha padi gogo). Kegiatan yang akan dilakukan dalam SL- PTT antara lain:
• Pendampingan Teknis Perbaikan Teknologi Budidaya (PTT);
• Penggantian varietas rendah ke sedang dan ke tinggi termasuk hibrida
• Memberikan bantuan Urea, NPK, dan Organik
• Memberikan bantuan Buma/ Bakal Alsin, Bantuan APPO
• Jaminan Pasar dengan Pola Kemitraan (antara lain dengan Bulog, distributor pupuk, produsen benih dan sebagainya)
Perluasan Areal Tanam
Yaitu dengan meningkatkan IP dan memanfaatkan lahan sawah hasil pencetakan baru serta hasil perbaikan jaringan irigasi (JITUT, JIDES, TAM) ; Pengamanan Produksi, Pengendalian dan penanganan OPT dan DFI ; Penyebarluasan informasi luas panen, prakiraan iklim, dan SLI, Bantuan alsin panen dan pasca panen ; Peninjauan HPP setiap periode tertentu, Pengembangan Kelembagaan dan Pembiayaan ; Optimalisasi Poktan/ Gapoktan ; Optimalisasi peran dan peningkatan jumlah penyuluh,pengawas benih, POPT, PPNS Pupuk ; Pemberdayaan POSKO – POSKO ; Sosialisasi dan percepatan realisasi KPPE dan KUR ; Kemitraan antar petani dan stake holder. (Biro HUKMAS/Haryanto)

Update Tanggal : 01-Jan-2010, 13:21:36
Mentan: HPP Gabah/Beras Naik 10%
Sumber Berita : Staf Ahli/Tenaga Ahli

JAKARTA – Ketika para petani khawatir pemerintah menaikan HET pupuk, pemerintah justru menaikkan HPP gabah dan beras. Ini pertama kalinya dalam sejarah pertanian Indonesia, HPP gabah naik sebelum HET pupuk disesuaikan. Biasanya HPP gabah/beras naik bersama kenaikan HET pupuk. Mentan Suswono mengumumkan bahwa per-1 Januari 2010 HPP (harga pembelian pemerintah) untuk gabah dan beras naik 10%. Keputusan ini telah ditetapkan melalui Inpres No 7/2009 yang ditandatangani Presiden SBY tanggal 29 Desember 2009.

Pengumuman kebijakan baru tentang perberasan itu disampaikan oleh Menteri Pertanian melalui konferensi pers bersama Wamentan/Deputi Menko Perekonomian Bayu Krisnamurti dan Dirut Bulog Soetarto Alimuso di Kantor Menko Perekonomian Jakarta, Kamis (31/12) siang.

Berdasarkan Inpres No 7/2009, HPP gabah kering panen (GKP) di petani (kadar air max 25%, kadar hampa/kotoran 10%)per 1 Januari naik 10% dari Rp 2.400 menjadi Rp 2640 per kg. HPP GKP di penggilingan (kadar air max 25%, kadar hampa/kotoran max 10%) naik dari Rp 2440 menjadi Rp 2685 per kg. HPP gabah kering giling (GKG) di penggilingan (kadar air max 14%, kadar hampa/kotoran max 3%) juga naik 10% dari Rp 3000 menjadi Rp 3300 per kg. HPP GKG di gudang Bulog naik dari 3040 menjadi Rp 3345 per kg. Dan HPP beras di gudang Bulog (kadar air max 14%, butir patah max 20%, kadar menir max 2%, derajat sosoh min 95%) naik 10% dari Rp 4600 menjadi Rp 5060 per kg.

Selain mengumumkan kenaikan HPP gabah dan beras, Mentan juga menegaskan bahwa HET pupuk dipertahankan alias tidak dinaikkan minimal sampai akhir Maret 2010. Kebijakan baru ini merupakan bukti kepedulian pemerintah terhadap petani. “Ini sejarah baru, karena biasanya kenaikan HPP gabah/beras naik disertai kenaikan HET pupuk. HPP naik duluan diharapkan menambah semangat tanam petani, sekaigus bisa meningkatkan pendapatan saat panen,” jelas Mentan.

Mentan menjelaskan, pihaknya sedang memperjuangkan kenaikan subsidi pupuk melalui mekanisme APBN-P. “Semoga usaha ini berhasil mendapat dukungan semua pihak terkait. Kalau pun tidak sampai berhasil, saya berjanji akan membuat rumusan yang tidak merugikan petani. Pemerintah tak mungkin mengurbankan petani yang merupakan bagain mayoritas dari penduduk Indonesia,” tegasnya.

Selain menetapkan HPP gabah dan beras, jelas Mentan Suswono, Inpres No 7 itu juga berisi pokok-pokok kebijakan beras dan pertanian pangan. Antara lain mendorong dan menfasilitasi penggunaan benih padi unggul bersertifikat, penggunaan pupuk anorganik dan pupuk organic secara berimbang dalam usaha tani padi, serta mendorong dan menfasilitasi pengurangan kehilangan pasca-panen padi.

Inpres itu juga berupaya mengendalikan pengurangan luas lahan irigasi teknis, menfasilitasi rehabilitasi lahan dan penghijauan daerah tangkapan air serta rehabilitasi jaringan irigasi; mendorong dan menfasilitasi peningkatan investasi usaha padi, menetapkan kebijakan penyediaan dan penyaluran beras bersubsidi bagi kelompok masyarakat berpendapatan rendah. Selain itu, juga menetapkan kebijakan penyediaan dan penyaluran cadangan beras pemerintah untuk menjaga stabilitas harga beras, menanggulangi keadaan darurat, bencana, dan rawan pangan; serta menetapkan kebijakan ekspor dan impor beras secara terkendali dalam rangka menjaga kepentingan petani dan konsumen.

Pada kesempatan itu, Mentan menegaskan produksi padi 2009 mencaopai 63,8 juta ton GKG atau tumbuh 5,83% dari produksi 2008. Setelah dikurangi kebutuhan, produksi beras diperkirakan surplus 3-4 juta ton. Pasokan beras masih lancar. “Sampai akhir Desember pasokan ke Cipinang lancar, di atas 3000 ton per hari. Padahal 2000 ton per hari saja sudah lumayan baik.”

Kepala Bulog Soetarto Alimuso membenarkan. Kondisi persediaan pangan nasional terbilang aman. Stock beras digudang Bulog pada akhir tahun 2009 mencapai 1,7 juta ton. “Setelah dikurangi kebutuhan untuk raskin, masih cukup untuk empat bulan ke depan.” Sebelum cadangan terkuras, panen raya sudahakan terjadi pada Februari-Maret 2010.(dj)