Senin, 21 Februari 2011

CIREBON, KOMPAS – Petani di Kabupaten Cirebon dan Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, mendesak Bulog segera membeli gabah mereka. Meskipun belum semua panen, harga gabah yang terus turun membuat petani khawatir akan semakin merugi pada musim kali ini.

Tarma (54), petani di Desa Cirebon Girang, Kecamatan Talun, Cirebon, Minggu (20/2), mengatakan, lima ton gabah kering miliknya dijual kepada pedagang Rp 3.500 per kilogram (kg). Dua minggu lalu, harga gabah kering giling (GKG) masih berkisar Rp 4.000 per kg.

”Saat harga masih tinggi, Bulog harus segera beli, jangan menunggu harga anjlok. Kalau begitu terus, petani terus rugi,” kata Tarma, yang mengelola satu hektar sawah. Pada panen kali ini, modal tanamnya yang Rp 5 juta bisa tertutupi. Namun, ia masih harus membayar biaya sewa sawah Rp 4 juta per tahun.

”Keuntungan nyata yang bisa kami rasakan adalah tidak perlu membeli beras untuk makan sehari-hari. Kami menyisakan sebagian gabah untuk makan keluarga,” kata Tarma, yang menanggung tiga anak itu.

Ipang (42), petani di Desa Tinumpuk, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, hanya memperoleh tujuh kuintal dari satu per tujuh hektar (100 bata) sawah yang dikelolanya. Gabah kering panen (GKP) itu dijual Rp 2.500 per kg. Harga pembelian pemerintah (HPP) untuk GKP dengan kadar air maksimum 25 persen Rp 2.640 per kg.

Meskipun panen mulai berlangsung, sejumlah pengusaha penggilingan beras yang menjadi mitra kerja Bulog belum banyak membeli gabah petani di Cirebon dan Indramayu. Sujadi (39), pengelola penggilingan Putra Bungsu di Kapetakan, Cirebon, misalnya, hingga pekan keempat Februari masih mendatangkan gabah dari Demak, Jawa Tengah.

”Harga di sini masih tinggi, rata-rata di atas Rp 3.000 per kg, sedangkan di Jateng sudah bisa Rp 2.500 per kg,” katanya. Dua hari sekali Sujadi mendatangkan 8,5 ton gabah dari Jateng.

Kepala Dinas Pertanian, Peternakan, Perkebunan, dan Kehutanan Kabupaten Cirebon Ali Effendi mengatakan, turunnya harga gabah di daerahnya juga dipicu oleh masuknya gabah dari daerah lain, seperti Jateng dan Majalengka yang lebih dulu panen. Dari 84.000 hektar sawah padi di Cirebon, kurang dari lima persen di antaranya yang sudah panen.

Terkait belum banyaknya gabah petani Cirebon yang dibeli mitra kerja Bulog, Kepala Perum Bulog Subdivisi Regional (Subdivre) Cirebon Opa Setiana mengatakan, hal itu bergantung pada mekanisme pasar.

Kepala Subdivre Bulog Indramayu Darsono mengatakan, ”Mitra kerja kami sudah mulai membeli gabah petani Indramayu.”

Fleksibel

Petani di Lampung berharap pemerintah menerapkan harga yang fleksibel dalam pembelian GKP. Selain melindungi petani saat harga jatuh, Bulog juga tidak kesulitan memenuhi persediaan beras saat harga tinggi.

”Pemerintah mestinya lebih berperan aktif (membeli gabah). Tidak bisa lepas tangan, apalagi dengan sekadar impor,” ujar Yonatan (42), petani di Pekalongan, Kabupaten Lampung Timur.

Di Kabupaten Jember, Jawa Timur, sebaiknya janji Gubernur Soekarwo untuk memberikan bantuan lantai jemur kepada kelompok tani bisa direalisasikan agar petani dapat menikmati harga gabah saat panen raya. Setiap panen raya, gabah petani selalu dihargai murah karena kandungan air tinggi.

Ketua Forum Komunikasi Petani Jumantoro di Jember, Minggu, mengatakan, produksi gabah petani dihargai murah karena berkualitas rendah. (JON/SIR/REK)

http://cetak.kompas.com/read/2011/02/21/04033892/petani.desak.bulog.segera.beli