Petani Harus Berani Manfaatkan Dana Desa

Dana desa masyarakat tani harus digunakan secara aktif, khusus untuk BUMDES dan BUMDES bersama.Hal ini disampaikan Kasi pembangunan kawasan Jawa Timur Bandung ).

“Masyarakat Petani harus terlibat aktif dalam pembangunan, khususnya di sektor pertanian. Salah satunya dengan menggunakan dana desa untuk BUMDES, ”terang Bandung mengutip  Kantor Berita RMOLJatim .

Ditambahkan Bandung, dengan menggunakan dana desa di BUMDES, paling tidak mereka dapat terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan, pengawasan, untuk memanfaatkan peluang bisnis di pertanian.

Selain itu, petani juga harus memiliki pemahaman akan pasar. Jadi tidak melulu hanya produksi saja.

“Pola pikir petani harus diubah. Harus paham pasar, mulai perencanaan produksi dan permintaan pasar harus disesuaikan. Baik dari sisi kualitas dan kuantitas. Dan itu terus dilakukan, ”tandasnya.

Hadir dalam acara tersebut Dispartan Jatim, diwakili Koesworo, Kadin Jatim diwakili Anni Rahmat, Bank Jatim diwakili Muliano Prasetyo, Komisi B DPRD Jatim, dan staf ahli Kementerian Desa Gusdin

Dari Kelompok Petani, hadir Serikat Petani Tuban, Aspek Probolinggo, Serikat Petani Lumajang, Asosiasi Petani Lamongan, Fomus Petani Jombang, Serikat Petani Kediri, CLG Karya Bersatu Blitar, Serikat Petani Madu Malang, Poktan Koi Kuwut Malang, Petani Kopi Gunung Kawi, SP Gunung Biru Batu, Brenjonk Mojokerto, LMDH Tulungagung, dan Asosiasi Petani SDR. 

SUMBER:  http://rmoljatim.id/2020/02/16/petani-harus-berani-gunaan-dana-desa/?fbclid=IwAR0yqmkBdLvPs-D_om9fzZrftGbsFqMvCAiGtrW53kQNfsOU__SFSY

Read More

Komisi B DPRD Jatim Urai Persoalan dan Potensi di Sektor Pertanian

Jawa Timur | ikilhojatim – Anggota Komisi B DPRD Jawa Timur Erma Susanti menguraikan berbagai pembahasan dan potensi yang ada di sektor pertanian, khususnya membahas peraturan daerah (Perda) Nomor 5 Tahun 2015 yang diterbitkan oleh Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2013 Tentang Perlindungan dan Pemberdayaan Petani.

Terkait ada 7 perlindungan pada petani yang termaktub dalam Perda Nomor 5 ini, yaitu mengenai saran dan prasarana produksi, perlindungan atas prioritas unggulan strategis, penetapan HPP pada pemerintah, perlindungan penyangga produksi, pertanian pertanian, sistem perlindungan, dan hak-hak laba.

Hal tersebut disampaikan langsung oleh Erma dalam gelaran Sarasehan Tani yang diselenggarakan oleh Aliansi Petani Indonesia (API) Jawa Timur pada Rabu (12/2) kemarin di Museum Nahdlatul Ulama, Surabaya.

Perda ini, kata Erma, sudah cukup mewakili tentang petani, isu yang paling utama tentang pembahasan agar benar-benar bisa diimplementasikan dan diefektifkan oleh berbagai pihak dan menuai.

“Kalau kita melihat dari 7 perlindungan tadi, ini baru dijawab masih satu melalui Pergub, demikian terkait asuransi pertanian. Jika kita melihat pelaksanaannya, itu memang sudah memenuhi jauh dari kuota yang diberikan oleh pusat. Kawan-kawan petani kita harus memiliki kepentingan untuk menggunakan asuransi dalam pertanian yang akan terjadi, hanya ada beberapa daerah di jawa timur seperti Madura yang menariknya masih rendah, ”paparnya.

Itu juga menyinggung tentang tata niaga yang masih buruk. Terkait dengan tengkulak, masa depan panen terjadi atas produksi, harga yang turun dan sebagainya. Maka, pemerintah provinsi memiliki tugas untuk menjadi penyangga produksi.

“Harus dipikirkan suatu sistem di mana terjadi kompilasi atas produksi yang dihasilkan pada saat calon pemenang strategis, nanti akan kami (Komisi B, Merah) terkait dengan BUMDes, pihak-pihak swasta, dan lainnya. Saya pikir ini harus di Pergub-kan, ”jelasnya.

“Kemudian yang tak kalah pentingnya, Pergub tentang penyuluhan dan pendampingan. Dalam perda ini (Perda Nomor 5, Merah) mengamanahkan desa itu sebagai satu penyuluh. Perlu kita membutuhkan 3000 penyuluh, kita harus memiliki data yang lengkap. Selain itu juga pak Mentri mengelu-elukan konstra tani yang nanti dasar-nya berada di kecamatan. Dan yang paling penting adalah sistem informasi, terkait hama dan sebagainya, ”paparnya.

Selain itu, Erma juga melaporkan terkait perkembangan dan langkah-langkah yang telah dilakukan oleh Komisi B mengenai peningkatan jumlah pupuk bersubdi di Jawa Timur. Erma meminta agar seluruh aliansi petani di daerah bisa mengawal dinas-dinas terkait dalam persiapan RDKK dan penyaluran pupuk bersubsidi. “Kalau terjadi lagi, bisa-bisa nanti subsidiinya dipangkas lagi oleh Menteri Keuangan,” katanya. (dik / hm)

SUMBER:  https://ikilhojatim.com/komisi-b-dprd-jatim-urai-persoalan-dan-potensi-di-sektor-pertanian/?fbclid=IwAR2QoLKELlddxeshHxKLD2mYxfBnAdNeY0J_IJVQmd

Read More

Pemasaran Bersama Kakao di Polewali Mandar-Sulawesi Barat

Mengroganisir Pengolahan Pasca Panen dan Pemasaran bersama Biji Kakao di Polewali Mandar-Sulawesi Barat

 

Polewali Mandar, 14 Oktober 2019

Aliansi Petani Indonesia (API) Memperkuat Organisasi Petani yang Tergabung Dalam Koperasi Amanah di Polewali Mandar di dalam Kelembagaan Koperasi, Pengolahan Pasca Panen dan Pemasaran Bersama Biji kakao, Sehingga Dapat Meningkatkan Akses Pasar dan Harga di Tingkat Petani Kecil di Polewali Manadar.

Koperasi Amanah di Kabupaten Polewali Mandar bertujuan untuk menberikan layanan pemasaran kakao kepada anggotanya. Selaian pemasaran bersama layanan utama koperasi Amanah adalah melakukan pengolahan pasca panen dan memberikan pemberdayaan kepada petani melalui pelatihan dan sekolah lapangan untuk meningkatkan produksi dan pengedalian hana terpadu tanaman kakao. Saat ini anggota Koperasi Amanah mencapai 1600 petani sebagai produsesn kakao.

Sejak Tahun 2009 hingga 2015 produktifitas kakao di polewali mandar sangat rendah. hal ini dipengaruhi oleh beberapa faktor budidaya tanaman diantaranya

Tanaman kakao yang sudah tua, mayoritas pohon kakao di kebun-kebun milik petani telah berumur 15-25 tahun. Pohon-pohon kakao yang sudah tua selain produktifitasnya sangat rendah juga banyak yang terserang penyakit, seperti VSD dan jamur akar.

 

Perubahan Iklim, pengaruh cuaca sangat signifikan mempengaruhi produktifitas kakao. Kemarau yang panjang dan curah hujan yang tinggi membuat bunga kakao banyak yang rontok.

 Bibit yang kurang unggul, sebagian besar petani masih mempertahankan tanaman yang sudah tua.  mayoritas belum melakukan rehabilitasi tanaman dengan bibit atau entrees pohon yang mempunyai produktifitas tinggi. Mereka khawatir dengan merehabilatisi tanaman kakao yang sudah tua akan membuat putus produksi dan bibit yang mereka gunakan tidak produktif. Sebagian Besar beranggapan bahwa tidak ada jaminan jika bibit atau entress yang digunakan mampu berproduksi lebih banyak.

 banyaknya serangan hama dan penyakit kakao, pengerak buah kakao (PBK), Helopeltis, Penggerek Batang, vascular streak dieback (VSD) adalah ancaman utama produktifitas kakao di Polewali Mandar.

Sementara kabanyakan petani masih menjual biji kakao kepada tengkulak. Padahal jika biji kakao diolah dengan fermentasi akan meningkatkan harga 3000 perkilo. Tidak adanya pengolahan pasca panen dan ketergantungan dengan tengkulak maka harga ditingkat petani cenderung dipermaikan dan petani tidak punya nilai tawar terhadap tengkulak. Sementara dengan rantai pemasaran yang sangat pajang, harga biji kakao ditingkat petani rendah.

Meningkatkan kapasitas Amanah di dalam Memperbaiki Produktifitas

 Untuk meningkatkan produksi kakao ditingkat petani tidak cukup hanya memberikan bantuan Pupuk, Alsintan kemudian semua masalah kakao dapat diatasi, tetapi membutuhkan pendampingan secara terus-menerus, sampai kelompok/Koperasi petani dapat menjalankan kegiatan usaha dan pelayanan anggota secara mandiri.

Upaya untuk meningkatan produksi, API bersama organisasi Petani “Amanah” menyediakan sekolah lapangan budidaya tanaman kakao dan pengedalian hama terpadu kepada kelompok-kelompok tani. Melalui kegiatan ini API dan Amanah memberikan penyuluhan mengenai pembibitan tanaman kakao, seleksi entres dan pengedalian hama terpadu. API dan Amanah juga memberikan penyuluhan mengenai produksi dan aplikasi pupuk cair “Nutrisi Tanaman kako” untuk mencegah hama dan meningkatkan produksi. Selama kegiatan sekolah lapangan dan pelatihan-pelatihan kepada kelompok tani dibantu juga oleh Rikolta dan LSM Wasiat

Sejak tahun 2016 hingga tahun 2018 kegiatan ini telah menjangkau 80 kelompok petani, 1000 petani sebagai anggota Amanah. Dengan kegiatan tersebut upaya pengedalian hama dapat dapat ditingkatkan. Hasilnya panen petani meningkat dari 808 kg menjadi 1320 kg per musim. Total Luas kebun yang dikelola oleh petani kecil sebagai anggota Amanah ±1600 hectar, potensi produksi saat ini 2.600 ton/musim.

Dengan adanya kebutuhan petani terhadap pupuk cair “Nutrisi tanaman kakao”, maka Koperasi amanah juga memproduksi pupuk cair “nutrisi tanaman kakao” untuk melayani anggota. Oleh karena itu penggunaan pupuk cair ini menekan biaya pupuk dari Rp 4.000.000 menjadi 1. 500.000 per hektar.

Meningkatkan Kapasitas Amanah di dalam Sertifikasi dan Pengolahan Pasca Panen

Terdorong adanya peluang dan permintaan pasar API bersama dengan Rikolto dan WASIAT memperkuat Amanah di dalam sertifikasi dan pengolahan pasca panen. Melalui Sertifikasi dan Pengolahan biji kakao dengan fermentasi, Koperasi Amanah dapat meningkatkan harga kakao Rp 3000 per kilogram dari harga biji kakao asalan.

Upaya untuk mendorong petani melakukan pengolahan pasca panen, maka selain insentif untuk petani, API bersama Amanah dan WASIAT memberikan pendampingan kepada kelompok-kelompok tani di dalam proses fermentasi kakao dan sertifikasi UTZ. jumlah biji kakao fermentasi yang telah diproduksi oleh Koperasi Amanah 200 ton per/musim. Sementara luas lahan yang tersertifikasi 100 hektar.

Meningkatkan kapasitas Amanah di Dalam Pemasaran Bersama

Selain masalah proiduktifitas, panjangnya rantai pemasaran menjadi hambatan dalam meningkatkan pendapatan atau penghasilan petani. Dengan kerjasama antara Petani yang terorganisir/Koperasi, petani dapat akses pasar yang lebih baik dan kerjasama dengan pihak Swasta.

Oleh karena itu API bersama RIKOLTO memperkuat koperasi Amanah berkerjasama dengan pihak SWASTA. melalui layanan pemasaran bersama, petani mendapatkan insentif harga yang lebih baik. Petani mendapatkan nilai harga 95% dari harga yang ditetapkan oleh PT. Armajaro, PT. Bumi Tengerang, PT. MARS. Sedangkan 5% dari nilai harga yang ditetapkan oleh kedua PT. Tersebut digunakan sebagai biaya operasional dan biaya pengembangan kapasitas petani.

Dengan memperkuat pemasaran bersama (kolective marketing), Koperasi Amanah telah berhasil mendekatkan petani kepada konsumennya. Disisi lain hal itu dapat mendekatkan Industri kakao pada petani sebagai produsennya. Sehingga, arus pasokan barang dapat dikontrol oleh semua pelaku dalam rantai. Dengan cara kerjasama ini petani telah mendapatkan harga yang lebih tinggi dan insentif, sedangkan perusahaan mendapatkan pasokan bahan baku kakao yang berkualitas dan berkalnjutan.

Pemasaran bersama biji kakao melalui koperasi telah mampu meningkatkan harga di tingkat petani, juga petani mendapatkan pendidikan dan peningkatan. dengan sekema pemasaran bersama Perusahaan memberikan insentif 600 rupiah per kilo gram kepada Koperasi, diluar harga yang disepakati. Melalui insentif tersebut koperasi Amanah dapat memberikan pendidikan dan Penyuluhan serta membayar pendampin untuk meningkatkan produktifitas dan kualitas kakao yang mereka hasilkan.

Dampak dan Perubahan

Dampat ekonomi, Melalui pengolahan pasca panen dan pemasaran bersama yang terorganisir petani dapat memperpendek rantai nilai dan memperkuat posisi tawar petani kakao di Polewali Mandar, sehingga petani mendapatkan harga yang lebih baik dan meningkatkan pendapatan mereka. Selain mendapatkan harga yang lebih baik,  petani kakao di Polewali Mandar dapat insentif berupa pendampingan, pendidikan adan pelatihan untuk meningkatkan produksi dan pengedalian hama terpadu. Mengingat hama adalah ancaman utama bagi produktifitas tanaman kakao di polewali mandar.

Dengan dipekuatnya koperasi dan kelompok-kelompok tani, maka Koperasi Amanah dapat mengorganisir pemasaran 1200 ton per tahun. dan meningkatkan total dari pendapatan petani Rp 3,600,000 per tahun atau Rp 3.600.000 per hektar per tahun.

#Rifai

 

Read More

PENINGKATAN PENGHASILAN PETANI KOPI TORAJA

PENINGKATAN NILAI RANTAI DAN PENGHASILAN PETANI KOPI TORAJA

 

Toraja, 14 Oktober 2019

Aliansi Petani Indonesia (API) di dalam MTCP-AFOSP Berkerjasama Dengan RIKOLTO telah memperkuat Perkumpulan Petani Kopi Toraja (PPKT) di dalam Manajemen Koperasi, Sekolah Lapangan Budidaya Tanaman Kopi dan Pengembangan Jaringan Pemasaran Kopi Toraja “SALECCO” untuk meningkatkan rantai Nilai Kopi dan Pendapatan Petani di Toraja.

 

Tana Toraja berada di Sulawesi Slatan, sekitar 8 jam perjalanan dari Makasar, Ibu Kota Propensi, dengan transportasi darat. Tana-Toraja berada di ketinggian 350-2800 mdpl. Toraja adalah wilayah yang sangat subur, sehingga banyak tanaman kopi yang tumbuh di diwilayah ini. Toraja adalah salah satu wilayah produsen kopi sepesial yang terkenal di Indonesia.

Salah produsen kopi adalah Perkumpulan Petani Kopi Toraja (PPKT). PPKT adalah organisasi petani yang mengorganisir kelompok-kelompok tani produses kopi di Toraja. Jumlah kelompok tani yang bergabung dalam PPKT adalah 89 kelompok tani dengan total anggota 1.736 anggota, total luas lahan 1,836,8 Hectar, potensi produksi 889 ton/musim.

PPKT termotivasi bahwa kopi toraja sangat terkenal di Indonesia dan pasar luar negeri, namun harga ditingkat petani sangat rendah dibanding dengan harga kopi di pasar.  Hal ini disebabkan oleh posisi tawar petani sangat rendah karena kualitas biji kopi yang rendah, produktifitas rendah, belum terorganisirnya pemasaran.

Oleh karena itu PPKT dengan didukung oleh Aliansi Petani Indonesia (API) sebagai Induk organisasi PPKT dan RIKOLTO berusaha untuk Penguatan kelembagaan dengan pembenahan manajemen bisnis dan keuangan koperasi, pemberdayaan anggota melalaui sekolah lapangan dan pelatihan untuk meningkatkan produksi dan peningkatan kualitas kopi Toraja, peningkatan kemampuan SDM di dalam pengolahan pasca panen. Membangun Fasilitas pengolahan, berusaha untuk mengakses modal kepada lembaga keuangan.

 

Penguatan Kelembagaan Ekonomi

Sebagian besar Petani Toraja, khususnya anggota dari Perkumpulan Petani Kopi Toraja (PPKT) adalah produsen kopi dan mengantungkan hidupnya dari budidaya Kopi. Jumlah Anggota PPKT saat ini 1.736 Petani dengan rata-rata luas kebun 1.06 hektar/petani. Perhinpunan Petani Kopi Toraja menjadi aktor penting dalam Rantai Komoditas Kopi di Toraja. Dalam Pemsaran Kopi, peran PPKT sangat strategis dan sangat diperhitungkan oleh berbagai Mitra. Anggota PPKT menjual Kopi mereka melalui Koperasi kemudian di jual langsung kepada Buyer dan kafe-kafe yang diorganisir oleh Aliansi Petani Indonesia sebagai Induk Organisasi PPKT. Hal ini sangat Menguntungkan bagi anggota karena rantai pemasaran menjadi sangat pendek.

 

Saat ini PPKT mampu menyediakan pelayanan kepada 33 kelompok dari 89 kelompok yang diorgnisir. Jumlah petani yang terlibat sebanyak 671 petani. Peran perempuan sangat penting dalam membangun sistem layanan koperasi, pengolahan dan pemasaran Kopi Toraja. Dari keseluruhan anggota,  PPKT mampu memberikan pelayanan hanya menjangkau 37% dari keseluruhan anggota. Hal ini karena keterbatasan Sumberdaya yanng dimiliki oleh PPKT seperti fasilitas pengolahan, Gudang, modal kerja. Disamping itu kemampuan sumdaya Manusia untuk mendampingi kelompok-kelompok tani sangat terbatas. Hal ini akan menjadi konsen dari API dan Mitra Kerja untuk memperluas jangkauan layanan kepada seluruh anggota.

Meskipun belum mampu keseluruhan anggota di dalam pelayanan, akan tetapi PPKT telah membuktikan bahwa melalui penguatan organisasi, pendikan & pelatihan, pemasaran bersama dapat meningkatkan akses pasar yang lebih baik dan meningkatkan pendapatan petani kopi di Toraja. Oleh karena itu PPKT mendapatkan penghargaan dari Gubernur Sulawesi Selatan sebagai Koperasi Pelopor karena PPKT gerakan koperasi bagi petani yang mampu meningkatkan pendapatan petani kopi Toraja.

Penguatan Sistem Budidaya Tanaman

Tanaman kopi merupakan komoditas utama sebagian Petani di Toraja, Selaian kegiatan pariwisata kopi menjadi daya tarik ketika datang ke Toraja. Rasa dan aroma kopi Toraja sangat khas. Kopi Toraja termasuk kopi Kopi Sepesial (Specialty Coffee) dari Indonesia.

Perkebunan Kopi yang ada di Toraja sebagian besar dikelola oleh petani. 70% produksi kopi yang berkualitas dihasilkan dari perkebunan kopi petani dari Toraja Utara, 25% berasal dari Wilayah Selatan, sekitar Getengan dan Buntu,  5% dihasilkan dari wilayah bagian barat, sekitar Bittuang. Masa panen kopi di Toraja berkisar antara Bulan Mei hingga Agustus.

 

PPKT berupaya untuk meningkatkan produktifitas dan mempertahankan kualitas biji kopi toraja khususnya produksi dari anggota. Dalam Rangka membantu PPKT, Aliansi Petani Indonesia Sebagai Induk Organisasi PPKT dan RIKOLTO sebagai partner dari API dan PPKT mendukung kegiatan sekolah lapangan budidaya tanaman Kopi dan pengedalian hama, pelatihan pengolahan pasca panen, dan pelatihan pembuatan pupuk nutrisi tanaman kopi. Selain itu API berusaha melakukan advokasi kebijakan kepada pemerintah di tingkat provinsi dan Pusat untuk mendukung PPKT dalam hal fasilitas pengolahan pasca panen.

Jenis Kopi yang dibudidayakan di Toraja adalah Kopi Robusta di wilayah yang lebih rendah, dan kopi Arabika yang tumbuh di 1200 hingga 2000 mdpl. Lahan-lahan di Toraja mengadung kadar mineral dan besi yang tinggi sehingga mempengaruhi cita rasa kopi yang khas, wilayah perkebunan kopi di Toraja disekitar Hutan dengan pemandangan yang indah. Karena itu Kopi Toraja banyak diminati konsumen dunia terutama Jepang dan Amerika Serikat.

Sebagian besar Kopi Toraja dibudidayakan dengan Sistem pertanian alami (organik), atau dibudidayakan dengan penggunaan pupuk kimia yang serendah-rendahnya. Petani melakukan perawatan tanaman seperti pemaksan secara rutin terhadap cabang-cabang yang tidak produktif, melakukan pemupukan dengan Kompos atau Nutrisi pupuk Cair Alami. PPKT juga membuat Kebun pembibitan dan  percontohan sebagai kebun pembelajaran bagi anggota dari PPKT. Kebun pembibitan selain sebagai tempat pembelajaran juga dijual kepada anggota sebagai bibit yang berkualitas baik.

 

Penguatan Kemitraan dan Akses Pasar

Aliansi Petani Indonesia bersama RIKOLTO telah mendukung PPKT di dalam Penguatan kelembagaan Ekonomi, Penguatan Budidaya Tanaman Kopi, Pengolahan Pasca Panen, Pengembangan Jaringan Pemasaran. Dukungan API dan RIKOLTO sangat penting dalam sehingga memperkuat kelembagaan Organisasi Petani & Koperasi PPKT dalam hal Pelayanan kepada anggota, peningkatan produksi dan mutu Kopi serta memperluas jaringan pemasaran.

Sejak tahun 2016 hingga tahun 2018, API telah memberikan pelatihan manajemen keuangan koperasi, sekolah lapangan budidaya tanaman Kopi, mendukung pembuatan membuat kebun percontohan, Sekolah lapangan pembuatan pupuk Nutrisi tanaman, membangun kerjasama dan jaringa kedai Kopi untuk maningkatkan akses pemasaran. Saat ini kebutuhan kopi Toraja kedai-kedai kopi di Malang, Surabaya, Jogjakarta, Jakrata menjacapai 70 ton/musim, dan baru dapat dipenuhi 20 ton oleh PPKT.

Semetara itu, RIKOLTO berperan membangun rantai pemasaran kopi untuk fokus pada pasar Expor. ROKOLTO juga menbdukung kegiatan pameran-pameran kopi baik ditingkat nasional maupun Internasional.

Kopi yang diproduksi oleh anggota PPKT dipasarkan melalui Jaringan Kedai yang diorganisir oleh Aliansi Petani Indonesia, melalui MTC, PT. Tuarco Jaya, PT. Sulatco, PT. Indocom. PT. Megah Putra Sejahtera.

Dampak dan Perubahan

Dampak dari dukungan penguatan kelembagaan ekonomi/Koperasi PPKT, pemberdayaan petani dalam sistem budidaya tanaman dan pengolahan Pasca panen, dan penguatan kemitraan dan akses pasar kopi yang diberikan oleh Aliansi Petani Indonesia dan ROKOLTO antara lain:

Dampak Ekonomi, antai komoditas kopi toraja khususnya yang diproduksi oleh anggota PPKT dapat diperpendek. Hal ini dapat meningkatkan posisi tawar petani dan harga biji kopi ditingkat petani dari Rp. 35,000/kg menjadi 75.000. dengan peningkatan harga dan produktiftas tanaman kopi maka penghasilan bersih petani ditingkatkan hampir 4 kali lipat (390,46%) dari Rp 19.400,000/hektar menjadi Rp 95,150,000 hektar.

Selain peningkatan penghasilan ditingkat petani, dengan diperkuatnya PPKT maka nilai tambah kopi toraja meningkat dari Rp 75.000 menjadi Rp 120.000 ditingkat koperasi, karena pengolahan pasca panen yang lebih baik yang dilakukan oleh koperasi. Sementara total biaya pengakutan dan processing Rp 35.000/kg.

Dampak sosial, dengan diperkuatnya PPKT di dalam kelembagaan, produksi dan pemasaran berkontribusi terhadap penyediaan lapangan kerja baru bagi 40 perempuan pedesaan, untuk melakukan sortasi, grading dan packaging kopi toraja.

#Rifai

 

Read More