Editor: Benny N Joewono
Rabu, 9 Februari 2011 | 21:36 WIB

PALU, KOMPAS.com – Berdasarkan inventarisasi lahan kritis di Sulawesi Tengah hingga kini diperkirakan lebih dari 626 ribu hektar (ha) atau sekitar 16 persen dari luas areal kawasan hutan yang mencapai 4,3 juta ha.

Kepala Dinas kehutanan Sulteng, H Nahardi, Rabu (9/2/2011) mengatakan, dari 10 kabupaten dan kota di Sulteng, areal lahan kritis terbesar di Kabupaten Donggala mencapai 147.504 ha, disusul Kabupaten Poso 118.893 ha dan Kabupaten Parigi Moutong 99.997 ha.

Dari total lahan kristis tersebut yang berada di dalam kawasan hutan 220.288,33 ha, dan di luar kawasan hutan mencapai 404.969,47 ha. “Jika dibandingkan dengan daerah-daerah lainnya, luas lahan kritis di Sulteng terbilang masih relatif kecil,” katanya.

Menurut dia, sebenarnya kondisi hutan di provinsi yang terletak di tengah-tengah Pulau Sulawesi itu masih cukup bagus. Namun demikian, perlu mendapat perhatian serius pemerintah agar lahan kritis tidak semakin bertambah.

Dinas Kehutanan sebagai instansi yang paling berkompeten dalam bidang kehutanan, tentunya terus menerus bekerjasama dengan semua pihak menekan luas areal lahan kritis di daerah ini.

Berbagai program rehabilitasi lahan dan hutan guna memperkecil luas areal lahan kritis di Sulteng dilakukan pemerintah pusat dan daerah melalui kegiatan reboisasi dan penghijauan.

Untuk program reboisasi selama kurun waktu 2002 sampai 2009 mampu mencakup areal lahan seluas 12.903 ha dan kegiatan penghijauan selama kurun tersebut di Wilayah Sulteng mencapai 11.085 ha.

Dalam melaksanakan program tersebut, Dinas Kehutanan tidak sendiri, tapi bekerjasama dengan kelompok-kelompok masyarakat di setiap wilayah di kabupaten dan kota, serta LSM yang benar-benar mendukung program rehabilitasi lahan dan hutan di Sulteng.

Menurut dia, tingkat kesadaran masyarakat untuk ikut mendukung program dimaksud semakin tinggi. Hal itu terlihat dari peran aktif masyarakat untuk melakukan kegiatan penanam pohon di areal-areal lahan dan hutan yang mengalami degradasi.

Nahardi optimis, jika program-program bidang kehutanan berjalan dengan baik dan mendapat dukungan semua pihak, terutama masyarakat di masing-masing wilayah di Sulteng, maka pada tahun-tahun mendatang luas lahan dan hutan kritis akan semakin berkurang.