Jumat, 25 Februari 2011

JEMBER, KOMPAS – Perusahaan Umum Bulog hingga saat ini belum melakukan pembelian beras dari petani di beberapa daerah, karena sejumlah sebab. Panen yang tidak seragam di Kabupaten Tegal, Brebes, dan Purwakarta; naiknya harga gabah di tingkat petani; dan faktor lain, membuat Bulog menunda pembelian beras untuk stok pangan nasional.

Pembelian beras belum dilakjkan antara lain oleh Bulog Divisi Regional (Divre) Jember, Jawa Timur (Jatim); Bulog Divre Jambi, dan Bulog Divre Gorontalo.

Perum Bulog Subdivre Jember, mengakui bahwa dalam situasi harga fluktuatif pihaknya pasti kalah bersaing dengan perusahaan penggilingan padi yang ”bermain” di tingkat lokal.

Kepala Subdivre Perum Bulog Jember Tri Wahyudi Saleh mengatakan, hingga kini Bulog Jember baru dapat 1.000 ton setara beras dari mitra pemasoknya. Saat ini harga gabah Rp 2.800-Rp 2.900 per kilogram (kg), dan harga beras Rp 5.400-Rp 5.600 per kg, sulit berharap dapat pasokan dari perusahaan penggilingan padi. ”Kami sudah keliling desa dan bekerja all out agar bisa dapat gabah, tetapi harga tinggi menyulitkan untuk dapat barang. Satgas UPGB (Unit Penggilingan Gabah dan Beras) Bulog juga sudah dikerahkan ke desa-desa,” kata dia.

Sekretaris Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Jember Rahwini mengatakan, KTNA Pusat telah mengusulkan kepada pemerintah agar harga pembelian pemerintah (HPP) menjadi Rp 3.000 untuk kualitas 0 persen gabuk, atau Rp 3.500 per kg kualitas gabah kering giling.

Karena kenaikan harga beras di tingkat petani, Bulog Divre Jambi juga belum menyerap beras petani walaupun panen telah hampir berakhir. Saat ini harga beras di tingkat petani masih sangat tinggi, antara Rp 7.000 dan Rp 7.500 per kg.

”Kami hanya dapat membeli pada harga Rp 5.060 per kg, sedangkan harga beras di kalangan petani paling murah Rp 7.000,” kata Kepala Bidang Pelayanan Publik Bulog Jambi Setio Wastono.

Beli di pasar

Bulog Divre Gorontalo membeli beras komersial yang dijual di pasar-pasar di Gorontalo karena tingginya harga beras di tingkat petani, Rp 5.800-Rp 6.000 per kg. Padahal, harga yang dipatok pemerintah Rp 5.060 per kg.

”Untuk stok di Bulog yang disalurkan bagi korban bencana alam, dan untuk rakyat miskin, kami membelinya dari pasaran umum karena harga jual di tingkat petani masih di atas harga yang ditetapkan pemerintah. Beras yang kami serap dari pasar komersial hingga Februari ini baru mencapai 5 ton saja,” kata Kepala Bulog Divre Gorontalo Benhurd Ngaimi, menyebut tingginya harga karena petani ingin meraih laba tinggi. Adapun harga beras komersial yang dijual di pasaran umum—sesuai harga yang ditetapkan pemerintah— Rp 5.060 per kilogramnya.

Petani di Desa Huluo, Kecamatan Limboto, Gorontalo, Warni Hasan, mengaku menjual berasnya Rp 270.000-Rp 280.000 per karung per 50 kg. Artinya, harganya Rp 5.400-Rp 5.600 per kg.

Di sisi lain, meski terjadi anomali iklim, serta ancaman cuaca dan hama, Pemerintah Provinsi Lampung optimistis lahan pertanian mampu meningkatkan produksi beras hingga 5 persen tahun ini. Menurut Kepala Bulog Divre Lampung Bakri, kondisi ini disebabkan beras-beras asal Lampung juga bergerak ke luar daerah. Wakil Gubernur Provinsi Lampung Joko Umar Said menjelaskan, tahun lalu produksi beras Lampung mencapai 2,7 juta ton, dari target 2,78 juta ton.

http://cetak.kompas.com/read/2011/02/25/04061397/bulog.di.beberapa.daerah.belum.membeli.beras

(JON/SIR/CHE/REK/MKN/ ITA/APO/WIE)