Senin, 7 Februari 2011

Jakarta, Kompas – Tekanan terhadap harga pangan dunia belum menunjukkan gejala mereda. Harga pangan tinggi masih akan berlanjut bulan- bulan mendatang. Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB menunjukkan, indeks harga pangan dunia rata-rata Januari 2011 mencapai 231 poin atau naik 3,4 persen dibandingkan Desember 2010.

Guru Besar Ekonomi Pertanian Universitas Jember sekaligus Ketua Umum Perhimpunan Ekonomi Pertanian Indonesia Rudi Wibowo saat dihubungi, Minggu (6/2) di Surabaya, Jawa Timur, mengungkapkan, tingginya harga pangan dunia harus diantisipasi dengan peningkatan produksi pangan nasional.

”Kita tidak bisa lagi mengendalikan harga pangan hanya melalui kebijakan fiskal, seperti pengenaan atau peniadaan bea masuk impor, tetapi sudah harus benar-benar memerhatikan produksi,” katanya.

Kebijakan bea masuk sekadar respons sesaat dan itu semakin meneguhkan liberalisasi pasar pangan. Harus ada upaya serius untuk meningkatkan produksi melalui perbaikan kinerja, baik di sektor hulu, tengah, maupun hilir. Kebijakan peningkatan produksi pangan yang dirancang juga jangan sampai memarjinalkan petani.

Ekonom Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) sekaligus pakar serealia, Abdolreza Abbassian, mengungkapkan, tekanan terhadap harga pangan dunia belum akan mereda. Kecenderungan harga pangan tinggi masih berlanjut pada bulan-bulan mendatang. Pangan menjadi perhatian utama negara-negara yang defisit makanan yang mungkin akan bermasalah dalam mengimpor pangan.

Selain itu juga masalah bakal timbul bagi negara-negara berpendapatan rendah saat rumah tangga miskin menghabiskan sebagian besar pendapatan mereka untuk memenuhi kebutuhan pangannya.

Dalam laporan yang dirilis 3 Februari, FAO mencatat, indeks harga rata-rata komoditas serealia pada Januari 2011 mencapai 245 poin atau naik 3 persen dibandingkan Desember 2010. Harga ini tertinggi sejak Juli 2008, tetapi 11 persen lebih rendah dibandingkan saat krisis pangan April 2008.

Komoditas yang paling besar menyumbang kenaikan indeks harga pangan adalah gandum dan jagung di tengah ketatnya pasokan. Harga beras dunia turun sedikit karena bertepatan musim panen di beberapa negara produsen.

Indeks harga minyak dan lemak naik 5,6 persen menjadi 278 poin, mendekati rekor tertinggi pada Juni 2008. Indeks harga susu naik 6,2 persen menjadi 221 poin, tetapi lebih rendah 17 persen pada puncaknya November 2007. Hal itu akibat penurunan produksi musiman di belahan bumi selatan.

Indeks harga gula naik 5,2 persen atau menjadi 420 poin. Kenaikan harga gula yang tinggi terutama didorong pasokan gula global yang makin ketat. Sebaliknya indeks harga daging stabil di level 166 poin akibat penurunan kepercayaan konsumen di Eropa menyusul skandal kontaminasi pakan. Hal itu terkompensasi peningkatan harga ekspor dari Brasil dan negara-negara Amerika.

Di pasar komoditas, harga susu dalam perdagangan berjangka di Chicago melonjak 26 persen pada bulan lalu. Jagung naik 4,8 persen. Di bursa perdagangan komoditas Paris harga gandum naik 6,5 persen, sementara di New York gula naik 5,8 persen.

Menteri Pertanian Suswono dalam sambutannya menjelang panen padi di Lebak, Provinsi Banten, meminta jajaran pertanian dari pusat hingga daerah mewaspadai dampak iklim ekstrem dan segera melakukan langkah-langkah antisipasi.

Data Kementerian Pertanian menunjukkan, peningkatan produksi komoditas pangan dan perkebunan tahun 2010 rata-rata di bawah target. Produksi padi 65,9 juta ton gabah kering giling, jagung 17,8 juta ton pipilan kering, kedelai bahkan turun menjadi 905.015 ton, dan produksi gula 600.000 ton di bawah target 2,9 juta ton.

Rudi Wibowo mengingatkan, pola produksi pangan di Indonesia harus tetap mempertahankan subsidi kepada petani, baik dalam bentuk benih kualitas unggul, sarana pertanian, maupun pengelolaan manajemen logistik. ”Komoditas pangan, seperti beras, merupakan komoditas musiman, karena itu manajemen logistik memegang kunci penting,” katanya.

Kebijakan peningkatan produksi pangan juga harus selaras dengan keinginan petani. (MAS)

(Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2011/02/07/02573368/harga.pangan.tetap..tinggi)