Rabu, 02 Februari 2011

Badan Pusat Statistik mencatat inflasi pada Januari mencapai 0,89 persen. Penyumbang terbesar adalah kelompok bahan makanan sebesar 2,21 persen; kelompok makanan jadi, minuman, rokok, dan tembakau sebesar 0,49 persen; kelompok perumahan, air, dan listrik sebesar 0,48 persen; dan kelompok sandang 0,15 persen.

Jika kita bandingkan inflasi Januari 2011 tersebut terhadap laju inflasi Januari 2010, ekonom biasa menyebut perbandingan ini sebagai year on year, maka kita melihat angka yang lebih tinggi, yakni 7,02 persen. Lebih dahsyat laju kenaikan harga-harga bahan makanan karena mencapai 16,18 persen.

Melihat data itu, jelas bahwa kelompok kelas bawahlah yang paling terpukul dampak inflasi. Ya, mereka yang penghasilannya tidak menentu atau pas-pasan. Sementara pada sisi lain pengeluaran mereka mesti membengkak.

Kata ”mesti” diberi tanda kutip karena bagi mereka bahan makanan yang melonjak harganya itu merupakan kebutuhan pokok yang tidak dapat mereka subtitusikan. Tidak ada pilihan lain kecuali membelinya.

Perut harus dijaga tetap terisi, walaupun kuantitasnya mungkin harus dikurangi. Pendek kata, kencangkan ikat pinggang sekuatnya.

Mengapa harga bahan makanan itu masih tinggi? Bisa jadi karena produksi terganggu atau distribusi yang terhambat. Dua-duanya bisa terjadi karena faktor cuaca.

Bagaimana korelasinya dengan petani yang memproduksi bahan makanan? Apakah kenaikan harga bahan makanan itu dinikmati petani, yang jumlahnya mencapai 40 juta orang?

Mari kita bandingkan dengan nilai tukar petani (NTP). NTP merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan atau daya beli petani di pedesaan. NTP diperoleh dengan memperbandingkan indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase). NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi ataupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan atau daya beli petani.

Berdasarkan pemantauan BPS terhadap harga-harga pedesaan di 32 provinsi di Indonesia pada Januari 2011, NTP secara nasional naik 0,25 persen dibandingkan Desember 2010. Artinya, indeks harga hasil produksi pertanian lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga barang dan jasa yang dikonsumsi oleh rumah tangga ataupun untuk keperluan produksi pertanian.

Menurut data lain, inflasi Januari di pedesaan di Indonesia sebesar 0,98 persen, terutama dipicu bahan makanan. Hal itu lebih tinggi inflasi nasional yang 0,89 persen.

Lebih mengenaskan jika kita menyimak upah buruh tani. Secara riil turun 1,28 persen. Upah riil menggambarkan daya beli dari pendapatan yang diterima buruh. Semakin tinggi upah riil, kian tinggi pula daya beli upah buruh dan sebaliknya.

Oh, nasib buruh tani yang membanting tulang menyediakan pangan 230 juta penduduk Indonesia…! (Andi Suruji)

(Sumber: http://cetak.kompas.com/read/2011/02/02/13112287/inflasi.dan.buruh.tani)