Jumat, 25 Februari 2011

Jakarta, Kompas – Intensitas serangan hama sedang dan akan terus mengganggu tanaman pangan. Ujung-ujungnya, ketahanan pangan nasional terancam. Ironisnya, pemerintah belum serius menyiapkan strategi adaptasi dampak perubahan iklim tersebut.

”Serangan hama dan penyakit pada tanaman padi sampai pada tingkat membahayakan. Kalau tidak ada langkah realistik, kita bisa terlambat mengatasi sehingga bisa mengganggu ketahanan pangan nasional,” kata Ketua II Komisi Perlindungan Tanaman Nasional yang juga Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada Andi Trisyono, Kamis (24/2).

Tiga tahun terakhir, serangan wereng coklat di Pulau Jawa meningkat pesat. ”Tingginya curah hujan dan kelembaban sangat kondusif bagi pertumbuhan wereng coklat,” katanya.

Penelitian yang dilakukan Andi menemukan, beberapa daerah di Jawa Tengah yang selama ini menjadi sentra produksi padi nasional, seperti Klaten, Sukoharjo, dan Boyolali, telah menjadi daerah endemis wereng coklat. Andi baru menerima laporan dari petani di Kecamatan Juwiring, Klaten, yang mengeluhkan bahwa mereka tidak bisa lagi memanen padi sejak 2,5 tahun terakhir akibat serangan wereng coklat. ”Berbagai macam insektisida yang dipakai juga tidak mempan lagi,” katanya.

Wereng coklat yang menyerang tanaman padi itu diduga membawa strain virus baru. ”Biasanya wereng coklat membawa virus kerdil hampa dan kerdil rumput. Namun, sekarang ada strain baru yang kemungkinan dibawa dari China,” katanya.

Direktur Klinik Tanaman Institut Pertanian Bogor (IPB) Suryo Wiyono juga mengingatkan situasi ini. Penelitian yang dilakukannya menemukan

ada kaitan kuat antara meningkatnya masalah hama dan penyakit tanaman akhir-akhir ini dengan perubahan iklim. ”Kami melakukan penelitian lapangan di seluruh Pulau Jawa pada 2007 dan 2010,” katanya.

Penelitian itu mengidentifikasi, penyakit yang meningkat tajam pada tiga tahun terakhir adalah penyakit kresek pada padi yang disebabkan bakteri Xanthomonas oryzae pv.oryzae, virus gemini pada cabai dan tomat, serta hama thrips pada cabai. Penyakit tersebut perlu penanganan serius.

Strategi adaptasi

Andi mengatakan, sejauh ini pemerintah belum melakukan upaya yang cukup untuk mengatasi fenomena meningkatnya serangan hama itu. Negara-negara lain sudah sangat serius menyiapkan strategi adaptasi kerentanan pangan akibat perubahan iklim ini.

”Kita sepertinya masih tenang-tenang saja. Kami sudah mengingatkan, iklim sudah berubah dan harus ada strategi baru. Memang ada upaya yang dilakukan, tetapi belum cukup. Bahkan, data yang terukur mengenai intensitas serangan dan variasi serangan secara nasional juga belum ada,” katanya.

Data itu diperlukan untuk memetakan strategi baru mengatasi serangan hama dan penyakit tersebut. Perilaku menanam petani yang keliru akan semakin memicu peningkatan wabah. ”Selama ini petani hanya mengenal penggunaan pestisida untuk mengatasi hama. Padahal, itu malah bisa memicu penyebaran hama lebih banyak. Selain hamanya menjadi lebih resisten, predatornya justru yang mati,” katanya.

Penggunaan pupuk kimia, terutama pupuk yang mengandung nitrogen tinggi oleh petani, justru semakin mendorong peningkatan populasi wereng coklat.

(AIK)

http://cetak.kompas.com/read/2011/02/25/03424120/intensitas.serangan.hama.mengancam