[nggallery id=1]

Lemahnya posisi tawar petani yang umumnya disebabkan oleh petani kurang mendapatkan dan memiliki akses terhadap pasar. Karenanya perlu mendorong pengembangan system pemasaran berbasis kelompok di tingkat petani dalam rangka meningkatkan rantai nilai. Lemahnya akses pasar disebabkan oleh kurangnya informasi pasar itu sendiri serta sistem Ijon dalam rantai distribusi. Selain akses pasar, petani umumnya kesulitan dalam hal akses permodalan.

Oleh sebab itu penguatan posisi tawar petani melalui penguatan organisasi petani dan membangun system matarantai yang efisien dan adil antar pelaku diperlukan oleh organisasi petani. Hal itu bertujuan agar mereka dapat bersaing atau meningkatkan posisi tawar dan meningkatkan produktifitas serta kualitas produksi mereka. Dengan usaha pertaniannya itu, diharapkan dapat meningkatkan akses pasar dan kesejahteraan petani di pedesaan.

Masalah yang terjadi di lima kabupaten anggota Api yang meliputi Lumajang, Jembrana, NTT, Boyolali dan Jambi adalah contoh tidak kuatnya dalam melakukan negosiasi harga hasil produksi, system tataniaga yang cenderung dimonopoli oleh tengkulak melalui system Ijon, rantai distribusi terlalu panjang dan tidak efisien, sehingga berdampak pada rendahnya harga produksi di tingkat petani.

Selama ini informasi mengenai pasar banyak dimiliki oleh para tengkulak. Akibat minimnya informasi tersebut, Petani kesulitan menjual hasil panennya karena tidak punya jalur pemasaran sendiri, terpaksa petani menggunakan sistim tebang jual dan tergantung dengan tengkulak. Akibatnya sebanyak 40 % dari hasil penjualan panenan menjadi milik tengkulak.

Terkait dengan hal tesebut Aliansi Petani Indonesia menggelar acaraEvaluasi dan Perencanaan Program Penataan Produksi dan Usaha Tani, 12 sampai 14 Maret 2013. Acara yang bertempat di komplek Dinsos Malang tersebut, selain untuk melakukan “pembacaan ulang” atas seluruh proses dan mengukur tingkat keberhasilan di tahun sebelumnya, juga ditujukan untuk menyusun rancangan kerja yang didasarkan pada refleksi tersebut untuk dapat dilaksanakan di tahun mendatang. Kegiatan tersebut dihadiri sedikitnya 20 perwakilan dari lima kabupaten anggota Api yang meliputi petani padi organik (Boyolali), kakao (Jembarana dan NTT), pisang (Lumajang)dan duku (Jambi)[]Admin