BREBES – Sekitar 500 orang petani yang mewakili petani di 17 kecamatan di Kabupaten Brebes kemarin mendeklarasikan diri dalam organisasi Jaringan Musyawarah Petani Brebes (Jamuni) di pendopo kantor Eks Kawedanan Bumiayu (02/03/09). Ikut hadir dalam acara tersebut pengurus seknas Aliansi Petani Indonesia (API). Salah satu agenda penting acara tersebut adalah pengukuhan kepengurusan Jamuni baik di tingkat kabupaten maupun kecamatan.

“Keberadaan Jamuni yang baru berumur dua tahun bertujuan memperjuangkan nasib para petani di kabupaten Brebes yang selama ini belum banyak disentuh oleh kebijakan pemerintah. Kondisi petani, baik di Brebes dan umumnya di Indonesia masih memprihatinkan. Seperti kepemilikan lahan yang sempit, hilangnya bibit lokal, mahalnya harga pupuk serta rendahnya harga jual hasil pertanian adalah beberapa masalah yang dihadapi dan ingin kita perjuangkan bersama. Untuk itulah Jamuni lahir dengan maksud mewadahi serta memecahkan persoalan penting yang dihadapi petani,” kata Muhamad Fadil Qirom, ketua Jamuni, kepada Tempo.

Menurut Muhamad Fadil, deklarasi itu adalah kelanjutan dari konsolidasi sesama petani Brebes yang memiliki nasib sama dalam menghadapi persoalan produksi dan distribusi yang menjadi hambatan kesejahteraan mereka. “Termasuk mendorong pemerintah daerah agar memproteksi petani dari keterpurukan harga dan kelangkaan pupuk,” tuturnya.

Sekretaris Jenderal Aliansi Petani Indonesia Muhammad Nurudin menyambut baik terbentuknya organisasi itu. “Ini satu-satunya organisasi tani di Pantura yang menginduk ke kami,” ujar Nurudin. Menurut dia, Jamuni sangat penting, mengingat Brebes sebagai lumbung bawang merah dan padi. “Salah satu agenda yang harus diperjuangkan adalah menghindari keterpurukan harga hasil panen,” tutur Nurudin.

Dimuat di :
Koran Tempo
Radar Tegal
Koran Lokal