Selasa, 01 Februari 2011

Brebes, Kompas – Petani padi di beberapa daerah di Jawa Tengah menolak rencana pemerintah mengimpor beras karena akan semakin menurunkan harga. Harga beras dan gabah petani saat ini mulai turun karena pasokan mulai banyak, menyusul panen raya mulai berlangsung.

”Sekarang mulai panen, pemerintah harus berpikir ulang. Jangan hanya menguntungkan importir, dan petani rugi,” kata Wakil Ketua Himpunan Kerukunan Tani Brebes Mashadi, Senin (31/1).

Mashadi mengatakan, beberapa waktu lalu harga beras dalam negeri memang mahal. Namun, itu hanya sesaat karena panen sedikit serta permintaan beras meningkat seiring maraknya hajatan di masyarakat. Saat ini harga gabah dan harga beras berangsur-angsur turun.

Jumantoro, ketua Forum Komunikasi Petani Jember, Jawa Timur, Senin, sependapat, kekurangan stok pangan jangan langsung diatasi dengan mendatangkan beras impor. Impor bukan menyelesaikan masalah, justru mendatangkan masalah baru. Akibat kebijakan itu, petani dirugikan.

”Pemerintah supaya memahami psikologi petani, agar tidak menerbitkan izin impor beras saat petani panen raya,” katanya.

Harga terus turun

Pengurus Gabungan Kelompok Tani Tani Mukti Desa Randusari, Kecamatan Pagerbarang, Kabupaten Tegal, Mujiburrahman, menambahkan, kini harga gabah kering panen (GKP) Rp 2.500-Rp 2.700 per kilogram (kg) dan harga gabah kering giling (GKG) Rp 3.800 per kg. Pada pertengahan Januari lalu, harga GKP Rp 3.000 per kg dan harga GKG Rp 4.000 per kg.

Di Boyolali, harga GKP sekitar Rp 3.000 per kg, sebelumnya Rp 3.350 per kg. Di Demak, harga GKP turun sekitar Rp 400 per kg menjadi Rp 2.600 per kg dari semula Rp 3.000 per kg. Selain karena mulai panen raya, penurunan harga diduga disebabkan masuknya beras impor ke masyarakat, yang diberikan dalam bentuk beras untuk keluarga miskin (raskin).

”Harga gabah kering panen Rp 2.600 per kg itu di tingkat tengkulak atau pedagang besar. Harga gabah basah di tingkat petani hanya di kisaran Rp 2.400 sampai Rp 2.550 per kg,” ujar Pitoyo, petani di Desa Sayung, Demak.

Kepala Bidang Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Demak Hartono mengatakan, panen padi di daerahnya sudah lebih dari 65 persen, dengan total areal seluas 7.000 hektar.

Di Kudus, petani meminta pemerintah menaikkan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah, dan bukan malah mengimpor beras. HPP gabah saat ini belum menguntungkan petani karena biaya produksi dan pengolahan padi semakin meningkat. Saat ini, HPP GKP Rp 2.685 per kg dan HPP beras Rp 5.060 per kg.

Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Kabupaten Kudus Zainal Arifin mengatakan, biaya produksi padi, terutama bagi petani penyewa lahan, meningkat dari Rp 7,5 juta per hektar menjadi Rp 10,7 juta. Hal itu disebabkan meningkatnya harga sewa lahan, pupuk, dan piranti perlindungan hama.

Menurut Mashadi, seharusnya pemerintah memfasilitasi masyarakat agar mampu menciptakan kedaulatan pangan, bukan memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dengan beras impor.
(WIE/WHO/UTI/HEN/EKI/SIR)

(Sumber :http://cetak.kompas.com/read/2011/02/01/0412516/petani.tolak.impor.beras)