PENTINGNYA SEBUAH KUALITAS KOPI, MENJAGA MUTU SRIDONORETNO

Catatan Pelatihan Cupping for Professional Oleh : Siadi Satria (Sridonoretno)

Saat sang fajar pagi menyingsing diantara langit cerah serta matahari merekah dan menyirami bumi dengan sinarnya,  dan tibalah saatnya pada sebuah penantian ku di penghujung waktu (Malang Selatan JATIM Kamis 16 November 2017).

Catatan cerita kecil ini berangkat dari secangkir Kopi pagi ini yang penuh inspirasi, seperti biasanya dalam keseharian ku selalu menyapa (berpamitan) kepada anak dan istriku dalam setiap aktifitas apapun itu, termasuk jika ingin berpergian berkebun di kebun kopi milik keluarga besar kami. Terkadang waktu saat-saat yang berbeda, anak dan istriku mengambil bagian kesibukan ku di kebun, atau hanya sekedar merumput untuk mencari pakan untuk ternak kami dibelakang rumah kami. Akan tetapi,  saat ini sangat berbeda rasanya, berpamitan pada ibu tercinta dan istri serta anak lelaki kesayangan ku. Kali ini kepergian ku terdorong oleh sebuah tanggung jawab dan tuntutan organisasi ku. Karena ini semua menyangkut Sridonoretno, tempat dimana sebagian petani-petani kopi di malang selatan bernaung dan menitipkan harapan, serta menggantungkan cita-cita bersama untuk sebuah kesejahteraan bersama. Kali ini kepergian ku menuju keluar kota, meninggalkan kampung tanah kelahiranku, tepatnya di tanah “Pasundan” yaitu BANDUNG Jawa barat.

Sebagai pengurus Sridonoretno, aku dipercayai oleh kawan-kawan ku sebagai penjaminan mutu (Quality Control). Koperasi Sridonoretno yang kami bangun ini terdiri dari tiga Desa. Pastinya aku harus banyak belajar memahami dan mendalami penuh dari Cupping Coffee dll sebagainya, sebagai upaya Koperasi kami untuk menjaga mutu dan kualitas yang harus ditingkatkan. 

Setidaknya sebagai petani kopi, aku bersama kawan-kawan Sridonoretno harus memahami penuh tentang semua hal perkopian, dari pola tanam hingga regulasi pemasaran dan sebagainya. Selama ini prakstis, kita tidak hampir tau tentang semua hal, minimnya sebuah akses informasi dan penyuluhan kopi itu sendiri, merasa beruntung kami bisa menjadi bagian keluarga besar dari Aliansi Petani Indonesia (API) serta barista Malang raya ini, banyak sekali kontribusi mereka untuk mengingatkan kepada kami sebagai produsen (Petani) agar pengorganisasian, dan rekonsolidasi serta penguatan Sumber Daya Manusia adalah syarat pertama dalam pertahanan benteng terakhir untuk membangun kemandirian ekonomi agar semua segala upaya memiliki keberlanjutan, hingga akhirnya kepada anak cucu kita, agar selalu matang mengambil segala keputusan, setiap sikap adil dan bijaksana. Seperti ini contohnya, terlebih lagi rata-rata di luar Sridonoretno’ hanya jual putus menyerahkan semua itu pada para tengkulak(bakul) yang tidak memiliki keberlanjutan pada regulasi, sedangkan di Koperasi kami membangun system kemanusiaan dan lebih beradab, seperti dari pendidikan pertanian kopi, harga yang adil dan sisa hasil usaha bersama dan kegiatan lainnya, sebagai penghormatan atau intensif kepada anggota(petani) Sridonoretno agar semua kita bisa berdaya saing dan menjawab tantangan pasar, mungkin termasuk aku yang harus banyak belajar pada 5758 Coffe Lab di bandung, agar pengetahuan /shering berpendapat dari beberapa daerah yang terlibat bisa memberikan dampak positif. Kira-kira Aliansi Petani Indonesia (API) selalu mengingatkan kami seperti itu. Maka itu Aliansi Petani Indonesia (API) mengutusku untuk mengikuti pelatihan tersebut.

Dalam perjalanan yang panjang ini banyak hal yang ingin aku tulis, sebagai pesan yang terdalam, namun setiap Stasiun kereta yang aku lalui mengingatkanku pada stasiun yang aku tuju sudah hampir dekat, sebagai petanda’ akan tiba. Aku tiba pada pukul 11:15 di Stasiun Bandung dan kembali melanjutkan perjalanan menggunakan kendaraan umum untuk menuju 5758 Coffee Lab. Setibanya di tempat, aku di sambut oleh Barista 5758 Coffee Lab, sedikit berbincang denganya, dan dia mengarahkan ku agar menaiki lantai 2, ternyata sudah beberapa orang yang menunggu dari beberapa daerah, seperti ada yang dari Aceh, Solo, Garut, Bandung, Manado, lhokseumawe, karawang, karang anyar, Jakarta dll dari beberapa daerah di Indonesia, termasuk saya dari Malang selatan.

Dihadapan kami sudah ada 2 meja panjang yang disediakan panitia, dan masing-masing untuk 2 orang siswa, kali ini sebagai pemateri Q Grader 5758 Coffe Lab, adalah Mas Adi yang ditemani oleh Mbak Mia. Pada hari pertama ini, materi yang disampaikan adalah bagaimana cara untuk mengisi lembaran uji cita rasa dan perbendaharaan istilah-istilah yang tertera pada kolom penilaian.

Setelah mengikuti kurikulum yang di berikan ini, kami beranjak pada hal-hal yang bukan sembarang soal teknis, yaitu Cupping Kopi, dimana kita harus jeli pada rasa, dimana lidah kita ada memiliki 3 fungsi untuk merasakan yang kita cicipi. Dihadapan ku telah disediakan masing-masing meja untuk peserta yang terdiri dari 6 nampan dan sempel kopi yang berbeda-beda dan 5 Cup diatas nampan tersebut, aku dan beberapa peserta mengikuti semua instruksi yang di berikan oleh Q grader untuk memulai cuppingnya, dimana untuk memahami rasa yang berbeda. Setelah itu, kami di uji dalam penilaian kalibrasi, sajuh apa kita menilai sejauh itu juga Q Greder bisa memberikan nilai untuk kita.

Setelah itu dilanjut dengan presentasi “Olfactory recognition skills” yaitu dimana materi ini lebih menggunakan indra penciuman kita yang harus tajam, menganalisis setiap perbedaan kopi-kopi yang di sediakan untuk mengindetifikasi jenis dari 36 rasa dan aromya, inilah pada hari pertama ini yang telah kulalui  dalam mengindentifikasi kopi.

Pada hari kedua ini, kembali kami merasakan 18 cupping dari beberapa daerah, ada 6 jenis kopi defect primer dan 10 jenis defect skunder Specialty coffee association, mengidentifikasi kualitas dengan perbandingan Standar Nasional Indonesia. Setelah itu, uji praktek sortasi Green bean dengan standar Speciality coffee association dan setelah itu mengisi from, grading test serta memberikan skors pada pilihan kita. Disini kita harus benar-benar jeli dalam penilaian dari aroma serta warnanya, sedikitpun kita jangan pernah lengah, karena ini terkait mutu kualitas yang harus kita jaga untuk konsumen nantinya.

Setelah itu di lanjut dengan materi dengan istilah adalah Triangulasi, dimana kami harus membedakan dari 3 Cup kopi dengan mengevaluasi satu diantara yang lainnya serta membedakannya, dalam hal ini untuk bertujuan menilai sejauh mana kepekaan peserta dalam mengkombinasi pelatihan awal hingga akhir.

Pada hari ketiga untuk yang terakhirnya ini, materi dibuka dengan praktek Triangulation Skills Test, mendisertasikan dengan Triangulasi. Setelah itu dilanjut dengan materi Sensor Skills Test, dimana kami harus tajam membedakan Sour dan Salty/Sweet, dari kombinasi semuanya itu. Berikutnya adalah pengenalan segala macam uji citarasa kopi, termasuk Robusta sebagai penutupan dalam pelatihan ini.

“Aku hanya berharap dari materi pelatihan ini, bisa memberikan nilai tambah pada Koperasi Sridonoretno. Aku sadar betul tugas ku saat ini mengawal semua yang menjadi beban tugas dan tanggung jawab ku, semoga ini semua jauh bermanfaat dari hari-hari sebelumnya. Terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Aliansi Petani Indonesia”

 

 

 

 

 

Read More

Koperasi GAPOKTAN Simpatik

Oleh: Yayan Royan

Pasar komoditi pertanian organik dunia termasuk beras, diperkirakan meningkat sebesar 10% setiap tahunnya. Hal ini merupakan peluang yang baik bagi Indonesia, khusunya Kabupaten Tasikmalaya untuk memenuhi permintaan tersebut. Menjadi nilai tambah dalam peningkatan pendapatan pertanian organic, sekaligus neraca surplus perdagangan dunia di bidang pertanian.

 

Koperasi Gapoktan Simpatik terbentuk pada tahun 2014 dengan badan hokum No: 11/BH/XIII.18?KOPERINDAG/V/2014. Koperasi ini terbentuk berdasarkan peluang pasar (market oriented) dan potensi produk beras organic di kelompok tani Kabupaten Sukabumi. Pada tahun 2016, Koperasi Gapoktan Simpatik berhasil mendapatkan sertifikat organik internasional sehingga dapat mengekspor beras organic ke seluruh dunia.

 

Anggota Koperasi Gapoktan Simpatik terdiri dari 265 petani yang tersebar di 10 kelompok tani, yang memiliki lahan seluas 50,57 ha. Di tahun 2017, Koperasi Gapoktan Simpatik harus memperpanjang ijin sertifikasi internasional tersebut.

 

Pada tanggal 14 Juni 2017 lalu, Koperasi Gapoktan Simpatik berhasil melaksakan launching ekspor perdana beras organik ke Jerman sebanyak 17 ton. Pelaksanaan ekspor tersebut dilepas  oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Tasikmalaya. Bermitra dengan PT.PMA (Profil Mitra Abadi), kami menargetkan di tahun 2017 dapat mengekspor beras organik sebanyak 6 kontainer atau setara dengan 120 ton. Sedangkan, untuk tahun 2018, kami menargetkan 12 kontainer atau setara 240 ton.  Disamping beras organik, Gapoktan Simpatik juga melayani permintaan pasar komoditi kunyit, kacang tanah, Vanila, dan gula aren.  

Read More

Oase dari Nusa Tenggara Timur

Dampak proyek pada tujuan-tujuan konservasi

HKm Menyelamatkan Petani

 “Sebagai petani, kami bersyukur karena dengan adanya HKm kami sudah bebas bekerja di kawasan ini. Dulu, seblum IUP HKm ada,  mana mungkin kami bisa berkebun di kawasan ini”, demikian Rudolfus Rede mengalamai sambutan sebagai Wakil Ketua Pengurus LPMA  dalam sambutan membuka kegiatan evaluasi yang diselenggarakan pada tanggal 22 s/d 23 Juni 2018, berlokasi di Baologun. Dan kami bersyukur dengan adanya pendampingan yang dilakukan Yayasan Ayu Tani dan teman-teman yang lain. IUP HKm sudah ada,  tapi bila tidak ada pendampingan, belum tentu akan berhasil seperti saat ini ”, demikian Wakil Ketua LPMA.

 

Keterangan Foto : Rudulfus Rede didampingi Kepala Desa Hikong Akradius Deodatus  dan Thomas Uran dari Ayu Tani

 

HKm meningkatkan pendapatan petani :

Menurut Anto Lado, salah satu petani pengelola, asal Desa Hikong,  selain menanam kopi, di lokasi HKm, keluarga mereka juga  menanam ubi jalar di bawah tegakan kopi. Hasil penjualan ubi jalar pada tahun 2017 bisa mendapat uang senilai  Rp.14 juta/tahun. Belum termasuk hasil dari tanaman lain seperti pisang dan nenas. “Dengan  penjualan ubi jalar dan aneka tanaman semusim, saat ini keluarganya tengah membangun rumah.  Intinya kami bersyukur bahwa HKm sudah membantu meningkatkan pendapatan kami”, tegas Anton Lado.

Keterangan Foto : Bapak Anton Lado, kaos bergaris didampingi Sekretaris Koperasi Nian Ue Wari.

Hal senanda juga disampaikan bapak Paulus Migu, 60 tahun, petani asal Desa Boru Kedang. Menurutnya, selain menanam tanaman kopi dan beberapa jenis lain yang bibitnya diusahakan bersama, dia juga menanam Sirih. “Saya tanam siri karena saya tahu bahwa sebagian masyarakat di wilayah ini suka makan siri pinang. Sirih sangat dibutuhkan saat acara adat. Dengan demikian saya tanam sirih di beberapa pohon dekat aliran sungai. Tampa saya sadari, dalam tahun ini, s       irih yang saya panen dan jual bisa mencapai Rp. 3 juta/bulan. Setiap bulan saya panen dan jual. Jad HKm bagi itu sangat menguntungkan kami petani”, ujar Paulus Migu saat diwawancai pihak Dinas Kehutanan Propinsi NTT ketika melakukan monitoring pada tanggal  13 Juli 2018.

Pengelolaan HKm, mampu menghasilkan Mata Air Baru

Berkaitan dengan kerusakan hutan, petani yang hadir dalam evaluasi memberikan kesaksian bahwa hal itu belum tentu benar. Buktinya, dengan pengelolaan HKm di kawasan Ili Wengot selama kurang lebih empat tahun ini, debit air semakin meningkat dari kondisi sebelumnya. Bahkan di kawasan Wolomage muncul satu mata air baru yang debitnya cukup  banyak.

Saat digali informasi mengapa mata air baru tersebut bisa muncul, Yohanes Oda Lewar, Koordinator Kelompok Wolomage menyampaikan. Awalnya beberapa petani di sana menanam tanaman Doko (sejenis Pandan) di suatu hamparan tertentu yang diyakani sebagai hutan keramat. Kurang lebih setahun setelah tanam mereka melihat ada perubahan yaitu berupa tanah di lokasi itu keliatan lembab dan beberapa waktu kemudian muncul mata air. Saat ini sebagian masyarakat sudah mengambil air di lokasi tersebut untuk air minum.

Dari beberapa bukti ini menunjukan bahwa pengelolaan HKm di kawasan Ili Wengot sudah mengarah pada keberhasilan. Dengan demikian, beberapa kelemahan yang ditemukan saat kegiatan Monev perlu kita tuntaskan saat evaluasi  ini. Salah satu yang menjadi agenda mendesak adalah peenataan  organisasi untuk cepat menjadi Koperasi sehingga ada pendampingan dari pihak lain selain dari Ayu Tani. “Bila kita sudah berbentuk koperasi maka pemerintah terutama Dinas  Koperasi, dengan sendirinya akan damping kita juga”, demikian tegas Rudolfus Rede, Wakil Ketua LPMA dalam acara evaluasi.

“Agar Koperasi yang akan kita rintis menjadi lebih kuat, maka kita  perlu kita juga merangkul masyarakat lain di hamparan Depu,  dekat Wengot. Mereka di sana sudah membuka lahan kurang lebih mencapai 100 Ha. Belum ada upaya serius untuk tanam tanaman umur panjang.  Jadi mereka mesti kita rangkul, dengan terlebih dahulu mengurus IUP HKm mereka juga. Bersama Ayu Tani dan mitra lainnya, kita bisa”, tegas Rudolfus Rede, Wakil Ketua LPMA.

 

 

 

 

Read More