Kamis, 03 Maret 2011

Jakarta, Kompas – Porsi pembiayaan perbankan syariah ke sektor pertanian masih kecil, bahkan cenderung turun. Padahal, peran pertanian, khususnya agribisnis, dalam perekonomian nasional cukup tinggi.

Sampai dengan akhir 2010, penyaluran kredit ke sektor pertanian mencapai Rp 91 triliun, atau 5,15 persen dari total kredit perbankan. Sekitar Rp 1,76 triliun di antaranya merupakan pembiayaan yang disalurkan perbankan syariah.

Untuk itu, Bank Indonesia mendorong perbankan syariah memanfaatkan peluang pembiayaan di sektor pertanian ini. Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah di sela-sela seminar ”Peluang Pembiayaan Perbankan Syariah untuk Sektor Agribisnis” di Gedung BI, Jakarta, Rabu (2/3), mengakui, kapasitas perbankan syariah saat ini belum maksimal. Apalagi, untuk pembiayaan di sektor pertanian masih relatif kecil. ”Pertanian tergantung alam. Karakteristik pembiayaannya berbeda. Sumber pembiayaan yang tepat perlu dikembangkan,” kata Halim.

Salah satunya adalah sistem pembiayaan Salam dalam perbankan syariah. Sistemnya, bank menerima pesanan dari pembeli untuk pengadaan hasil produksi agribisnis dengan kuantitas, kualitas, harga, dan waktu penyerahan yang disepakati. Bank memesan kepada petani sesuai pesanan pembeli. Dalam waktu yang telah ditentukan, petani mengirim pesanan bank kepada pembeli dengan kualitas dan jumlah sesuai pesanan bank. Pembayaran pemesanan dilakukan pada awal akad.

”Pembiayaan yang dijamin dengan panen yang akan datang tidak akan merugikan petani ataupun bank,” kata Halim.

Direktur Direktorat Perbankan Syariah Mulya E Siregar menambahkan, pembiayaan Salam sudah digunakan. Namun, jumlahnya belum banyak. Saat ini terdapat 11 bank syariah, 23 unit usaha syariah, dan 151 bank perkreditan rakyat syariah di Indonesia. Aset yang dikelola per akhir tahun 2010 Rp 100,2 triliun dengan laju pertumbuhan volume usaha 47 persen. (IDR)

http://cetak.kompas.com/read/2011/03/03/03511532/bi.dorong.pembiayaan.syariah.untuk.pertanian