Kamis, 03 Maret 2011

Jakarta, Kompas – Ketersediaan biopestisida atau pestisida alami masih minim sehingga petani mengandalkan pestisida kimia buatan. Selain mencemari lingkungan dan membunuh musuh alami hama, pestisida kimia buatan membuat hama kebal berbagai upaya pembasmian.

”Banyak studi menunjukkan, penggunaan pestisida menimbulkan banyak kerugian jangka panjang,” kata dosen dan peneliti pada Departemen Proteksi Tanaman Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor, Suryo Wiyono, di Bogor, Jawa Barat, Rabu (2/3).

Menurut Suryo, pestisida kimia mengandung satu senyawa murni polutan di alam. Sifat polutan jelas merusak. Akhir-akhir ini, ketertarikan industri memproduksi biopestisida mulai tumbuh. Namun, produktivitas biopestisida minim sehingga sulit diakses petani.

Peneliti pada Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI), Happy Widiastuti, mengatakan, unit kerjanya sudah memproduksi berbagai biopestisida. Namun, sejauh ini industri besar belum tertarik memproduksinya secara massal.

Padahal, dampaknya positif. ”Biopestisida bisa mengurangi dampak pemanasan global,” kata Happy.

Biopestisida produk BPBPI antara lain greemi-g, untuk mengendalikan penyakit tular tanah seperti Ganoderma sp yang banyak menyerang sawit, jamur akar putih pada karet, dan Phytophtora pada kakao. Produk biometeor pengendali hama dalam tanah, seperti penggerek pangkal batang tebu, juga menjadi pengendali hama Oryctes rhinoceros pada sawit dan kelapa.

Menurut Suryo, biopestisida dapat diproduksi dengan bahan baku tanaman dan mikroba. Mikroba berpotensi dikembangkan untuk massalisasi biopestisida.

Berbagai unsur tanaman dapat untuk biopestisida, antara lain mimba, tembakau, tuba atau jenu, temu-temuan atau rimpang kunyit dan kencur. (NAW)

http://cetak.kompas.com/read/2011/03/03/04503730/pestisida.alami.minim.hama.kebal.obat