Penurunan permukaan tanah hingga tahun 2010 telah mencapai 4,1 meter.

Rabu, 9 Februari 2011, 10:04 WIB
Maryadie, Dwifantya Aquina

VIVAnews – Pemerintah DKI Jakarta akan membangun tanggul atau dam raksasa yang menghubungkan antar pulau di Teluk Jakarta. Pembangunan dam raksasa ini diperkirakan selesai pada tahun 2025.

Tahun tersebut dipilih untuk mengantisipasi naiknya ketinggian permukaan air laut pada saat itu yang diperkirakan mencapai 2,5 meter. Kenaikan permukaan air laut itu akibat pemanasan global.

Selain itu, kenaikan permukaan laut diperparah dengan penurunan permukaan tanah (land subsidence) di sebagian Jakarta. Penurunan permukaan tanah hingga tahun 2010 telah mencapai 4,1 meter.

Data juga menyebutkan, penurunan permukaan tanah Jakarta sudah terjadi sejak 1974 dan akan terus terjadi. Data terbaru 2010 menyebutkan sebanyak 40 persen wilayah Jakarta berada di bawah permukaan laut.

Data kuantitatif menunjukkan fakta bahwa dalam kurun waktu 1974-2010 telah terjadi penurunan permukaan tanah di wilayah Jakarta hingga 4,1 meter. Ini khususnya terjadi di wilayah Muara Baru, Cilincing, Jakarta Utara.

Penurunan serupa juga terjadi di sejumlah wilayah lain, seperti di Cengkareng Barat turun 2,5 meter, Daan Mogot (1,97 meter), Ancol (1,88 meter, titik pantau di area wisata Ancol), Cempaka Mas (1,5 meter), Cikini (0,80 meter), dan Cibubur (0,25 meter).

Gubernur DKI Jakarta Fauzi Bowo mengatakan, giant sea wall atau tanggul laut raksasa yang dibuat dengan sistem polder di kawasan Teluk Jakarta akan dibangun dalam masa 10 tahun. Sehingga, kata Foke, begitu sebutan Fauzi Bowo, pada tahun 2025 nanti, Jakarta telah memiliki tanggul laut raksasa yang bisa mengatasi ancaman Jakarta tenggelam.

Sebelumnya mantan Gubernur DKI Sutiyoso menyatakan Jakarta terancam dua malapetaka yakni macet dan tenggelam. Ancaman Jakarta tenggelam didasari atas data Dinas Pekerjaan Umum DKI Jakarta yang menyebutkan terjadi penurunan tanah. Ini paling terlihat di Waduk Pluit dimana permukaan air laut lebih tinggi 3 meter dari air waduk.

Fauzi Bowo mengungkapkan, DKI telah diminta pemerintah pusat untuk merancang sea defence strategy atau strategi pertahanan air laut di pantai utara Jakarta. Dari kajian yang telah dilakukan konsorsium Jakarta Coastal Defence Strategy (JCDS), lembaga bantuan dari Pemerintah Belanda, menemukan dua faktor penting yang menyebabkan banjir masih melanda kota Jakarta.

Kedua faktor itu yakni, penurunan permukaan tanah di wilayah utara Jakarta sudah sangat memprihatinkan serta peningkatan permukaan air laut yang semakin tinggi.

“Kalau kombinasi kedua faktor ini dibiarkan terus maka kawasan pantai utara Jakarta terancam. Diproyeksikan pada lima sampai sepuluh tahun mendatang keadaan itu makin parah, ujar Foke.

Selama ini, kata Foke, untuk menjaga kawasan utara Jakarta, Dinas Pekerjaan Umum (PU) DKI Jakarta telah melakukan pembangunan tanggul serta memperbaiki tanggul yang rusak. Hanya saja permasalahnya, apakah pembangunan dan penguatan tanggul ini masih bisa digunakan untuk kondisi 10 hingga 50 tahun ke depan. VIVAnews