Sabtu, 26 Februari 2011

Kabanjahe, Kompas – Serangan hama pada tanaman jeruk kini terus meluas hingga ke berbagai daerah sentra produksi jeruk di Indonesia. Kondisi buruk yang dipicu anomali cuaca itu berpeluang mengganggu produksi nasional dan menyengsarakan ribuan petani jeruk.

Di Kalimantan Barat, misalnya, buah jeruk yang dibudidayakan petani di Kabupaten Sambas pecah sebelum masa panen tiba. Kerusakan itu mencapai 85 persen. ”Satu pohon biasanya berbuah sekitar 100 buah. Tetapi, sekarang yang bisa dipanen hanya berkisar 15-20 buah per pohon. Ini karena cuaca tidak menentu,” kata Ketua Kelompok Tani Mawar Indah, Desa Pusaka, Kecamatan Tebas, Sambas, Madun, Jumat (25/2).

Sementara itu, di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, produksi jeruk juga menurun hingga 60 persen karena serangan lalat buah dan anomali cuaca. Penyebab utama adalah serangan lalat buah. Lalat menyuntikkan telurnya ke dalam buah sehingga jeruk membusuk. ”Jeruk mudah menguning dan jatuh. Kalaupun sempat kami petik, jeruk-jeruk itu mudah busuk sehingga tidak ada yang beli,” ungkap Adri Karo Sekali (27), pemilik kebun jeruk.

Sebelumnya, serangan hama akar batang menggagalkan panen jeruk keprok gayo milik petani di Kabupaten Bener Meriah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Hama itu tidak hanya membuat jeruk tidak berbuah, tetapi tanaman juga meranggas dan mati, (Kompas, 25/2).

Sudah empat tahun

Paiman (42), petani jeruk karo di Desa Buah Ranggang, Kecamatan Tiga Panah, mengaku, penurunan hasil panen jeruk sudah terasa sejak empat tahun lalu. Kali ini kebun majikannya seluas satu hektar itu hanya berproduksi 2 kuintal jeruk dan pada puncak panen pada Juli-Agustus nanti diperkirakan mencapai 5 ton. Itu jauh menurun dibanding empat tahun lalu yang mencapai 12 ton dalam sekali panen.

Jumlah pohon jeruk di Karo sekitar 12,7 juta batang tersebar pada lahan 11.000 hektar. Data Dinas Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Karo menyebutkan, hasil panen jeruk di Karo pada 2010 sebanyak 268.980 ton atau setara 20,9 kilogram per pohon.

”Produksi terus menurun, kemungkinan tahun ini turun lagi. Padahal, sekitar empat atau lima tahun lalu produksi jeruk pernah 50 kilogram per pohon,” papar Kadis Pertanian dan Perkebunan Kabupaten Karo Nomi Sinuhaji.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Desa Sempalai, Kecamatan Tebas, Sambas, Masri, mengatakan, sebagian besar petani jeruk masih berkutat dengan ancaman hama diaphorina citri yang membawa penyakit citrus vein phloem degeneration (CVPD). ”Sebagian besar petani masih mengumpulkan modal untuk mengganti tanaman lama yang dibakar setelah terserang CVPD. Kalau tak dibakar, penyakit akan menular,” kata Masri.

Dari 11.880 hektar perkebunan jeruk di Sambas yang merupakan sentra perkebunan jeruk di Kalimantan Barat, hampir 90 persen berada di Tebas.

Terkait dengan kegagalan jeruk gayo, Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, Tanaman Pangan Bener Meriah, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam, Rusman mengatakan, serangan hama akar batang pada tanaman jeruk keprok gayo terhadap hampir semua lahan komoditas itu di Bener Meriah karena sebagian besar petani belum menanam bibit tanaman yang sudah diinjeksi. Akibatnya, saat anomali cuaca ini hama mudah menyerang dan berkembang luas pada tanaman.

”Untuk saat ini yang bisa kami lakukan adalah mendistribusikan bibit tanaman yang sudah diinjeksi dan tahan hama. Stok kami hanya ada 17.000 batang. Paling tidak dapat mengganti sebagian tanaman petani jeruk keprok gayo yang rusak,” kata Rusman. (AHA/HAN/MHF)

http://cetak.kompas.com/read/2011/02/26/04120194/hama.jeruk.meluas