Minggu, 29 Mei 2011 | 12:12 olehHerlina KD

JAKARTA. Para petani bawang merah harus menelan pil pahit. Pasalnya, harga bawang merah melorot seiring memasuki masa panen.

Akat, Wakil Ketua Asosiasi Perbenihan Bawang Merah Indonesia (APBMI), mengatakan, saat ini harga bawang merah di tingkat petani mencapai Rp 9.000 per kilogram (kg). “Dikhawatirkan harga bawang merah akan kembali jatuh saat panen raya Juni hingga Agustus nanti menjadi sekitar Rp 5.000 – Rp 6.000 per kg,” ujarnya kepada KONTAN, Minggu (29/5).

Badan Pusat Statistik (BPS) melansir penurunan harga bawang merah yang berlangsung sejak April lalu ikut menyumbang deflasi. “Sumbangan terbesar dari deflasi April yang sebesar 0,31% berasal dari bawang merah yang menyumbang deflasi sebesar 0,13%,” ujar Kepala BPS Rusman Heriawan beberapa waktu lalu.

Harga bawang merah lokal semakin tertekan dengan masih adanya gelontoran bawang merah impor. Data BPS menyebutkan, dalam tiga bulan pertama tahun ini, impor bawang merah mencapai 85.730 ton senilai US$ 55,892 juta. Padahal, sepanjang tahun 2010 lalu impor bawang merah tercatat hanya sebesar 73.864 ton dengan nilai US$ 33,86 juta.

Menurut Akat, seharusnya harga bawang merah di tingkat petani di kisaran Rp 13.000 per kg karena kualitasnya lebih baik ketimbang tahun lalu. Dengan harga yang rendah ini, dia khawatir petani bakal gigit jari. Sebab, tahun ini petani harus merogoh kocek yang lebih dalam untuk biaya perawatan tanaman setelah belajar dari tahun lalu.

Akat bilang, dalam kondisi normal petani membutuhkan biaya perawatan tanaman bawang merah khususnya untuk pembelian pestisida sekitar Rp 5 juta. Nah, “Karena anomali iklim, petani harus mengeluarkan biaya hingga dua kali lipat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, berkat perawatan yang cukup baik saat ini produksi bawang merah mencapai 8 ton – 10 ton per hektare. Jumlah ini lebih besar ketimbang tahun lalu dimana produktifitas bawang merah anjlok menjadi sekitar 6 ton – 7 ton per hektare karena curah hujan tinggi. Asal tahu saja, dalam kondisi normal, tingkat produktifitas bawang merah bisa mencapai 20 ton per hektare.

Akibat rendahnya harga bawang merah ini, Akat khawatir petani enggan untuk menanam bawang merah pada musim tanam berikutnya. Pasalnya, “Petani tidak cukup modal untuk kembali membeli bibit dan membiayai perawatan tanaman,” katanya.

Jika hal ini terjadi, Akat memperkirakan luas tanam bawang merah berkurang hingga 15%. Ia mencontohkan, di Nganjuk, Jawa Timur, dari total areal bawang merah 6.000 ha, hanya sekitar 5.000 ha yang ditanami.

Akat berharap, pada musim tanam kedua nanti harga bawang merah tidak akan anjlok terlalu dalam. Pasalnya, ia memperkirakan dengan luas panen yang sedikit berkurang pasokan bawang merah tidak terlalu melimpah. Apalagi, “Pertengahan tahun nanti sudah tidak ada bawang impor,” jelasnya.

(Sumber : http://industri.kontan.co.id/v2/read/1306645942/68792/Harga-bawang-merah-anjlok-petani-meringis)