Bulog seharusnya lebih memprioritas pembelian beras dari petani ketimbang dari negara lain.

Selasa, 26 Juli 2011 | 17:29 WIB

Jakarta – Pemerintah diminta membatalkan rencana impor beras yang akan dilakukan pada September-Oktober mendatang. Pasalnya, impor bisa dilakukan setelah pemerintah berkomitmen membeli beras dari petani.

“Pemerintah harus terlebih dahulu menetapkan angka pembelian beras dari petani. Dengan demikian, pemerintah tidak berulang kali mengimpor beras,” kata Ketua Komisi IV DPR Romahurmuzy, di Jakarta, Selasa (26/7).

Dia menjelaskan, Bulog seharusnya lebih memprioritas pembelian beras dari petani ketimbang dari negara lain. Apalagi, lanjutnya, ada kecenderungan meningkatnya harga beras Thailand setelah ada iming-iming kampanye Yingluck Shinawatra yang menjanjikan kenaikan harga pokok penjualan (HPP) di tingkat petani.

Menurutnya, hal tersebut mulai terlihat dari naiknya harga beras sekitar 7,3 persen dibandingkan harga akhir Juni 2011 sekitar USD 519 per ton. “Saya khawatirnya isu itu malah membuat Bulog harus beli beras Thailand berharga mahal,” tambahnya.

Seperti diketahui, pemerintah berniat mengimpor beras dari Thailand dan Vietnam untuk menjaga stok beras Bulog pada level 1,5 juta ton-2 juta ton menjelang bulan puasa dan lebaran. Padahal sebelumnya pemerintah telah membeli 500.000 ton beras dari Vietnam. (wah)

(http://skalanews.com/baca/news/2/47/95006/umum/pemerintah-diminta-batalkan-impor-beras.html)