Senin, 7 Februari 2011

Lamongan, KOMPAS – Panen raya di sejumlah daerah dan cuaca basah akibat banyak hujan membuat harga gabah terus turun. Bahkan, pedagang memanfaatkan kondisi ini dengan menawarkan harga pembelian yang sangat rendah sehingga harga gabah di sejumlah daerah anjlok.

Selain disebabkan kualitas panen buruk akibat serangan hama, merosotnya harga juga disebabkan gabah petani tidak bisa segera diproses di penggilingan karena proses pengeringan membutuhkan waktu lama. Rencana pemerintah mendatangkan beras impor juga menyebabkan harga gabah terus merosot.

Ainur Rofik, petani di Maduran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, Minggu (6/2), mengatakan, serangan hama menyebabkan banyak padi tak berisi. Di Desa Srampat dan Suwuran hampir 75 persen atau sekitar 200 hektar padi diserang hama. Jika semula satu hektar tanaman padi dapat menghasilkan 9 ton gabah, kini 5 ton. Harga gabah Rp 2.000- Rp 2.100 per kilogram, sebelumnya Rp 3.000-Rp 3.300 per kg.

Hama wereng juga menyerang sawah di Banyuwangi dan Jember di Jatim, serta Karawang dan Purwakarta di Jawa Barat.

Di Demak, Jawa Tengah, harga gabah kering panen (GKP) anjlok menjadi Rp 1.900 per kg dari semula Rp 2.800 per kg. Dua pekan lalu, harga GKP masih Rp 3.000 per kg. Selain Demak, daerah lainnya di Jateng sudah mulai panen raya, seperti Grobogan, Pati, Sukoharjo, dan Pekalongan.

”Banyak pedagang menawar gabah kering panen petani seenaknya. Ada pedagang hanya mau membeli gabah seharga Rp 1.750 per kg, alasannya kadar air gabah di atas 30 persen. Kalau tawarannya ditolak, katanya daerah lain sudah panen,” kata Rohidin, petani di Kebonagung, Kabupaten Demak, Sabtu (5/2).

Di Cirebon, Jabar, harga gabah kering giling Rp 3.500-Rp 3.700 per kg. Dua atau tiga minggu lalu, harga GKP masih Rp 3.700-Rp 4.000 per kg, bahkan sebelumnya mencapai Rp 4.200 per kg.

Berdasarkan data Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, pada Januari dan Februari ini panen terjadi di 9 kecamatan. Total luas panen 2.044 hektar.

Yatni (57), petani di Desa Sampiran, Kecamatan Talun, Cirebon, mengatakan, hasil panennya sekitar 3 ton gabah kering. Gabah itu dijual Rp 3.700 per kg. ”Jika dijual basah, harganya Rp 3.000 per kg, padahal dua minggu lalu masih Rp 3.500-3.700 per kg,” kata Yatni yang menyewa lahan seluas sekitar 1 hektar di Talun.

Menyimpan gabah

Rendahnya harga gabah membuat petani di Tulungagung, Jatim, menyimpan gabah mereka untuk cadangan pangan. Hal itu dilakukan karena harga beras di pasaran justru naik.

Harga beras di sentra beras di Pasar Kota Tulungagung naik menjadi Rp 6.800 per kg, pekan lalu masih Rp 6.200 per kg. ”Beras yang bagus mencapai Rp 7.000-Rp 7.500 per kg,” kata Nur (40), pedagang beras eceran di pasar tersebut.

Di Sragen, Jateng, Pengurus kelompok Tani Makmur, Supadi, meminta pihak Subdivisi Regional Bulog Solo secepatnya membeli gabah petani ketika harga gabah sudah jatuh. Harga GKP di Sragen dan sekitarnya hanya Rp 1.900-Rp 2.000 per kg.

Bulog Divisi Regional Jateng mulai membeli beras dan gabah petani. Namun, pembelian masih terbatas, hingga akhir Januari, kontrak gabah yang masuk baru 235,93 ton.(WHO/REK/WIE/EKI/MKN/SIR/ACI/NIT/ODY)

(http://cetak.kompas.com/read/2011/02/07/03023051/harga.gabah.terus.turun)