Senin, 21 Februari 2011

Karawang, Kompas – Pada awal musim panen rendeng tahun ini petani benar-benar tengah menikmati tingginya harga gabah. Harga gabah kering panen kualitas standar di tingkat petani saat ini Rp 3.000-Rp 3.300 per kilogram, jauh di atas harga pembelian pemerintah yang hanya Rp 2.640 per kilogram.

Berdasarkan pengamatan Kompas di sepanjang pantai utara Jawa dari Karawang hingga Cirebon, Jawa Barat, Minggu (20/2), misalnya, tampak hamparan tanaman padi yang sebagian besar menghijau. Panen serentak berlangsung satu hingga dua bulan lagi.

Namun, di beberapa wilayah sentra pertanian padi, seperti di Kabupaten Karawang, panen padi mulai berlangsung. Pada panen kali ini kualitas gabah lebih baik daripada tahun lalu, terutama dalam produktivitas. Gangguan hama penyakit ada, tetapi luasnya hanya 5-10 persen.

Ketua Gabungan Kelompok Tani Sumber Tani Desa Tegalsawah, Kecamatan Karawang Timur, Kabupaten Karawang, Iyah Rasim (40) mengungkapkan, dengan harga jual gabah kering panen (GKP) di tingkat petani Rp 3.000-Rp 3.300 per kg, petani memperoleh pendapatan Rp 17 juta-Rp 19,1 juta per hektar.

Berdasarkan sensus pertanian Badan Pusat Statistik yang dirangkum Litbang Kompas, memang ada tren penurunan luas lahan yang dikuasai petani. Pada sensus 1983, misalnya, rata-rata luas lahan yang kurang dari 0,5 hektar dikuasai 63,3 persen rumah tangga pertanian. Pada sensus 2003, jumlahnya naik menjadi 74,8 persen lahan kurang dari 0,5 hektar yang dikuasai rumah tangga pertanian.

Jadi, meski harga jual gabah tinggi, usaha tani padi tetap tidak mampu menjadi andalan pendapatan warga.

Pendapatan di atas dicapai kalau petani menjual padi dalam bentuk GKP. Kalau menjual dalam bentuk gabah kering giling (GKG) dengan kadar air maksimal 14 persen, petani akan mendapat tambahan pendapatan Rp 1 juta-Rp 1,4 juta per hektar.

Karena tidak ada alat pengering, petani lebih memilih menjual gabah dalam bentuk  GKP karena tidak berisiko rusak. Kalau memaksakan diri menjual dalam bentuk GKG, bisa-bisa petani malah kehilangan pendapatan lebih besar karena gabah yang tidak segera kering cepat rusak.

Gabungan Kelompok Tani Sumber Tani saat ini terdiri dari sembilan kelompok tani dengan 400 anggota petani yang mengelola 363 hektar sawah.

Ketua Umum Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia (Perpadi) Nur Gay- bita menyatakan, pada panen padi musim rendeng ini terjadi penurunan rendemen dari GKP ke beras sebesar 2-3 persen.

Perkiraan ini berdasarkan uji coba giling yang dilakukan petani dari beberapa kabupaten di Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Jawa Timur. Mereka coba menggilingkan padi di Subang yang memperkenalkan sistem penggilingan lebih modern, tidak merusak kualitas beras.

Penurunan kualitas padi terutama akibat kesulitan petani mengeringkan gabah. Wakil Ketua Komisi IV DPR dari Fraksi Partai Golkar Firman Soebagyo menyatakan, pihaknya akan mempertanyakan mekanisme penyaluran bantuan alat pengering (dryer) oleh pemerintah.

”Karena belum ada perubahan peruntukan penggunaan anggaran, semestinya tidak ada perubahan alokasi. Kami akan pertanyakan itu. Dalam memberikan bantuan dryer, pemerintah seharusnya melakukan pendampingan agar dryer bisa berfungsi optimal,” kata Firman.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Udhoro Anggoro Kasih mengungkapkan, melihat kondisi di lapangan, panen padi musim rendeng tahun ini tampaknya lebih baik. Di mana-mana terbentang hamparan padi, baik yang siap panen maupun yang masih harus menunggu beberapa minggu hingga dua bulan.

”Malai padi juga terisi penuh. Begitu pula dengan bulir-bulir padi,” ungkapnya. Kondisi pertanaman padi yang bagus tampak di sepanjang pantura, juga di wilayah selatan Jawa, seperti Sragen dan Klaten, Jawa Tengah.

Terkait dengan kesulitan petani mengeringkan gabah, Anggoro mengakui, memang itu persoalan pokok petani sejak lama. Untuk mengatasi kesulitan pengeringan, dibutuhkan 10.000- 11.000 alat pengering. Kalau hanya 1.000 unit, belum berarti.

”Kami sedang menghitung kebutuhannya. Idealnya bisa mulai jalan tahun ini dan tahun-tahun mendatang sudah harus dianggarkan terus,” ujarnya.

Di Kabupaten Gorontalo, Provinsi Gorontalo, petani di Desa Paris, Kecamatan Mootilango, kewalahan menghadapi serbuan hama wereng. Hasil panen gabah mereka menurun drastis hingga 50 persen. Petani akhirnya menggunakan cara manual untuk memberantas hama karena penggunaan pestisida tidak efektif.

Menurut Abdullah (55), Ketua Gabungan Kelompok Petani Desa Paris, serangan hama wereng adalah yang paling ditakuti petani di desanya. Hama sejenis serangga tersebut menyerang tanaman padi saat masih berusia dua pekan hingga satu bulan. Dampaknya, hasil panen gabah petani dapat menurun sampai 50 persen.

Di Lampung, puluhan hektar area sawah yang berumur 1-1,5 bulan di Kabupaten Pringsewu dan Lampung Selatan diserang hama tikus. Kemunculan hama ini sebulan terakhir memperbesar ancaman penurunan produksi gabah petani.

Kusnawi (70), petani di Desa Bulak Rejo, Kecamatan Gading- rejo, Kabupaten Pringsewu, Sabtu, menuturkan, serangan tikus sebulan terakhir merusak belasan hektar tanaman padi di daerahnya. Tikus juga menyerang sawah di 14 desa lain di Gadingrejo.

Di Jawa Timur, banjir, curah hujan yang tinggi, dan serangan hama memicu penurunan produksi padi di Gresik, Lamongan, dan Bojonegoro. Penurunan produksi itu mencapai 30-40 persen. Kualitas padi pun buruk dengan kadar hampa dan kadar air di bawah standar Perum Bulog. (JON/ACI/APO/MAS/MKN/BUR)

http://cetak.kompas.com/read/2011/02/21/02595840 /memasuki.panen.harga.padi..tinggi