Kamis, 1 April 2010 – 12:59 wib
Candra Setya Santoso – Okezone

JAKARTA – Nilai Tukar Petani (NTP) pada Februari 2010 tercatat turun 0,10 persen bila dibandingkan bulan sebelumnya.

Hal tersebut diungkapkan Kepala badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan, saat ditemui wartawan dalam konferensi pres, di Gedung BPS, Jakarta, Kamis (1/4/2010).

Pada Februari 2010, NTP nasional sebesar 101,09, atau turun 0,10 persen dibandingkan bulan sebelumnya. NTP Tanaman Pangan (NTPP) turun 0,07 persen; NTP Hortikultura (NTPH) turun 0,06 persen; NTP Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR) turun 0,28 persen; NTP Peternakan (NTPT) turun 0,29 persen; dan untuk NTN (NTN) naik 0,23 persen. Penurunan NTP disebabkan masih tingginya inflasi pedesaan sehingga indeks harga yang dibayar petani lebih tinggi dari indeks harga yang diterima petani.

Adapun dari 32 provinsi (tanpa DKI) pada Februari 2010, NTP 17 provinsi naik, sedangkan 15 provinsi turun. Kenaikan NTP tertinggi terjadi di Provinsi Sumatera Selatan (1,65 persen), terutama disebabkan harga produsen jagung yang naik 5,19 persen. Penurunan NTP terbesar terjadi di Provinsi Sulawesi Tengah (1,20 persen), terutama disebabkan harga produsen bawang merah yang turun 4,76 persen.

Pada Februari 2010, terjadi inflasi di daerah perdesaan di Indonesia sebesar 0,60 persen. Inflasi perdesaan Februari 2010 ini dipengaruhi oleh kenaikan indeks harga seluruh subkelompok, yaitu subkelompok bahan makanan; makanan jadi; perumahan; sandang; kesehatan; pendidikan, rekreasi dan olahraga serta transportasi dan komunikasi yang naik masing-masing 0,86 persen; 0,60 persen; 0,38 persen; 0,07 persen; 0,17 persen; 0,16 persen; dan 0,09 persen.

Selama Maret 2010, komposisi jumlah observasi dari 1.091 transaksi harga gabah di 19 provinsi didominasi Gabah Kering Panen (GKP) sebesar 67,28 persen, diikuti oleh gabah kualitas rendah sebesar 29,79 persen dan Gabah Kering Giling (GKG) sebesar 2,93 persen.

Di tingkat petani, harga gabah tertinggi berasal dari gabah kualitas GKG varietas Cisokan senilai Rp4.500,- per kg yang terjadi di Kabupaten Kerinci (Jambi). Sedangkan harga terendah senilai Rp2.000,- per kg berasal dari gabah kualitas rendah varietas Ciliwung dan Ciherang terjadi di Kabupaten Lebak (Banten) dan Kabupaten Polewali Mandar (Sulawesi Barat). Harga terendah tersebut juga ditemukan pada gabah kualitas GKP varietas Ciherang dan Cigeulis di Kabupaten Lebak (Banten).

Meskipun harga rata-rata di tingkat petani dan penggilingan relatif di atas HPP, memasuki musim panen raya bulan ini menyebabkan harga cenderung turun dibandingkan bulan lalu.

Rata-rata harga gabah kualitas GKG di tingkat petani turun 9,78 persen menjadi Rp3.343,06 per kg dan kualitas GKP turun 9,74 persen menjadi Rp2.857,49 per kg dibandingkan bulan lalu. Sedangkan di tingkat penggilingan, masing-masing turun 9,45 persen menjadi Rp3.419,94 per kg dan 9,69 persen menjadi Rp2.922,26 per kg. Sementara itu, gabah kualitas rendah di tingkat petani juga mengalami penurunan 7,78 persen menjadi Rp2.490,85 per kg.
(css)