Jumat, 11 Februari 2011

Banyuwangi, Kompas – Panen raya mulai berlangsung di sejumlah daerah, tetapi petani justru rugi. Kualitas panen yang kurang bagus akibat cuaca ekstrem membuat harga gabah anjlok. Akibatnya, nilai jual gabah tidak seimbang dengan biaya produksi yang telah mereka keluarkan.

Pada Kamis (10/2) harga gabah kering panen (GKP) di Banyuwangi, Jawa Timur, hanya Rp 2.600-Rp 2.700 per kilogram (kg). Sebulan lalu, harga GKP masih Rp 3.000 per kg. Dengan harga gabah yang rendah, petani tak bisa menutupi biaya produksi yang tinggi akibat serangan hama wereng.

”Panen saya hanya 3 ton dalam satu hektar saat ini, artinya hanya mengantongi Rp 8 jutaan, padahal biaya yang harus ditanggung lebih dari itu,” kata Nasir, petani Desa Gambor, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi.

Nasir mengatakan, tahun ini ia mengeluarkan biaya untuk penyemprotan wereng lebih dari 12 kali. Sekali semprot, ia mengeluarkan dana sebesar Rp 80.000- Rp 100.000 untuk biaya obat dan buruh. Itu belum termasuk pupuk, tenaga kerja, sewa lahan, dan bibit yang mencapai tak kurang dari Rp 9 juta.

”Biasanya semua itu masih bisa tertutupi jika panen mencapai 5 ton kering panen atau harga gabah lebih dari Rp 3.000 (per kilogram), tetapi di musim panen ini kedua-duanya tidak bisa diharapkan,” tutur Nasir.

Di Tegal, Jawa Tengah, harga gabah kering panen dari sawah hanya Rp 2.200 per kg, sedangkan harga gabah kering giling (GKG) Rp 3.500 per kg. Bulan lalu, harga gabah dari sawah Rp 3.000 per kg, sedangkan harga GKG Rp 4.000 per kg.

”Penurunan harga gabah lebih banyak apabila dibandingkan dengan penurunan harga beras. Padahal, belum semua petani menikmati panen, sehingga harus membeli beras. Banyak pula petani yang gagal panen karena tanaman padi mereka terserang tikus. Tanaman padi saya di lahan 3.000 meter persegi juga gagal panen,” kata Kaspi (50), petani di Desa Kertayasa, Kecamatan Kramat, Kabupaten Tegal.

Turun 30-50 persen

Di Bojonegoro, Ketua Kelompok Tani Nelayan Andalan Kabupaten Bojonegoro, Syarif Usman, mengatakan bahwa faktor alam, seperti cuaca buruk, banjir, dan hujan hampir sepanjang tahun, serta serangan hama dan penyakit menyebabkan produksi merosot 30-50 persen.

Hal tersebut juga dialami petani di Tuban. Sianjaya, petani di Kedungrejo, Kecamatan Widang, Simanjaya, mengatakan bahwa dalam kondisi normal dalam satu hektar bisa menghasilkan 10 hingga 11 ton, saat ini dalam satu hektar maksimal menghasilkan enam ton. (SIN/INK/WIE/ACI/NIT)