Dari semula dipermainkan tengkulak, petani kakao di Flores Timur kini mengendalikan harga. Perubahan posisi terjadi setelah mereka membangun kelompok tani.

PENGALAMAN tersebut dialami Jaringan Petani Wulanggitang (Jantan) diFlores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), termasuk petani Desa Nawokote, Kecamatan Hokkeng. Semua petani didesa ini membudidayakan kakao sebagai komoditas utama. Sebagian kecil juga menanam pohon mete. Namun, kakao menjadi sumber utama pendapatan petani di sini. Saat ini, petani menjual biji kakao basah seharga Rp 7.500 per kilogram. Sebelumnya, mereka menjual seharga Rp 16.000 hingga Rp 18.000 per

kilogram biji kering. Karena dijual kering,maka petani harus menjemurnya terlebih dulu. Biasanya 3 kg biji kakao basah akan jadi 1 kg kering. Karena kini menjual basah, maka petani tidak lagi perlu menjemur biji kakao tersebut.

Selain penanganan pascapanen lebih cepat, harga juga jadi lebih tinggi.Menurut perhitungan, dulu petani mendapat harga per kilogram basah sekitar Rp 5.500, tapi sekarang naik sekitar 50 persen, jadi Rp 7.500. “Sekarang, pembeli juga lebih pasti dibanding dulu,” kata Antonius Tubun, petani di Desa Nawokote. Kenaikan harga dan kepastian pembeli terjadi seiring dengan lahirnya kelompok pemasaran bersama petani di Kecamatan Hokeng. Pemasaran bersama merupakan kegiatan utama Jantan. Jaringan ini terbentuk sejak 2009. Melalui pemasaran bersama ini, kini petani tak lagi perlu menjual komoditinya sendirisendiri.

Mereka cukup membawa ke Tim Pemasaran Desa (TPD). TPD merupakan salah satu kelengkapan untuk pemasaran bersama kakao ini. Ada tiga bagian utama dalam pemasaran bersama ala Jantan. Selain TPD juga ada kesekretariatan dan petani anggota. Tiga bagian ini bekerja dengan tujuan bersama, mengangkat posisi petani dari yang semula diperas tengkulak menjadi lebih mandiri menentukan harga komoditi.

Menurut Koordinator Jantan, Darius Don Boruk, kerja tersebut dikendalikan dari sekretariat Jantan. Sekretariat bertugas untuk melakukan lobi harga dengan pembeli. Saat ini, hanya ada satu pembeli utama yaitu PT Mars. Tugas lain sekretariat adalah mendistribusikan informasi harga melalui TPD pada petani. Sekretariat juga membagi alat alat pemasaran untuk petani anggota. Setiap informasi maupun alat kemudian didistribusikan oleh TPD pada petani. Tugas utama TPD adalah melakukan konsolidasi dan koordinasi di tingkat petani terkait dengan pembelian kakao. Saat ini ada 23 kader TPD yang tersebar di 12 desa dan 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Wulanggitang, Ilebura, dan Titehena. Mereka bertugas di tiap pos penimbangan, di mana tiap posnya ada tiga TPD. Di tiap pos penimbangan ada minimal 3 TPD dengan tugas, antara lain mengontrol kualitas, menimbang, dan mencatat. TPD juga menginformasikan harga dari sekretariat pada petani anggota. Tugas lainnya adalah mendistribusikan bahan dan alat untuk pembelian kakao, seperti dacin dan karung bahkan sarana transportasi.

Di tingkat paling bawah barulah ada petani anggota pemasaran bersama Jantan. Hingga akhir Oktober lalu, ada sekitar 1.100 petani yang tergabung dalam Jantan. Peran utama petani ini menyediakan produk kakao. Untuk menjaga kualitas kakao, petani juga melakukan quality control (kontrol kualitas) mulai dari pemanenan, pembelahan, hingga penyortiran. Petani pula yang melakukan penimbangan bersama kader TPD.

Don menambahkan kuatnya posisi petani kakao melalui Jantan ini tak bisa dilepaskan dari dukungan Yayasan Ayu Tani dan VECO Indonesia. Dua lembaga ini mendampingi petani untuk membentuk jaringan sejak 2002 lalu meskipun baru membentuk pemasaran bersama sejak 2008 lalu. “Kalau petani menyatukan kekuatan, tengkulak dan pembeli tidak akan bisa mempermainkan kami lagi,” kata Don. [Anton Muhajir]

Jaringan Petani Wulanggitang

(JANTAN)

Berdiri: 2007

Anggota: 1.100 petani

Alamat: Hokkeng, Flores Timur, NTT

http://www.vecoindonesia.org/images/pdf/lontar-januari-2011.pdf