Melalui program advokasi, VECO Indonesia mendorong petani menggunakan kekuatan bersama untuk memengaruhi pengambilan kebijakan.

Menggunakan modal dari Lembaga Studi Kemasyarakatan dan Bina Bakat (LSKBB) Solo dan VECO Indonesia, Kelompok Tani Sari Rejeki di Boyolali, Jawa Tengah bisa membeli padi dari anggotanya dengan harga lebih tinggi. Karena itu, petani memilih menjual padi ke kelompok daripada ke tengkulak. Petani untung, demikian pula dengan kelompoknya. Mereka juga bisa memiliki cadangan pangan di lumbung.

Kelompok Tani Sari Rejeki, yang juga berfungsi sebagai lumbung pemasaran beras organik, merupakan salah satu dari lima kelompok lain yaitu Sari Mulyo (65 anggota), Sari Rejeki (33), Sumber Ekonomi (42), Sari Tani (85), Ngudi Cukup (48), dan Sido Makmur (60). Semua kelompok tani mempunyai lumbung cadangan pangan. Khusus untuk Sido Makmur seluruh anggotanya perempuan. Adapun varietas yang disimpan adalah beras merah sleggreng, varietas lokal yang banyak diproduksi petani setempat. Jenis ini laku di pasar dan tidak jadi menu utama konsumsi beras petani.

Revitalisasi lumbung pangan merupakan salah satu tujuan program advokasi VECO Indonesia. Agar lumbung pangan ini terwujud, petani harus mendirikan kelompok dari tingkat paling lokal hingga di tingkat nasional. Petani di Boyolali dan Timor Tengah Utara, misalnya, selain mendirikan kelompok kecil di desa juga membentuk organisasi dengan skala lebih luas. Kalau di TTU ada Asosiasi Bituna, maka di Boyolali ada Asosiasi Petani Organik Boyolali (Apolo) dan Kelompok Jaringan Lumbung Boyolali.

Melalui organisasi-organisasi ini, petani tak hanya menaikkan posisi tawar terkait pemasaran tapi juga keputusan politis. Di Bituna, petani ikut serta dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Desa yang tak hanya membahas masalah pertanian tapi juga persoalan lain terkait pembangunan desa seperti pendidikan dan perbaikan infrastruktur desa. Di tingkat lebih tinggi, VECO Indonesia melalui mitra-mitranya juga berusaha mempengaruhi kebijakan tersebut.

Berdirinya kantor Lapangan VECO Indonesia di Jakarta sejak 2008 lalu merupakan salah satu upaya agar VECO Indonesia bisa lebih aktif mendorong keterlibatan organisasi petani ataupun mitranya dalam mempengaruhi kebijakan di tingkat nasional. Menurut Koordinator Kantor Lapangan VECO Indonesia di Jakarta Purnama Adil Marata, advokasi VECO Indonesia melalui strategi lobi. “Kami ingin mendorong agar masyarakat sipil, termasuk mitra VECO Indonesia untuk terlibat dalam perumusan kebijakan,” kata Adil. Menurutnya, mempengaruhi kebijakan tidak hanya dilakukan dari luar tapi juga terlibat langsung di dalamnya.

Aliansi Petani Indonesia (API) dan Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan (KRKP) adalah  dua mitra VECO Indonesia yang fokus pada advokasi. API fokus pada pengorganisasian petani sedangkan KRKP pada kedaulatan pangan. Meski demikian, keduanya saling bersinergi dalam beberapa isu nasional yang difasilitasi oleh VECO Kantor Jakarta seperti penentuan harga pokok pembelian (HPP) beras dan ide Desa Mandiri Pangan Menuju Desa Sejahtera, dan lain-lain.

Untuk mendukung tercapainya tujuan advokasi, VECO Indonesia aktif melaksanakan beberapa strategi. Di antaranya adalah mediasi dan lobi kepada lembaga legislatif maupun dinas terkait, pendidikan kritis di tingkat komunitas terkait sustainable agriculture chain development (SACD), serta wawancara dengan media untuk mempengaruhi publik.

Pada isu kedaulatan pangan, misalnya, VECO Indonesia mendorong adanya DMPDS. Strategi ini merupakan kolaborasi antara pemerintah dan LSM untuk mewujudkan kedaulatan pangan. Ide ini sendiri merupakan tindak lanjut dari NTT Food Summit yang diadakan pada tahun 2008. Untuk itu VECO dan mitranya terlibat dalam perumusan model Desa Sejahtera bersama Pemerintah Provinsi Nusa Tengga Timur (NTT). Pada tahun 2009 lalu, model tersebut sudah selesai dibuat dan tinggal dilaksanakan di tiga desa yaitu di Kabupaten Timor Tengah Utara, Flores Timur, dan Sumba Timur.

VECO Indonesia mendorong agar para mitra lebih aktif membangun hubungan dengan media karena selama ini cenderung tidak diperhatikan. Melalui upaya ini, VECO Indonesia berusaha agar masing-masing mitra bisa menjadi nara sumber yang kredibel untuk isu-isu terkait pertanian. Dengan demikian akan lebih mudah untuk ikut serta memengaruhi kebijakan.

http://www.vecoindonesia.org/kabar-baru/85-mendorong-kekuatan-untuk-mempengaruhi-kebijakan.html