Rasa iri membawa manfaat bagi petani perempuan di Desa Wates, Kecamatan Simo, Boyolali. Mereka kini menjadi pengaman kedaulatan pangan desanya.

Semula, hanya ada kelompok tani laki-laki di desa penghasil beras merah varietas slegreng ini. Meski bukan hanya untuk petani laki-laki, kenyataannya kelompok ini didominasi bapak-bapak. Petani perempuan jadi merasa kurang bisa bersuara.

Maka, beberapa petani perempuan desa ini pun mendirikan Kelompok Tani Ngudi Makmur pada awal 2008, meski mereka sudah merencanakannya sejak pertengahan 2007. Kelompok tani ini khusus beranggotakan petani perempuan.

Tak berbeda jauh dengan kelompok petani lain, kegiatan Ngudi Makmur pun tak lepas dari usaha tani. Kegiatan seperti menanam, merawat tanaman, dan panen dilakukan bersama-sama oleh anggota. Namun, mereka tak hanya melulu bekerja sama terkait dengan pertanian.
Aris Solikah, Ketua Kelompok Tani Ngudi Makmur, mengatakan adanya kelompok tani untuk petani perempuan ini membuat anggotanya lebih bebas untuk mendiskusikan urusan lain di luar urusan bercocok tanam seperti pendidikan, kesejahteraan keluarga, dan kesehatan.

“Bagi kami, kelompok ini tempat di mana kami bisa membicarakan isu rumah tangga dengan saling terbuka,” kata Aris. Anggota kelompok juga terus bertambah. Saat ini ada 62 petani perempuan anggota kelompok dari semula hanya 30 orang.

Kelompok ini juga mengadakan penyuluhan tentang cara bertanam, membuat pupuk maupun pestisida alami, serta membentuk lumbung tani. Kegiatan terakhir itu bahkan menjadi salah satu kekuatan Kelompok Tani Ngudi Makmur. Melalui lumbung pangan, mereka berusaha mengamankan ketersediaan pangan sekaligus menciptakan sumber ekonomi bagi kelompok.

Lumbung pangan tersebut diisi gabah iuran dari anggota. Masing-masing anggota membayar 5 kg gabah kering tiap panen. Gabah kering ini bisa dipinjam oleh anggota yang butuh gabah atau uang. Tapi, jumlah gabah yang boleh dipijam dibatasi maksimal 25 kg. Nantinya, yang meminjam akan mengembalikan sebanyak 27,5 kg.

Selain urunan beras tiap selesai panen, anggota kelompok juga membayar iuran wajib Rp 2.000 tiap pertemuan satu bulan sekali dalam kalender Jawa. Ada juga sumbangan sukarela, rata-rata Rp 10.000 sampai Rp 20.000. Dari sumbangan-sumbangan ini, sekarang terkumpul uang kas Rp 560 ribu yang diputar sebagai modal.

Kegiatan lain kelompok ini adalah penjualan beras merah slegreng, yang khas Desa Wates . Pemasaran beras ini, antara lain ke Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), Koperasi Lembaga Studi Kemasyarakatan dan Bina Bakat (LSKBB), instansi pemerintah, perorangan, ataupun pemasaran khusus. “Kami dengar sih produk kami dipakai juga untuk bahan baku biskuit Sun. Tapi kami tahu dari pengepul, bukan dari sana langsung,” kata Eko Hidayati, anggota Ngudi Makmur yang juga Bendahara Asosiasi Petani Padi Organik Boyolali (APPOLI).

Adanya kelompok tani khusus perempuan ini membuat ibu-ibu bisa bekerja sama dengan bapak dalam pertanian. “Dulu kan sepertinya cuma bapak-bapak yang bisa bertani,” kata Hidayati. “Sekarang bapak dan ibu bisa saling membantu di sawah,” tambahnya.

Dampak lainnya, menurut Aris, adalah pada peningkatan pendapatan keluarga. Dulu petani sering gagal panen. “Setelah adanya kelompok ini kami bisa saling belajar sehingga panen bisa lebih banyak,” katanya. Pendapatan ini bisa meningkat karena saat ini petani perempuan juga bisa bercocok tanam pada musim tanam kedua dengan menanam tanaman umur, seperti jagung, singkong, kacang tanah, dan kedele.

Kemampuan petani perempuan, tentu saja dengan dukungan petani laki-laki juga di desa ini, mengelola lumbung pangan membuat Desa Wates terkenal. Mereka pun jadi tempat belajar tentang lumbung pangan. “Kami jadi bisa bertemu dengan banyak tamu dari luar negeri seperti Belgia, Amerika Serikat, Singapura, Afrika, dan lain-lain. Mereka ke sini untuk melihat lumbung pangan yang kami gunakan saat ini,” ujar Tuti Lestari Turnaningsih, anggota yang lain.

Kelompok Tani Perempuan Ngudi Makmur
Berdiri: awal 2008
Anggota: 62 orang
Alamat: Desa Wates, Kecamatan Simo, Kabupaten Boyolali

http://www.vecoindonesia.org/kabar-baru/95-petani-perempuan-mengamankan-ketersediaan-pangan.html