Hujan sudah mendera Jakarta sejak pagi hari (15/01/2013) dan terus berlangsung hingga sore dan malam hari. Volume hujan yang nyaris merata dan konstan tak pelak menyebabkan genangan air di berbagai tempat. Sungai Ciliwung yang menjadi salah satu tumpuan sanitasi kota pun tak lagi mampu menampung debit air yang terus melonjak. Hal ini diperparah oleh timbunan sampah yang masih banyak terkonsentrasi di beberapa titik menghambat laju air dan menjadikan sungai luber secara tak terkontrol. Salah satu tanggul di daerah Latuharhari bahkan jebol lantaran tak kuat lagi menahan serbuan air yang terus meningkat.

Sekretariat Nasional Aliansi Petani Indonesia (API) sebagaimana diketahui beralamat di Jl. Slamet Riyadi IV, berdampingan langsung dengan bibir sungai Ciliwung. Tak ayal lokasi ini pun tidak luput dari luapan sungai yang terus merangkak menjelang sore hari. Beberapa staf API yang berada di kantor berjibaku dengan kecepatan air yang mulai memasuki bagian dalam kantor. Berbagai perlengkapan elektronik, komputer dan dokumen-dokumen penting diangkut menuju lantai 2. Sementara buku-buku di perpustakaan serta berbagai dokumen pendukung masih di amankan di lantai bawah dan di letakkan di lokasi yang tidak terjangkau tinggi air. Sampai malam hari keadaan cukup stabil dengan ketinggian air sepinggang orang dewasa meski keadaan menjadi gelap gulita karena adanya pemadaman listrik. Rifai, Fadhil, Loji, Alim dan beberapa kawan dari FPPI bergantian berjaga mengantisipasi ‘serangan’ lanjutan mengingat beredarnya kabar naiknya debit di pintu air Katulampa, yang merupakan gerbang kiriman dari Bogor.

Keesokan harinya (16/01/2013) ketinggian air ‘hanya’ naik beberapa sentimeter saja. Seluruh aktifitas kantor masih lumpuh. Komunikasi terkait kinerja dan organisasi hanya berlangsung menggunakan jaringan selular. Loji dan Fadhil mencoba mencari informasi terkait banjir yang melanda saat itu dengan berbagai kemungkinannya. Beberapa posko (crisis center) sudah tampak berdiri, baik oleh partai maupun LSM. Warga mengevakuasi kelengkapan rumah tangganya di beberapa lokasi di sepanjang jalan Slamet Riyadi IV. Menjelang sore hari air surut. Seknas API pun mulai berbenah, segera membersihkan genangan air dan lumpur serta sampah yang ikut masuk terbawa arus.

“Serangan Fajar

Sampai sekitar pukul 19.00 WIB keadaan kantor sudah tampak bersih, meski niatan untuk menata kembali perlengkapan kantor harus diurungkan demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Malam harinya seluruh awak API yang tertinggal untuk sementara dapat beristirahat dengan cukup tenang. Namun di luar dugaan, sekitar pukul 4.00 dini hari terdengar teriakan bahwa air sudah naik lagi dengan kecepatan tinggi. Seluruh penghuni seknas saat itu kontan berhamburan menuju lantai bawah. Dan benar saja, air sudah sampai setinggi perut orang dewasa.

Serangan Fajar’ itu pun memaksa setiap orang di sana untuk kembali berjibaku sembari melawan dingin dan keruhnya luberan air Ciliwung itu. Berbagai benda sudah tampak terendam, termasuk sejumlah buku yang sengaja dikumpulkan jadi satu di atas dua meja rapat besar dan rak perpustakaan bagian atas. Batas toleransi air mengharuskan dilakukannya evakuasi total atas seluruh barang menuju lantai atas. Dari buku, dokumen hingga kulkas dan mesin cuci pun seluruhnya diangkut. Beberapa barang memang terlanjur terendam, termasuk salah satunya kamera digital inventaris API yang terletak di bagian atas locker, terkena genangan air.

Hingga pukul 7.00 wib air terus beranjak naik. Jaringan listrik masih mati total. Evakuasi warga sekitar Seknas menuju salah satu sekolah di daerah Kebon Manggis tampak makin sibuk. Sejumlah rumah di bantaran sungai sudah mulai tenggelam. Dari diskusi ringan membaca situasi yang semakin tak menent, beberapa staff API mengambil keputusan untuk mendirikan posko banjir dan menggalang bantuan untuk warga. Komunikasi dengan elemen seperti FPPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia) yang juga berkeinginan melakukan hal yang sama di daerah Matraman mempertemukan ide tersebut untuk menggalang posko bersama di pintu masuk Slamet Riyadi IV. Selanjutnya bergabung juga dalam barisan relawan ini kawan-kawan SOMASI (Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi – Universitas Nasional) dan Salud.

Rapat koordinasi penggalangan bantuan dilakukan malam itu juga. Kesepakatan pun di ambil. Setiap elemen akan menghubungi berbagai jaringan yang dimilikinya untuk mengumpulkan sumbangan. Selain melalui telepon, blasting twitter, blackberry messanger dan facebook pun digunakan untuk menginformasikan keberadaan posko ini ke khalayak umum. Savic Ali, mantan Ketua Umum FPPI yang juga salah satu pengelola portal berita NU Online, membantu mensosialisasikan kegiatan tersebut melalui jejaring luas yang dimilikinya. Program penggalangan ini pun merembet dengan cepat, dan satu persatu berbagai dukungan pun kemudian datang. Baik itu berupa makanan, obat-obatan, kelengkapan bayi, selimut hingga pakaian bekas. Beberapa staff API pun berbagi tugas. Sebagian mengawasi Seknas dan sebagian yang lain membantu berjaga di posko. Nina, bagian keuangan API pun selanjutnya ikut “ngantor” tiap hari membantu aktifitas posko. Sementara Mbak Ika tetap menjaga gawang komunikasi kelembagaan API, mengawal keluar masuknya email dan mengupdatenya ke seluruh staff hingga tak sampai ‘buta’ perkembangan kinerja organisasi.

Aktifitas crisis center “Posko Siaga Banjir” tersebut di luar dugaan menjadi sangat tinggi. Posko ini segera ‘dibanjiri’ berbagai barang yang mengalir dengan deras dari berbagai sumber. Tak lagi satu atau dua kardus barang bantuan, tapi satu hingga dua mobil box beberapa kali bongkar muatan. Panitia pun menyiapkan satu armada berupa mobil bak terbuka yang juga merupakan sumbangan dari salah seorang dermawan. Banyak di antara para penyumbang tersebut datang dari tempat-tempat yang cukup jauh dan mengaku mendapatkan informasi keberadaan posko ini dari twitter, termasuk dua orang mahasiswi UI yang mengaku secara khusus datang karena ingin bergabung menjadi relawan. “Saya mendengar keberadaan posko ini dari Twitter”, katanya. Hal yang sama diakui pula oleh seorang artis film dan sinetron, Risty Tagor, yang datang ke posko bersama beberapa orang rekannya dan menyumbang beberapa kardus berisi kelengkapan bayi dan makanan. Pesohor yang dikenal melalui film Pocong 2, Perempuan Berkalung Sorban dan beberapa sinetron seperti Safa dan Marwah serta kemilau Cinta Kamila itu, mengaku mengetahui berita keberadaan Posko ini juga dari jejaring sosial Twitter.

Bantuan yang terus datang ditabulasi secara rinci dan disiarkan melalui jejaring sosial untuk menjaga kepercayaan publik. Beberapa kali bantuan didistribusikan langsung pada warga sekitar berdasarkan kebutuhan-kebutuhan mereka. Meski sangat melelahkan, proses distribusi ini secara umum berlangsung cukup lancar. Warga dan jajaran aparat sangat mengapresiasi keberadaan posko ini sebagai bentuk kepekaan dan tanggap darurat atas lingkungan sekitar.

Bersih-Bersih Jilid II

Banjir sudah menyebar di berbagai tempat di Jakarta. Status Ibukota Siaga 1 pun sudah diumumkan dari istana negara beberapa waktu sebelumnya. Seknas API masih tergenang hingga 20/01/2012. Sore harinya air baru mulai surut. Selain melanjutkan beraktifitas di posko, beberapa awak API pun mulai membersihkan genangan air dan lumpur yang jauh lebih tinggi dari gelombang pertama. Peralatan seperti cangkul digunakan untuk mengeruk lumpur yang nyaris memenuhi setiap sudut ruang kantor. Meski akhirnya pekerjaan bersih-bersih tersebut selesai dilakukan, tapi berbagai benda yang menggunung di lantai atas masih belum berani di diturunkan menyusul peringatan dini BMKG yang memprediksi kecenderungan negatif yang masih memungkinkan terjadi.

Hingga 21/01/2013, Posko Siaga Banjir masih bertahan karena aliran bantuan yang masih juga belum berhenti. Setelah melakukan koordinasi seperlunya, dengan mempertimbangkan berbagai hal terkait normalisasi kantor, termasuk juga menghindari persepsi masyarakat yang kurang menguntungkan, akhirnya pada malam itu pula posko disepakati pindah ke daerah Matraman dengan ujung tombak pengelolaan oleh FPPI. Kesepakatan ini diambil setelah proses distribusi di daerah Slamet Riyadi IV dianggap sudah lebih dari cukup, dan barang dialihkan ke berbagai titik yang lebih membutuhkan di wilayah Jakarta seperti Penjaringan, Pluit dan sebagainya. Hingga berita ini diturunkan sejumlah titik telah disupplay dari posko ini, di antaranya meliputi Bidara Cina, Penjaringan, Grogol, Muara Baru, Pluit dll. Untuk Daerah Slamet Riyadi IV sendiri kegiatan ditutup dengan kegiatan recovery kesehatan pasca banjir yang difasilitasi posko API dengan kerjasama team medis sebuah program CSR. Terkait dengan kegiatan ini Seknas Aliansi Petani Indonesia (API) mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya atas segala bantuan dan partisipasi masyarakat Jakarta dalam ikut meringankan beban sesama. Secara khusus Seknas API juga appreciate dan angkat topi setinggi-tingginya bagi segala bantuan tenaga dan pikiran kawan-kawan FPPI, SOMASI dan SALUD: Savic Ali, Togar, Fany, Mukhlis, Wawan, Aryo Soltig, Arief, Ardian, Mita, Bomay, Adi serta semua kawan yang tak bisa kami sebutkan satu persatu. Trimakasih. Keep on spirit! []LOJI