Kamis, 10 Maret 2011

Gangguan cuaca sepanjang tahun 2010 membuat produksi komoditas pangan di sejumlah negara terganggu, termasuk Indonesia. Kelangkaan pangan memaksa pemerintah menerapkan kebijakan impor pangan. Beberapa di antaranya bahkan dibebaskan bea masuknya.

Pemerintah berargumen, pasokan pangan dalam negeri harus ditambah dengan mendatangkan dari negara lain. Tanpa itu, harga jual pangan akan terus naik. Selama bulan Februari harga beras nasional rata-rata mencapai titik tertinggi, yakni Rp 7.432 per kilogram. Harga cabai pernah menembus Rp 100.000 per kilogram. Kondisi serupa terjadi pada bawang merah, terigu, dan kedelai.

Fakta itu diperkuat sinyalemen Badan Pusat Statistik bahwa tahun 2011 dunia akan dilanda krisis pangan. Hal ini ditandai dengan cepatnya kenaikan harga beras hingga 30,9 persen.

Pemerintah menargetkan mengimpor beras 1,898 juta ton. Tahun ini, pemerintah juga mengimpor cabai sebanyak 15.000 ton, kedelai 1,7 juta ton, serta bawang merah dari Vietnam dan Thailand. Sepanjang Januari 2011, impor bawang merah sebanyak 17.250 ton, naik 264 persen dari 4.880 ton impor pada Desember 2010.

Setelah mengimpor pangan, harga pangan di dalam negeri turun. Harga beras rata-rata nasional awal Maret turun 2 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Harga kedelai yang sebelumnya Rp 7.000 per kilogram, turun ke level Rp 5.500 per kilogram.

Secara makro harga komoditas pangan memang kian stabil. Namun muncul persoalan baru, terutama jika harga impor pangan lebih murah dibanding dalam negeri. Belum lagi impor pangan ilegal. Bulan lalu bagian karantina Bandara Soekarno Hatta menggagalkan penyelundupan cabai dari Thailand dan Vietnam.

Jika pasokan pangan dari luar membanjiri pasar, dampaknya adalah nasib petani yang kian terpuruk. Berasnya tidak laku di pasaran.

Di Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, pemerintah setempat menyiapkan anggaran Rp 1 miliar untuk menyerap beras petani, yang harganya di bawah harga pokok pembelian pemerintah (HPP). Di pasaran, beras impor dijual lebih murah. Beras petani tak mampu bersaing. Padahal, mereka membutuhkan modal untuk tanam ulang, kata Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul Edy Suharyanto.

Di Brebes, yang dikenal sebagai sentra bawang merah, para petani menjerit karena harga bawang merah lokal merosot sejak bawang impor membanjiri pasar. Jika semula harganya Rp 22.000 per kilogram, sejak ada bawang impor dengan harga Rp 18.000 per kilogram, harga bawang lokal menjadi Rp 19.000 per kilogram.

Bagi Indonesia, kelangkaan pangan sering terjadi, bukan karena faktor cuaca semata. Sejak awal pemerintah memang tidak serius menggarap sektor pangan. Padahal, swasembada pangan sudah sering digembar-gemborkan.

Pemerintah selalu memilih cara instan dalam menyelesaikan masalah pangan. Padahal, importasi dan penghapusan bea masuk bertolak belakang dengan semangat swasembada. Alasan demi stabilitas harga pangan juga patut dipertanyakan karena dibangun dengan basis ketergantungan.

Bila terus dibiarkan hal itu akan menggerogoti kedaulatan pangan kita. Jadi, jangan sekadar mengejar stabilitas harga, tetapi perhatikan juga keadilan bagi petani, yang selama ini susah payah memproduksi pangan. (Eny Prihtyani)

http://cetak.kompas.com/read/2011/03/10/04341485/stabil.tetapi.juga.adil