Sabtu, 29 Januari 2011 | 04:39 WIB

Semarang, Kompas – Gubernur Jawa Tengah Bibit Waluyo menyatakan prihatin atas tipisnya stok beras di gudang Perum Badan Urusan Logistik Jateng, yang hanya 52.358 ton. Stok tidak bertambah karena pada panen musim rendeng ini Bulog tidak bisa membeli gabah atau beras petani.

Harga beras di pasaran saat ini cukup tinggi, mencapai Rp 6.400 per kilogram (kg). Sementara, harga pembelian pemerintah (HPP) hanya Rp 5.060 per kg.

”Sebagai Gubernur, saya sudah mengirim surat ke Kementerian Pertanian supaya HPP direvisi. Surat sudah dikirim sejak 19 Januari 2011, tetapi sampai kini belum ada balasan,” ujar Bibit di Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Jumat (28/1).

Dana pembelian beras, menurut dia, tersedia. ”Bulog tidak bisa membeli karena harga (pasaran) gabah dan beras di atas HPP. Karena belum ada pembelian gabah dari Bulog, banyak gabah dan beras hasil panen petani lari ke luar Jateng,” ujar Bibit.

Karena tak ada pembelian, gudang-gudang Bulog akhirnya kosong. Namun, beberapa di antaranya ternyata telah dimanfaatkan untuk penyimpanan beras impor asal Vietnam. Diperkirakan, lebih dari 11.000 ton beras impor telah masuk ke gudang Bulog saat ini.

Bibit juga menyayangkan hal tersebut. ”Daripada beras impor, lebih baik gudang Bulog diisi gabah hasil panen petani sendiri. Beras impor sebaiknya untuk menopang stok raskin (beras untuk masyarakat miskin) saja, bukan dijual kepada masyarakat,” ujarnya.

Menyinggung surat yang dikirimkannya ke Kementerian Pertanian, Bibit menjelaskan, isinya berupa usulan revisi HPP. Tujuannya, pemerintah pusat diharapkan bergerak cepat, mengingat Januari ini panen di Jateng diperkirakan menghasilkan gabah kering giling 698.994 ton. ”Jadi, Jateng akan punya stok dari penambahan hasil panen sekitar 163.955 ton,” katanya.

Tetapkan HPP

Senada dengan Bibit, di Sukoharjo, Jateng, petani dan pengusaha beras juga berharap pemerintah segera menentukan HPP baru. Dengan begitu, diharapkan harga gabah dan beras bisa dikendalikan, tidak anjlok.

Ketua Persatuan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras Indonesia Provinsi Jateng, Tulus Budiono, mengatakan, dengan dimulainya masa panen sekarang ini—meski belum merata—harga gabah di tingkat petani mulai menurun.

Ia mencontohkan, di wilayah eks Karesidenan Surakarta, harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani yang semula Rp 2.900, kini hanya Rp 2.500 per kg. Tahun 2010, HPP GKP di tingkat petani Rp 2.640 per kg.

”Biasanya, saat-saat seperti ini HPP sudah ditetapkan. Apa karena masuknya beras impor sehingga pemerintah belum menetapkan HPP. Petani berharap HPP tahun ini naik dibandingkan dengan tahun lalu,” kata Tulus nenambahkan. (who/eki)

(Sumber : http://regional.kompas.com/read/2011/01/29/04391813/Tetapkan.Harga.Beras)