Naiknya harga minyak dan komoditas menyebabkan efek negatif yang signifikan

Kamis, 27 Januari 2011, 09:48 WIB
Renne R.A Kawilarang

VIVAnews – Setelah dihantam resesi keuangan, dunia kini harus waspada menghadapi ancaman berikut, yaitu pesatnya kenaikan harga komoditas seperti minyak mentah dan bahan pangan. Situasi ini sudah menimbulkan gangguan di sejumlah negara.

Demikian peringatan dari sejumlah ekonom yang hadir dalam suatu diskusi panel di Forum Ekonomi Dunia di Davos, Swiss, Rabu 26 Januari 2011. Selain kalangan pakar, forum tahunan bergengsi itu selama beberapa hari juga menampilkan sejumlah pembicara, diantaranya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dari Indonesia.

Ekonom Amerika Serikat (AS), Nouriel Roubini, seperti dikutip stasiun berita CNN, mengatakan pesatnya kenaikan harga komoditas bisa menjadi sumber ketidakstabilan, tidak hanya di sektor ekonomi dan keuangan namun juga politik.

Contohnya sudah jelas, yaitu gangguan di sejumlah negara. “Apa yang telah terjadi di Tunisia dan yang tengah berlangsung di Mesir, serta juga di Maroko, Aljazair, dan Pakistan, tidak saja terkait dengan tingkat pengangguran yang tinggi dan ketimpangan pendapatan dan distribusi kemakmuran, namun juga akibat kenaikan tajam harga pangan dan komoditas lain,” kata Roubini.

Profesor dari Universitas New York itu juga mengingatkan bahwa resesi keuangan global pada 2008 lalu tidak saja ditandai dengan jatuhnya harga saham dan bangkrutnya bank investasi Lehman Brothers, namun juga tingginya harga minyak mentah dunia. Pada pertengahan 2008, harga minyak di bursa New York mencapai US$148 per barel.

Situasi itu menyebabkan dampak negatif bagi banyak masyarakat global, baik itu negara maju dan berkembang. “Naiknya harga minyak dan komoditas menyebabkan efek negatif yang signifikan atas tingkat pendapatan dan belanja di AS, Eropa, Jepang, China, dan India. Mereka semua merupakan importir komoditas,” kata Roubini.

Kini, di belahan dunia lain, krisis harga komoditas juga berpengaruh besar. Di Tunisia, Aljazair, dan Mesir, harga pangan melambung. Di Tunisia, misalnya, naiknya harga minyak goreng hingga 30 persen bisa memicu demonstrasi besar-besaran, yang menyebabkan tumbangnya rezim Presiden Zine El Abidine Ben Ali.

Sementara itu, ekonom Zhu Min dari China juga mengingatkan bahwa tingginya harga pangan bisa berpengaruh siginifikan bagi dua negara yang disebut-sebut sebagai raksasa Asia, yaitu India dan China.

“Harga pangan berpengaruh 47 persen atas indeks harga konsumen di India, sedangkan China 34 persen,” kata Zhu seperti dikutip harian The Wall Street Journal.

Dia menilai bahwa percepatan pemulihan ekonomi global belum berjalan maksimal. Ekonomi negara-negara maju tahun ini diperkirakan hanya tumbuh tidak jauh dari 2,5 persen, sedangkan pertumbuhan ekonomi negara berkembang rata-rata tidak sampai 7 persen, sedangkan AS paling bagus sekitar 3 persen.
VIVAnews