Senin, 13 Desember 2010 – 18:07 WIB

JAKARTA – Setiap negara mempunyai ketergantungan terhadap negara lain untuk memenuhi kebutuhan sumberdaya genetik (SDG) tanaman untuk pangan dan pertanian. Monopoli kepemilikan SDG dapat memicu persengketaan internasional. Karena itu, akses terhadap SDG perlu diatur secara multilateral.

Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian (Balitbang Kementan) Dr Haryono mengatakan, setelah melakukan pertemuan sebanyak 12 kali, FAO (Food and Agriculture Organization) melalui resolusi 3/2001 kemudian membentuk The International Treaty on Plant Genetic Resources for Food and Agriculture (ITPGRFA) atau Traktat Internasional Sumberdaya Genetik Tanaman untuk Pangan dan Pertanian (TI-SDGTPP).

”Sampai 2009, sebanyak 121 negara serta komunitas Eropa telah meratifikasi perjanjian tersebut. Seluruh negara anggota sudah berkomitmen untuk memasukkan SDGTPP ke dalam sistem multilateral dan para pihak dapat mengakses sistem tersebut,” jelasnya saat didampingi Dr Shakeel Bhatti, sekretaris ITPGRFA FAO dan Dr Karden Mulya, Kepala Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan SDG Pertanian di Gedung Balitbang Pertanian, Jakarta, Senin (13/12/2010).

Haryono mengatakan, ITPGRFA sudah tiga kali menggelar sidang. Pertama di Spanyol, disusul Roma dan Tunisia. Nah untuk sidang keempat, Indonesia diberikan kepercayaan sebagai tuan rumah.

”Sidang ini nantinya akan diadakan di Bali antara 14-18 Maret 2011. Diperkirakan 600 peserta dari 150 negara akan hadir. Sebelum digelar sidang keempat terlebih didahului dengan Ministerial Conference on Food Security and Climate Change pada 11 Maret 2011,” ujarnya.

Dalam sidang keempat nanti, kata Haryono, Indonesia akan menunjukkan keberhasilan-keberhasilan pertanian dalam negeri kepada negara peserta. ”Kita juga akan berbicara SDG, teknologi, dan kerjasama,” katanya.

SDG, lanjut Haryono, sangat diperlukan sebagai bahan dasar perakitan varietas yang mampu beradaptasi dengan perubahan iklim. ”Indonesia sendiri sebenarnya terkaya kedua biodiversity SDG setelah Brazil. Karena itu, perlu dimanfaatkan seoptimal mungkin,” tandasnya.

Sejauh ini, menurut Haryono, dalam lima tahun terakhir pihaknya sudah meluncurkan 31 varietas unggul. Varietas itu dibagi menjadi tiga besar di antaranya irigasi dengan nama Impari, kemudian yang terkait dengan rawa, yakni Impara, dan lahan kering disebut Impago. ”Untuk Impari ada 13 varietas, termasuk Impari-13 yang tahan hama wereng,” ungkapnya.

Sementara itu, Dr Shakeel Bhatti mengatakan, meski Indonesia baru menjadi anggota ITPGRFA, tapi bangsa ini sudah menunjukkan keseriusan dan komitmen yang tinggi dalam memanfaatkan SDG. ”Karenanya, Indonesia dipercaya sebagai tuan rumah ITPGRFA,” katanya.(Sudarsono/Koran SI/ade)

(Sumber : http://economy.okezone.com/index.php/ReadStory/2010/12/13/320/402960/indonesia-fasilitasi-internasional-sdg)