Oleh. Iksan HB

Dibanyak negara yang mempunyai kaitan kesejarahan gerakan petani, tidak jauh dari keterlibatan negara dalam keterpenjaraan petani dan juga sebagian kecil kemerdekaan petani didapat dari kekuasaan. Petani Jepang yang masih menyisahkan ketersinggungannya dengan kebijakan Amerika yang dianggap merugikan mereka, kini produktifitas petani Jepang menjadi sangat akomodatif, berbeda dengan diwilayah utara Amerika seperti petani Meksiko, sebagian besar mereka menolak perdagangan bebas dalam organisasi NAFTA karena dinilai sangat merugikan petani. AFTA yang juga mempunyai peran besar terhadap pergeseran nilai ekonomi kita, sangat merugikan secara mendasar, sebagaimana juga dialami oleh petani negara-negara lain yang dirugukan oleh kebijakan pemerintahannya dengan hanya untuk mendapat simpati dan pengakuan negara-negara yang mengaku dirinya negara maju.

Kolonialisasi dengan menggunakan alat organisasi internasional seperti IMF, WTO, AFTA dan NAFTA dan lain sebagainya, dengan sadar bahwa Petani Indonesia harus diselamatkan karena kita telah lama mengalami trauma kolonialisasi, apa yang kita kenal dengan sebutan colonialisasi didasari oleh keinginan untuk menguasai rempah-rempah yang dimiliki bangsa ini. Rakyat Indonesia dalam mempertahankan tanah airnya bukan karena disuruh bangsa lain melainkan karena merebut tanah air dan kemerdekan bangsa Indonesia. Apakah kolonialisasi masih memboncengi kebijakan pemerintah kita? Rempah-rempah kita seharusnya menjadi modal besar kita untuk membangun negara yang makmur, adil dan sentosa.

Kebanggaan kita sebagai rakyat Indonesia jangan lagi digunakan oleh pemerintah untuk bermain dengan spikulan internasional. Apa yang terjadi ketidak pastian ekonomi global atau krisis ekonomi global karena kebijakan ekonomi kapitalis yang bayak dianut oleh negara seperti Amerika dan eropa dianggap gagal oleh banyak pengamat ekonomi. Kenapa Cina yang menjalankan sistem perekonomiannya dalam negeri menganut system ekonomi sosialis mampu bertahan, bahkan diuntungkan karena produk-produknya lebih murah dibandingkan negara-negara maju? Karena Cina dalam memainkan peran sangat cerdas, dimana kebijakan ekonomi nasional disesuaikan dengan strategi politik internasional dan peranstrategis perdagangan internasional dibaca untuk meningkatkan pasokannnya kenegara-negara yang tergantung produk luar negeri.

Diketahuinya Cina pintar bermain peran diplomasinya dan menunjukkan bahwa kewibawaannya terlihat dari China dalam melempar bola panas, tahun lalu meskipun secara bilateral sangat dekat dengan kebijakan Bush. Bola panas dari arah Asia itu ditanggapi serius oleh AS sebagaimana sikap China mengkritik Amerika dalam skandal kredit perumahan (mortgage) yang menyeret dunia ke dalam krisis. World Trade Organization (WTO) yang dianggap organisasi yang kuat telah menjadi sentiment negara-negara seperti Cina, dengan suara kerasnya Cina mengecam Amerika karena tak bisa menahan kemerosotan nilai dollar yang memacu kenaikan harga minyak dan pangan dunia. Meskipun sekarang harga minnyak sudah turun tapi tidak bisa membantu pemulihan ekonomi dunia.

Asia yang masih lumayan stabil tentu bukan berarti aman dari serangan dan merosotnya jalur perdaganagan internasional termasuk dampak krisis yang masih terjadi di Amerika. Kalau kita mau mengatakan Amerika dalam menangani ekonominya dengan kebijakan kapitalisme laissez-faire dan Amerika dalam skandal kredit perumahan (mortgage) yang menyeret dunia ke dalam krisis

Obama dalam kampanyenya selalu mengakomudir suara kelompok kerja sosialis, meskipun tidak bisa kita baca secara gamblang, akan tetapi pernyataan Obama yang mencoba masuk kewilayah strategis dan ideologis itu, seperti ketidak setujuannya terhadap adanya NAFTA dimana banyak petani lokal telah dirugikan oleh organisasi NAFTA ini. Meskipun pada akhirnya mendapat reaksi keras oleh kawannya sendiri Hillary Rodham Clinton karena pernyataan Obama tersebut dinilai menyinggung kebijakan NAFTA merupakan kebijakan suaminya ketika menjadi presiden USA dan diteruskan oleh Bush.

Krisis ekonomi global saat ini banyak di ilhami oleh peran kolektif system ekonomi kapitalisme, meskipun itu masih debatable. Tudingan itu sangat merugikan partai-partai yang mendukung “free market” seperti partai Republik yang harus kehilangan kepercayaannya dan harus kehilangan posisinya sebagai penguasa. Peralihan yang dianggap revolusioner ini harus berakhir dengan peralihan kekuasaan dari Pemerintahan Bush dari partai republic ke Pemerintah baru Presiden Barack Obama dari partai demokrat. Kemenangan Obama mendapat sambutan yang luar biasa, seperti ucapan selamat dari seorang tokoh Jim Lehrer “congratulation socialist”.
Obama melihat kebijakan Bush yang memberi ruang cukup besar dalam perdagangan bebas menjadi pintu masuk dalam membuka tabir hubungan Cina dan Amerika dalam perdagangan internasional. Kenapa Cina lebih senang terhadap kebijakan Bush karena kebijakan ekonomi yang menggunakan system free market sebagaimana tradisi Partai Republik sangat menguntungkan Cina. Obama sekarang mencoba untuk membangkitkan Industri dalam negeri dengan mengajukan dana stimulus yang nilainya trilyunan rupiah menjadi pertanyaan besar bahkan secara ekstrim ditolak oleh anggota konggres dari Partai Republik. Mampukah Pemerintahan Obama membangkitkan ekonomi Amerika dengan melakukan perpaduan antara system kapitalis dan sitem ekonomi sosialis.

Kecurigaan Amerika terhadap pertumbuhan ekonomi Cina bukan hanya pada masalah ekspor impor akan tetapi kualitas produk dan masalah tranparansi kekuatan militer juga mendapat perhatian serius. Kembali lagi apa yang saya katakan meskipun Cina menganut system komunis dalam aturan main nasional akan tetapi mereka sangat setuju dan diuntungkan ekonominya oleh negara-negara yang menggunakan system ekonominya kapitalis.
-*-
Petani Indonesia yang merupakan kekuatan riel dalam menjaga keseimbangan ekonomi nasional, yang didalamnya terdapat keanekaragaman hayati dan genetika belum menjadi perhatian bagi pebikin kebijakan. Kenapa kemudian ketika anggaran belanja negara dan hitungan politik masih ada disekitar Jakarta? Bukankah bermain politik untuk membayar suatu tujuan proyek tertentu akan membahayakan arah kebijakan yang lebih tepat? Begitu menjadi focus pemerintah tidak lagi transparan dalam memperkuat ekonomi nasional maka akan muncul ketidak puasan terhadap pemerintah. Proses panjang yang tidak kunjung tiba, persis sebagaimana dialami sebagian besar bangsa ini khususnya para petani kita.

Kolonialisasi yang menjadi sejarah hitam bangsa Indonesia, setidaknya masih membekas dalam prilaku kehidupan bernegara. Kalaupun pilihan atas sumberkehidupan terdapat di salah satu daerah dimana ada potensi besar, adakah transisi yang jujur dari setiap proses pergantian kekuasaan? Paradox kolonial masih mudah diingat dan perlu dikaji tentang relasi kolonial dan negara bangsa yang merdeka, kalaupun itu bermain untuk membayar play to pay , tapi prilaku kekuasaan yang mengikat dalam explorasi tanah dan sumberdaya manusia setelah peraliahan kekuasaan terus merugikan petani.

Masa transisi kekuasaan yang mengorbankan banyak sumber daya alam kita karena paradigma pembangunan yang dianut oleh kedua Rezim baik Rezim Orde lama sampai pada Rezim Soeharto adalah terlalu terpengaruh oleh tekanan internasional . Pradigma yang ditekankan pada pertumbuhan ekonomi dengan ketrgantungan investasi modal asing, dengan harapan mampu mendatangkan devisa negara . Modernisasi dengan invasi ekonomi lewat pintu industri yang dikembangkan tidak berbasis pada sektor pertanian, dimana sektor pertanian merupakan bagian terbesar aktifitas perekonomian rakyat. Indusri yang tidak populer dimasyarakat kita ini seakan dipaksakan perubahan paradigma oleh Orde Baru yang pada akhirnya akses dan aset secara nasional hanya dimiliki oleh segelintir orang, yaitu para penguasa, pengusaha dan tokoh masyarakat sebagai mitra penguasa.

Jatuhnya sebuah institusi negara dalam menerapkan suatu peraturan, jika keterputusan komunikasi atau akses rakyat secara institusi dengan kultur masyarakat petani terus berlangsung. Keterbatasan komunikasi secara institusi dimana negara dalam hal ini yang bertanggung jawab dalam mengelola sumberdaya petani, tidak melakukan proses politik secara parallel dan cenderung berlawanan dengan realitas system yang dimiliki petani sebagai organ penting dalam perjuangan hidup.

Ada beberapa kasus perlawanan untuk mempertahankan haknya atas perampasan kepemilikan yang dilakukan oleh negara dan pengusaha, seperti pendekatan militeristik,manipulai dan politik masih digunakan dalam penyelesaian sengketa, kenyataan ini yang kita sebut “kolonialisasi terselubung”. Kolonialisasi yang tersisa karena mereka menggunakan situasi, legalisasi dan tindakan politik dengan memanfaatkan kekuasaannya dengan berbagai macam pendekatan kolonial-Orde Baru.

Opini saya, tanah yang berarti bagian aturan kolonial pemerintah yang digunakan untuk kepentingan pemerintah kolonial, petani lokal yang mempunyai basis sumberdaya alam tidak secara gratis mereka mengelolah tanahnya sendiri akan tetapi ada ekstrak pajak petani yang diberikan kepada negara dan saku pejabat ilegal dengan aturan yang tidak transparan. Adakah kolonial itu diberbagai daerah dimana petani harus membayat sewa tanpa ada pertanggung jawabannya masih harus dipertahankan? Cacat politik dengan logika kolonial sangat bias karena mereka menggunakan jargon reformasi dan demokratsi sebagai tamengnya. Tulisan ini kiranya melihat kolonial sebagai pernyataan kepemilikan tanah yang diklaim untuk mencerminkan sisitem aturan prakolonial dalam masyarakat moderen, namun sebagai gantinya bias kolonial pada saat ini, secara fundamental pemerintah salah dalam menggambarkan petani.
Kita sering akali terjebak pada argument yang tidak sesuai dengan realitas dibawah, kadangkala dalam mempertahankan gagasan sebagai negara bangsa terganjal pada paradoks inti kolonial negara yang berlangsung saat ini. Tulisan ini membantu atau tidak nya tergantung pada penjelasan masalah-masalah domestic kontemporer dan negara-negara lain. Kalau kita hanya focus pada sumber-sumber informasi atas pertarungan negara pengekspor akan tetapi tidak diimbangi dengan kajian menyeluruh realitas bangsa ini, maka rumusan final tidak cukup untuk mengukur pertumbuhan. Kalau kita baca artikel dalam tulisannya Neneng Herbawati di Bisnis Indonesia Kamis, 05/02/2009 yang mana Dampak dari resesi global tidak akan terlalu terasa di tiga negara yaitu China, India dan Indonesia karena jumlah penduduk dan pasar domestik yang kuat. Fauzi Ichsan, Senior Economist & Head of Government Relation/Global Research Standard Chartered Bank, mengatakan populasi penduduk yang dan pasar domestik yang besar akan menguntungkan di tengah krisis global. Indonesia, katanya, akan merasakan dampak yang paling terakhir.

Dari analisa Fauzi ini tidaklah hal yang istimewa karena berlawanan dengan harapan dan kenyataan, data dan fakta tidak cukup untuk menjadi indicator pertumbuhan ekonomi Indonesia. Masyarakat kita khususnya petani sudah cukup biasa mengalami krisis global apalagi sebagian besar petani kita sudah sejak jaman kolonial sampai sekarang tidak mempunyai ukuran pendapatan yang pasti dan tidak ada perubahan kesejahteraan.

Petani kita tidak secara langsung menyatakan bahwa rezim Orde Baru dan kapitalisme telah gagal, penilaian itu bisanya datang dari kelompok kritis terhadap kebijakan-kebijakan. Paling tidak prilaku yang bisa dirasakan tapi susah untuk dikatakan, barang kali langkah-langkah organisasi tani yang tumbuh kuat sekarang ini bisa membantu mereka berbagi cerita (share story) tentang sejarah organisasi tani. Potret filosofis dan praktek kapitalis dan sosialis akan lebih baik jika digunakan hanya sebagai sumber pengayaan wacanadan memperkaya pengalaman untuk memperkuat jatidiri organisasi tani kita. Lebih dari itu keseimbangan pangan dunia tidak lagi mengacu pada teori dan praktek kebijakan negara-negara yang mengklaim dirinya negara maju, organisasi tani Indonesia yang mempunya basis pematangan dari gerakan kampus akan lebih mempunyai arti yang lebih mandiri sebagai organisasi tani Indonesia dari pada organisasi yang dibentuk oleh kepentingan global dan kepentingan kekuasaan.

Meskipun aksi damai, halal, baru, dan masuk akal di kampanyekan oleh kelompok-kelompok gerakan, akan tetapi yang perlu diperhatikan pembelotan jargon sosialisme digunakan mengubur petani kita dengan pendekotomian aliran. Apa yang dikembangkan oleh organisasi petani dibawah Aliansi Petani Indonesia akan semakin menunjukkan kekuatan petani kita, mempunyai cara sendiri untuk membuat sebuah system, dimana semua sumber daya alam,sumber daya manusia, alat produksi, transportasi, basis kultur, organ imajinasi dan komunikasi listas structural menjadi kekuatan petani Indonesia. Kebijakan paradoxs yang ditempatkan dua sisi saling menguntungkan bukan untuk bagi-bagi kekuasaan akan tetapi untuk keseimbangan ketahan pangan nasional,yang merupakan modal besar untuk meningkatkan perekonomian nasional.

Ada beberapa pendekatan lama yang masih digunakan dalam pengambil alihan kepemilikan tanah atau kita sebut penggusura yang, di dalam Studi Kasus Gerakan Petani Era 1980-an yang di terbitkan pada Edisi Juli – Agustus 1999 oleh Nanang Hari S., Peneliti Yayasan Bina Desa tentang gerakan Petani dan tumbuhnya Organisasi Tani Indonesia ada enam macam strategi dan pendekatan untuk menggusur rakyat2;

1. Pendekatan legal formal (formal administratif): Tanah-tanah yang dikuasai petani umumnya tidak memiliki kelengkapan surat menyurat sebagai bukti kepemilikan, sehingga tanah-tanah tersebut gampang dianggap sebagai tanah negara.

2. Pendekatan kepada tokoh masyarakat: Upaya penggusuran tanah-tanah petani dilakukan dengan cara pendekatan secara “khusus” kepada tokoh-tokoh masyarakat, seperti ketua adat, tokoh agama, tokoh-tokoh formal desa, dan sebagainya, tanpa sepengetahuan rakyat setempat. Biasanya, apabila tokoh-tokoh tersebut sudah ditaklukan, proses penggusuran terhadap rakyat akan sangat mudah. Dalam studi kasus ini tercatat bahwa pendekatan pada tokoh-tokoh ini agaknya berjalan efektif.

3. Pendekatan politik pecah-belah: Politik pecah-belah bukan hanya monopoli penguasa kolonialis yang sangat terkenal dengan politik devide et impera-nya, tetapi juga dipergunakan oleh penguasa Orde Baru untuk menggusur tanah-tanah milik petani. Masyarakat atau petani pemilik tanah diadu-domba dengan sesamanya, misalnya dengan mengadakan pendekatan-pendekatan tertentu kepada kelompok-kelompok masyarakat yang berbeda kepentingan.
4. Pendekatan manipulasi, pemalsuan dan diskriminasi: Proses manipulatif yang sering dipergunakan untuk menggusur tanah-tanah rakyat atau petani, misalnya dengan menerbitkan akta/sertifikat atas nama atau suku tertentu yang menyetujui adanya penggusuran.

5. Pendekatan isolasi wilayah dan akses: Secara geografis biasanya tanah-tanah petani yang akan digusur diisolasi, misalnya, dengan cara menutup jalan menuju lokasi. Sehingga secara geografis wilayah tersebut sulit ditembus, yang mengakibatkan akses masyarakat atau petani ke dunia luar terputus.

6. Pendekatan dengan menggunakan cap buruk atau stigma-stigma: Cara ini dialamatkan kepada masyarakat yang tanahnya akan digusur. Misalnya, masyarakat yang menolak penggusuran dianggap pengikut aliran sesat, pengacau keamanan, anti pembangunan. Orang yang anti pembangunan dianggap anti Pancasila, dan itu berarti orang tersebut dianggap PKI. Cap buruk lainnya misalnya, penyerobot tanah negara, penghuni liar, dan sebagainya. Rakyat atau petani yang diberi stigma-stigma seperti itu akan merasa ketakutan, dan dengan begitu penggusuran akan lebih mudah dilakukan.

Dalam tulisan studi kasus ini, memperkuat dugaan kita dimana pendekatan lama dalam penggusuran tanah masih terjadi saat ini. Sekalipun ada perbedaan situasi rezimentasi namun tindakan militeristik dan propaganda masih sama. Perubahan system politik melalui jalan gerakan reformasi, tidak ada fakta yang cukup bahwa perubahan politik dan kekuasaan telah berdampak positif dan berpihak pada petani.
**
Munculnya organisasi tani Indonesia, pada akhir tahun 1970-an -1980-an telah mengalami perubahan secara alamiah. Meskipun tidak ada dikotomi secara jelas akan tetapi keterlibatan tokoh-tokoh gerakan dalam keikutsertaan dalam pendampingan-pengorganisiran dan legal advokasi ada dalam sejarah tumbuhnya organisasi tani. Pada tahun 1990-an kelas menengah yang terlibat secara langsung datang dari gerakan Mahasiswa seperti Forum Komunikasi Mahasiswa Malang (FKMM), SD Impres Jember, Forum Komunikasi Mahasiswa Surabaya (FKMS) dan diberbagai daerah lainnya membuktikan bahwa betapa besarnya peran mereka dalm memperkuat sumberdaya petani dan mengorganisir petani untuk kepentingan ketahanan pangan Nasional.

Pengalaman besar yang dilakukan aktivis mahasiswa dan petani dalam menerapkan model pendampingan dan pengorganisasian, untuk mencari pilihan gerakan yang ideal dalam menumbuhkan dan mengembangkan organisasi tani sangat penting. Sebagaimana kita ketahui organisasi tani sebagai alat bargaining terhadap negara untuk mendapatkan hak-haknya telah teruji dalam setiap pergantian kekuasaan. organisasi tani ini yang tumbuh sat ini seperti Aliansi Petani Indonesia (API) , paling tidak, terdapat beberapa model pendekatan yang merupakan sebuah konsep organisasi cultural yang dimodifikasi secara formal berstruktur, sebagaimana layaknya organisasi modern abad ini. Meskipun keaslian tidak bergeser dari hakekat perjuangan tani karena gerakan ini mampu membangun aliansi dengan negara-negara lain, akan tetapi model yang dibangun masih tetap memperkuat substansi model pendampingan ,yang dibangun ketika masih dibarisan aktivis mahasiswa untuk advokasi tani. Model-model pendampingan dan pengorganisiran itu kita bisa lihat dengan pola pendekatan yang antaralain:
Pertama, pendekatan ilmiah dengan memperkuat analisa sosial (ANSOS) bagi pendaping, study kasus untuk memperkuat basic comparative history disetiap wilayah kasus dan memperkuat basic advoksi (litigasi atau nonlitigasi).

Kedua , pendekatan emosional sebagaimana hidup bersama, berbagi nilai (Share Value) dan pengkajian secara sektoral dengan menggunakan isu-isu ekonomi dan kekuasaan sebagai pintu masuk. Belajar bersama sebagai perekat dalam mengadakan kegiatan yang sifatnya produktif, kegiatan-kegiatan yang bersifat ekonomis adalah salah satu pendekatan strategis dalam memperkuat basis ekonomi petani. Lebih dalam tentang hal ini pengorganisiran yang secara langsung dirasakan oleh petani menambah organisasi tani semakin kuat.

Ketiga, pendekatan aksi kemanusiaan (humanitarian action) kasus-kasus yang langsung dialami oleh petani, dimana sebagai point penting dalam pengorganisasian kasus-kasus aktual seperti penggusuran, manipulasi, pemalsuan dan diskriminasi.

Keempat, pendekatan informasi dengan membuka ruang akses internet,pengenalan akses telekomunikasi dan system jaringan modern. Pendekatan ini masih sangat tergolong baru yang dikembangkan organisasi petani dalam membangun ruang akses untuk kepentingan penguatan dari dalam dan mempermudah dalam membangun aliansi pihak luar untuk menhetahui secara seimbang tentang informasi petani.

Atas dasar kajian kasuistik dan organisasi diatas, kita sebagai rakyat Indonesia semakin bangga dan percaya diri. Bahwa mimpi rakyat Indonesia untuk mendapatkan kesejahteraan dan kemerdekaan semakin nyata. Dengan tumbuhnya organisasi tani Indonesia pada saat ini menunjukkan begitu besarnya peran aktivis tani dalam mewujudkan mimpi besar kekuatan ekonomi nasioanal sebagaimana pahlawan tanpa jasa kita “Petani kita bukan petani sosialis bukan petani kapitalis tapi petani rakyat Indonesia”.

Dengan rendah hati dan semangat kami, saya ucapkan selamat dan sukses atas diselenggarakannya Musyawarah Nasional (MUNAS) Aliansi Petani Indonesia (API) ke-III pada tanggal 9 sampai dengan 13 Februari 2009.