Rabu, 2 Maret 2011 – 08:51 wib
JAKARTA – Stok beras di Bulog saat ini dinilai jauh berada di bawah level aman. Menurut pendiri Indef Bustanul Arifin, pihaknya memperoleh data bahwa stok beras per Februari 2011 yang ada di Bulog hanya mencapai 909.636 ton. Menurut dia, stok beras sebanyak itu tidak cukup aman untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. 

“Ini di bawah level aman karena seharusnya antara 1,5–2 juta ton,” ungkap Bustanul dalam diskusi bertajuk ”Ketahanan Pangan dan Kegagalan Negara” di Jakarta.

Kondisi ini cukup mengkhawatirkan lantaran tingkat produksi pangan, khususnya beras tidak mengalami peningkatan.

Direktur Eksekutif Indef Ahmad Erani Yustika menambahkan, data mengenai kondisi pangan yang dirilis pemerintah masih simpang siur. Sebab, klaim surplus beras yang disebutkan Kementerian Pertanian (Kementan) dengan yang dilansir oleh Badan Pusat Statistik (BPS) jauh berbeda.

Kementan menyebutkan, surplus beras 2010 mencapai lima juta ton namun BPS menyebutkan hanya dua juta ton. Sementara dari evaluasi Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, target produksi beras selama 2010 yang dipatok 66,68 juta ton, hanya terealisasi 66,41 juta ton.

BPS menegaskan akan terjadi peningkatan produksi padi sebesar 1,35 persen pada angka ramalan (aram I) 2011 dengan perkiraan peningkatan 67,31 juta ton. Namun, surplus beras tidak menjamin stok per bulan aman,karena itu diperlukan manajemen stok yang baik. Kepala BPS Rusman Heriawan memastikan, produksi padi pada 2010 sebesar 66,41 juta ton gabah kering giling (GKG). Meningkat 2,01 juta ton (3,13 persen) dibandingkan tahun sebelumnya. Sedangkan pada aram I 2011,produksi padi sebesar 67,31 juta ton GKG,meningkat 895.860 ton (1,35 persen) jika dibandingkan pada 2010.

Jika dihitung dengan jumlah penduduk pada 2011 sebesar 241,1 juta jiwa dengan konsumsi 139,15 kilogram per kapita per tahun, akan ada kebutuhan beras sebesar 33,5 juta ton beras.”Sebanyak 33,5 juta ton itu yang harus disiapkan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan penduduk,” kata dia di Jakarta.

Menurut Rusman, surplus beras rata-rata terjadi pada akhir tahun. Untuk itu, menurut Rusman, diperlukan manajemen stok beras agar surplus bisa dinikmati setiap bulan sepanjang tahun. ”Ketika tidak ada panen raya, tentu akan ada kekurangan beras karena ada masa-masa paceklik,” terang Rusman.

Ditambahkan Rusman, perkiraan kenaikan produksi pada 2011 yang relatif besar terdapat di Provinsi Jawa Tengah, Nusa Tenggara Barat,Sumatera Selatan,Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Selatan. Sedangkan perkiraan penurunan produksi terjadi di daerah Jawa Barat dan Kalimantan Tengah.

Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Undoro Kasih Anggoro dalam kesempatan yang sama juga mendukung agar manajemen stok beras harus diperbaiki.Menurut dia,saat terjadi panen raya, Indonesia mengalami surplus beras yang besar. Namun, ketika datang musim paceklik terpaksa harus menjadi importir beras. Padahal jika dihitung di akhir tahun, selalu terjadi surplus beras.

”Yang jelas sekarang kita surplus beras. Kalau soal impor, bukan kita yang memutuskan. Penting sekali bagaimana manajemen stok diperbaiki,” katanya. (bernadette lilia nova/ wisnoe moerti)(Koran SI/Koran SI/wdi)

http://economy.okezone.com/read/2011/03/02/320/430398/320/stok-beras-di-bawah-level-aman