Jum’at, 07 Maret 2011

Purwakarta, Kompas – Redupnya industri teh rakyat di Purwakarta, Jawa Barat, mendorong para petani teh beralih ke komoditas kapulaga karena lebih jelas pasar dan harganya. Luas lahan yang ditanami tanaman obat itu kini diperkirakan telah mencapai ratusan hektar.

Kapulaga (Amomum cardamomum) terlihat ditanam di antara tanaman teh atau bekas kebun teh di sentra teh rakyat Kecamatan Wanayasa, Bojong, Kiarapede, dan Darangdan. Pilihan itu dilakukan karena petani teh terus merugi beberapa tahun terakhir, karena harga pucuk daun teh lebih rendah dari ongkos produksinya. Saat ini harganya Rp 1.150 per kg, sedangkan ongkos produksinya Rp 1.700 per kg.

Pandi (40), petani penggarap di Desa Linggasari, Kecamatan Darangdan, Minggu (6/3), mengatakan, kapulaga menjadi idola baru karena banyak pengepul siap menampung, baik biji basah maupun biji kering. Di Darangdan, harga biji kapulaga basah berkisar Rp 3.500-Rp 4.000 per kg dan kering Rp 70.000 per kg.

Selain itu, perawatan kapulaga terbilang gampang. Umumnya petani tidak memupuk atau menyemprot kapulaga. Mereka mulai memetik biji sejak usia tanaman tiga bulan, dan tanaman milik beberapa petani di kawasan itu kini telah 1-2 tahun.

Ade Sugema (48), Ketua Kelompok Tani Wargi Mukti di Desa Babakan, Kecamatan Wanayasa, menambahkan, alih fungsi kebun teh dengan tanaman yang lebih menguntungkan semakin meluas. Namun, harga biji kapulaga fluktuatif. Dua tahun lalu, biji kapulaga basah di Wanayasa masih Rp 7.000 per kg. Setelah itu harga turun jadi Rp 3.500 per kg seiring meluasnya area tanam, serta meningkatnya produksi dari kebun rakyat.

Diversifikasi terbukti menyelamatkan petani dari kerugian, seperti saat puluhan ribu pohon manggis dan cengkeh tak berbuah akibat anomali cuaca tahun lalu. ”Meski tak sebesar pendapatan dari cengkeh dan manggis yang mencapai jutaan hingga belasan juta rupiah, petani punya alternatif pemasukan dari menjual kapulaga,” kata Ade. (mkn)

http://cetak.kompas.com/read/2011/03/07/0445265/tanaman.kapulaga.idola.baru